Wajah Baru Devide et Impera


Jumat, 24 April 2015 - 20:27:40 WIB
Wajah Baru Devide et Impera

Terus menerus perpecahan diasuh hingga ke kelompok terkecil parpol. Satu kelom­pok diibaratkan dengan air dan yang lain sebagai minyak. Cara apapun tidak berhasil me­nya­tukan kedua kubu yang sedang bertikai.

Baca Juga : Antisipasi Arus Balik Lebaran, Polda Metro Siapkan 12 Titik Pos Pemeriksaan

PPP dan Golkar harus dii­ngat­kan akan pembonsaian partai masing-masing. Tidak ba­nyak yang menyadari bahwa kejadian perpecahan di tubuh parpol secara berulang-ulang bisa menjadi bahagian politik pecah belah oleh pihak yang berkepentingan. Belum ada sejarahnya, parpol induk dan anakan bisa sama-sama besar. Tapi bisa dipastikan, parpol akan bertambah dijagat per­politikan Indonesia.

Pendiri partai dan sesepuh ideologis pemersatu harus sege­ra turun tangan me­nye­lesaikan masalah an­tar­ke­lompok berkepentingan. Me­reka seakan-akan melupakan nasehat Napoleon Bonaparte “apa­bila orang tidak me­mim­pin diri sendiri maka tak dapat pulalah ia memimpin orang lain”. Mereka yang mengaku memiliki hak atas partai adalah mainan devide et impera yang empuk dan mangsa jelas.

Baca Juga : Satu Korban Luka Kebakaran Pertamina Balongan Meninggal, Total Jadi Empat Orang

Siapakah yang bermain politik devide et impera? Dan apa keuntungannya ? serta apa kerugian perpecahan parpol ?

Perjalanan kisruh antar­partai jika dilihat secara sek­sama berawal dari niatan me­rebut kursi ketua parpol. Kalau me­reka memang se­orang pe­mim­pin, seharusnya sudah tidak kekanak-kanakan de­ngan berebut kuasa. Pas­ca perebutan kekuasaan yang be­rujung pada pengadilan me­lahirkan opini baru, siapa yang sedang bermain ?

Pemain ini tidak bisa ditu­duhkan kepada seseorang de­ngan menyebutkan nama. Ter­lebih jika menunjukkan ke­perpihakan pemerintah pada salah satu kelompok parpol. Asumsi awal, pemain ini kita namakan dengan “nafsu”, ya nafsu adalah keinginan dan kehendak seseorang untuk melampiaskannya tanpa me­lihat dampak pelampiasan terse­but.

Jikalau dipaksaan m­e­nye­butkan nama, maka kita hanya bisa menilai ini adalah mainan koruptor dan pengusaha hi­tam. Koruptor lebih mudah mem­bayar dan menyogok ser­ta mem­pengaruhi politisi yang lemah iman untuk meraih keun­tungan dari kekayaan negeri. Sedangkan pengusaha hitam lebih mudah membayar, walau dengan mem­bayar ke­pada banyak orang tetapi jum­lahnya lebih sedikit. Ha­­silnya pengusaha hitam me­raih sum­ber daya alam Indo­nesia tanpa harus berperang dan menum­pahkan darah.

Permainan memecah par­pol besar bukan sekali terjadi di Indonesia, terlebih jika melihat kondisi Partai Golkar. Setiap perebutan kursi ketua yang berujung konflik mela­hirkan partai baru, sebut saja Gerindra, Nasdem dan Ha­nura. Pemimpin ketiga par­tai adalah kader Golkar yang keluar dan menegakkan parpol sendiri. Hasilnya, pendukung akan terbelah dan partai me­ngecil. Kekuatan parpol ini ter­lihat besar tapi bagi ke­lom­pok berkepentingan terhadap perpecahan hanya alat mainan yang bisa dipengaruhi untuk memuluskan setiap jalan yang menaikkan pengaruh dan ke­ka­yaannya.

Keuntungan yang lain, se­tiap kubu akan mendendam dan menyimpan “aib” kubu lain untuk dipertontonkan kepada masyarakat. Hal ini sangat dimi­nati oleh para ko­ruptor dan pengusaha hitam. Semakin ba­nyak komentar politik, semakin banyak mem­buka aib lawan, semakin ba­nyak senjata peng­hancur diri sen­diri. Maka, parpol tinggal me­nunggu waktu be­r­tran­­for­masi menjadi orga­nisasi ke­pentingan perebutan saham ilegal memperkosa ibu pertiwi dengan terbuka.

Kerugian perpecahan par­pol di antaranya memuluskan jalan para penjajah Indonesia membangun sifat saling me­musuhi. Tak lekang dari i­ngatan, kita dahulu diadu dom­ba agar tidak bersatu. Bhineka tunggal ika akan menjadi batu nisan persatuan dan kesatuan bangsa. Para politisi busuk saha­bat koruptor dan pe­ngu­saha hitam lah penguasa yang sebenarnya di Indonesia.

Selanjutnya, perpecahan parpol yang bermusuhan di­ajak untuk saling melakukan per­kaderan anggota partai ber­basis pemujaan kepada pemimpin. Pemujaan akan jabatan, uang dan pengharapan. Kegiatan akan menyubur hing­ga tidak satupun partai yang saling mem­bantu untuk men­sejah­terakan rakyat terkecuali itu meng­hasilkan keuntungan bagi partai tersebut.

Penulis mengharapkan a­gar semua politisi kembali mere­nung ikhwal perpecahan partai dan akhir konflik. Setiap ku­bu harus menahan diri men­dewa­sakan sikap menerima kekalahan dan membangun semangat persa­­tuan. Sabar menanti jatah memim­pin sem­bari menye­bar­kan ideologis perjuangan. Jika tidak, apakah parpol masih bisa dikatakan sebagai salah satu fondasi demokrasi? (*)

 

ANDRIAN HABIBI
(Koordinator Relawan Pemantau di Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumatera Barat)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]