Kehidupan Warga Sekitar Ikut Terangkat


Jumat, 24 April 2015 - 20:33:36 WIB
Kehidupan Warga Sekitar Ikut Terangkat

“Harus dibiasakan, kalau ben­cana datang tiba-tiba kita tahu kemana harus berlari menye­lamat­kan diri. Dengan adanya shelter ini, kami warga setempat merasa aman,” ucap Erman mantap.

Baca Juga : Mantan Wagub Sumbar Bangun Rumah Gadang Malintang Panai

Keberadaan Shelter Koto Tangah II memang disambut sukacita oleh segenap warga Kelurahan Tabiang, Kecamatan Koto Tangah Kota Pa­dang. Bagaimana tidak, Tempat Evakuasi Sementara (TES) dengan daya tampung 5.000 jiwa itu telah membangkitkan kembali gairah kehidupan yang sempat meredup akibat ancaman bencana yang bisa datang tanpa diundang.

Habidin, tokoh masyarakat Ta­bing mengatakan, paling tidak, ada tiga hal penting yang muncul setelah Shelter Koto Tangah II diresmikan oleh Kepala Badan Nasional Penang­gulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif pada Kamis (23/4). Pertama, hadirnya rasa aman dari bencana. Kedua, banyak rumah yang dahu­lunya kosong dan ditinggal penghu­ninya karena takut bencana, seka­rang sudah dihuni lagi. Dan ketiga, harga jual rumah dan tanah kembali normal di kawasan tersebut.

Baca Juga : BMKG Sampaikan Kisaran Ketinggian Hilal Jelang Penetapan Ramadan, Sumbar 3,66 Derajat

“Sebelumnya, siang malam war­ga gelisah, tidurpun tak nyenyak. Apalagi, jika cuaca memburuk, siapa tahu kapan bencana datang, warga tentu sangat cemas. Dengan adanya shelter ini, perasaan tersebut sedikit demi sedikit hilang, berganti menjadi kesiapsiagaan,” ucap Habidin.

Sebelumnya, lanjut Habidin, sebagian warga yang tidak tahan hidup dengan perasaan gelisah, memilih pindah rumah ke kawasan yang berada jauh dari zona merah (rawan bencana,red), berbondong-bondong pindah ke kawasan zona hijau (tidak rawan bencana,red) seperti ke kawasan Limau Manis, Ulu Gadut dan lain-lain. Sejak kerangka bangunan shelter sudah terlihat, satu per satu rumah kosong itu sudah mulai diisi lagi. Karena rasa aman untuk tinggal di sini sudah muncul lagi.

Baca Juga : Waspada! Gelombang Tinggi di Mentawai Bisa Mencapai 5 Meter

“Keuntungan dari segi ekonomi juga tak dapat disangkal dari kebera­daan shelter ini. Dulu, pasca tsunami Aceh, apalagi setelah gempa Padang 2009, harga tanah dan bangunan di tempat tinggal kami merosot tajam, tak ada yang mau membeli tanah di kawasan rawan bencana dengan mitigasi (penanggulangan) yang minim pula. Sekarang, harga-harga tersebut sudah mulai wajar kem­bali,” ungkap Habidin lagi.

Gubernur Sumbar Irwan Prayit­no juga ikut menyinggung masalah keamanan dan kenyamanan ini, ia menyadari tidak hanya di Tabiang, tapi seluruh warga yang tinggal di kawasan dekat pantai tentu dalam suasana kebatinan yang tidak nya­man dan selalu dipenuhi rasa was-was.

Baca Juga : Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di Painan, Also: Inilah Pemersatu Bangsa Kita

“Setelah dibangun TES/Shelter ini, semoga masyarakat akan men­jadi lebih tenang. Meskipun kita sadari, terdapat 7 kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai daerah rawan bencana dan tsunami dan belum semuanya memiliki shelter. Hal itu karena keterbatasan ang­garan, namun setiap tahun akan terus kita upayakan anggaran untuk itu,” janji Irwan.

Namun, sebagaimana yang di­sam­paikan orang nomor satu di Sumbar itu, gedung-gedung pe­merintahan dan swasta di Sumbar, khususnya di daerah rawan bencana tsunami juga dileng­kapi shelter di bagian puncaknya. Peruntukkan shelter tersebut bukan hanya bagi pegawai pemerintahan atau perkan­toran yang bekerja di gedung terse­but, melainkan untuk seluruh masya­rakat.

Maklumat itu sesuai dengan yang ditekankan oleh Kepala BNPB Syamsul Maarif dalam sambutannya sebelum meresmikan shelter Koto Tangah I dan II. Tidak ada satupun orang yang berhak didahulukan atau terpinggirkan dalam proses evakuasi bencana, kecuali para penderita cacat fisik dan disabilitas.

“Saat terjadinya bencana, status semua orang itu sama. Tapi dahul­u­kan mereka yang cacat secara fisik, atau kaum penderita disabilitas. Apabila sempurna secara fisik, status kita sama, mari bersama-sama pula menyelamatkan diri dan saling membantu,” ucap Syamsul tegas.

Shelter Koto Tangah I dan II telah selesai, nama resminya Tempat Evakuasi Sementara (TES) Koto Tangah I dan TES Koto Tangah II. Karena sifatnya sementara, ba­ngunan tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal sementara sebelum warga dievakuasi pasca bencana ke tempat pengungsian akhir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang Dedi Henidal mengatakan, karena bangunan shelter memang khusus untuk TES, bangunan itu boleh digunakan oleh masyarakat setempat untuk berkegiatan sehari-hari. “Boleh digunakan untuk rapat warga, pesta pernikahan, olahraga dan lain sebagainya. Asalkan, tidak digunakan untuk kepentingan pri­badi yang bisa merugikan kepen­tingan orang banyak,” ucap Dedi.

Dua shelter utama telah dires­mikan di Kecamatan Koto Tangah. Pertama, TES Koto Tangah I di Kelurahan Parupuk Tabing, ber­lantai lima, setinggi 22 meter, seluas 2.500 meter persegi, dileng­kapi vasilitas dapur umum dan Mandi Cuci Kakus (MCK), berdaya tam­pung 4.500 jiwa dengan radius 0,5-1 kilometer dan menelan biaya Rp22 miliar. Shelter ke dua, TES Koto Tangah II, berlantai lima, setinggi 22 meter, seluas 2.500 meter persegi, juga dilengkapi vasilitas dapur umum dan MCK, berdaya tampung 5.000 jiwa dalam radius 0,5 - 1 kilometer dan menelan biaya Rp17,5 miliar.

“Kami warga Tabiang mengu­capkan terima kasih banyak kepada pemerintah. Karena pembangunan shelter ini merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah kepada masyarakat. Khususnya kepada kami warga Tabiang yang tinggal di zona merah,” tutup Habidin. (*)

 

Oleh: JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]