Waspada Ancaman Malaria


Ahad, 26 April 2015 - 19:52:15 WIB
Waspada Ancaman Malaria

Berdasarkan The World Malaria Report 2010, se­ban­yak lebih dari 1 juta orang termasuk anak-anak setiap tahun meninggal akibat ma­laria dimana 80% kematian terjadi di Afrika, dan 15% di Asia (termasuk Eropa Timur). Secara keseluruhan terdapat 3,2 Miliyar penderita malaria di dunia yang terdapat di 107 negara. Malaria di dunia paling banyak terdapat di Afrika. Di Indonesia, sebagai salah satu negara yang masih beresiko Malaria (Risk-Malaria), pada tahun 2009 terdapat sekitar 2 juta kasus malaria klinis dan 350 ribu kasus di antaranya dikonfirmasi positif. Se­dang­kan tahun 2010 menjadi 1,75 juta kasus dan 311 ribu di antaranya dikonfirmasi po­sitif. Sampai tahun 2010 masih terjadi KLB dan peningkatan kasus malaria di 8 Provinsi, 13 kabupaten, 15 kecamatan, 30 desa dengan jumlah penderita malaria positif sebesar 1256 penderita, dan 74 kematian. Jumlah ini mengalami pening­katan dibandingkan tahun 2009, dimana terjadi KLB di 7 propinsi, 7 kab, 7 kec dan 10 desa dengan jumlah penderita 1107 dengan 23 kematian.

Baca Juga : Capres 2024, PDIP Serahkan pada Keputusan Megawati

Malaria dikenal oleh para dokter pada zaman China kuno sekitar tahun 2700 se­be­lum masehi. Adalah Hip­poc­rates, sang bapak kedokteran, yang pertama kali meng­gam­barkan gejala-gejala klinis malaria pada sekitar abab IV Masehi. Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Italia, “mal’aria”. Pada zaman dulu, orang beranggapan bahwa malaria disebabkan oleh ud­ara yang kotor. Sementara di Pe­ran­cis dan Spanyol, malaria dikenal dengan nama “pa­la­disme atau paludismo”, yang berarti daerah rawa atau payau karena penyakit ini banyak ditemukan di daerah ping­giran pantai. Saking ter­kenal­nya penyakit malaria, William Shakespeare, salah satu pe­nulis Inggris yang paling ter­kenal sepanjang abad 16-17, juga telah menggambarkan penyakit malaria dalam salah satu karyanya sebagai “The Caliban Curse”.

Pertanyaan sekitar pen­yebab penyakit malaria akhir­nya dijawab oleh Ronald Ro­ss, seorang dokter militer Ingris yang bertugas di India pada tahun 1897. Ross berhasil membuktikan bahwa ternyata malaria tidak disebabkan oleh udara kotor tetapi akibat gi­­gitan nyamuk anopheles. Se­cara teoritis, cukup hanya dengan satu kali gigitan nya­muk anophles seseorang su­dah bisa terjangkit malaria, jika nyamuk ini mengadung parasite malaria. Berkat pe­nemuan­nya, Ross akhirnya memenangkan hadiah Nobel.

Baca Juga : Tindakan KKB Papua Sangat Keji, Tembaki Guru dan Tenaga Medis Covid-19

Malaria merupakan pen­yakit menular mematikan yang menyerang sedikitnya 350-500 juta orang pertahun dan ber­tanggung jawab ter­hadap ke­matian sekitar 1 juta orang setiap tahunnya. Me­nurut per­kiraan WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di Indonesia, dengan 30.000 kematian. Survei kesehatan nasional tahun 2001 men­dapati angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100. 000 orang per tahun.

Infeksi malaria disebabkan oleh protozoa parasit yang merupakan golongan plas­modium yang hidup dan ber­kembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan me­lalui gigitan nyamuk anop­heles. Malaria merupakan salah satu penyakit yang ter­sebar di be­berapa wilayah di dunia. Um­um­nya tempat-tempat yang rawan malaria terdapat pada Negara-negara berkembang dimana tidak memiliki tempat pe­nam­pung­an atau pem­buang­an air yang cukup, sehingga menyebabkan air menggenang dan dapat dijadikan sebagai tempat ideal bagi nyamuk untuk bertelur. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis mal­aria. Di Indonesia sendiri, diperkirakan 50% penduduk Indonesia masih tinggal di daerah endemis malaria.

Baca Juga : Innalillahi, Pemilik Radwah Hartini Chairuddin Meninggal Dunia

Malaria disebabkan oleh parasit dari genus plas­mo­dium. Ada empat jenis plas­modium yang dapat menye­babkan malaria, yaitu plas­modium falciparum, plas­modium vivax, plasmodium oval dan plasmodium malaria. Parasit-parasit tersebut di­tular­kan pada manusia melalui gigitan seekor nyamuk dari genus anopheles. Gejala yang ditimbulkan antara lain adalah demam, anemia, panas dingin, dan keringat dingin. Untuk mendiagnosa seseorang men­derita malaria adalah dengan memeriksa ada tidaknya plas­modium pada sampel darah. Namun yang seringkali di­temui dalam kasus penyakit malaria adalah plasmodium falciparum dan plasmodium vivax. Malaria dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit plas­mo­di­um. Transfer parasit dapat terjadi baik dari nyamuk ke manusia rentan maupun dari manusia yang telah terinfeksi ke seekor nyamuk rentan. Jadi faktor penting pada penularan malaria adalah manusia dan nyamuk.

Walaupun ditularkan oleh nyamuk, penyakit malaria sebenarnya merupakan suatu penyakit ekologis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kon­disi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan ber­potensi melakukan kontak dengan manusia dan me­nu­larkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, ke­lem­baban, ketinggian, arah dan kecepatan angin. Air meru­pakan faktor esensial bagi perkembang-biakan nyamuk.  Nyamuk dan parasit malaria juga sangat cepat ber­kembang biak pada suhu se­kitar 20-27 derajat Celcius, dengan kelembaban 60-80 %.

Baca Juga : Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kembali Penggabungan Kemendikbud dan Ristek

Rata-rata lama hidup nya­muk yang mengandung parasit malaria adalah 21 hari. Pada suhu 220 derajat Celcius, pa­rasit malaria dalam tubuh nyamuk membutuhkan waktu 19 hari untuk menjadi dewasa sedangkan pada suhu 300 de­rajat Celcius hanya mem­bu­tuh­kan waktu 8 hari. Sebagian dari dataran Afrika dan wi­layah terjauh bagian selatan dan utara Afrika memiliki rata-rata suhu benua di atas 25 derajat Celsius. Sehingga pro­yeksi peningkatan temperatur antara 1,4 sampai dengan 5,8 derajat Celcius di bawah peru­bahan iklim akan men­ye­bab­kan percepatan perkembangan parasit dan berpotensi untuk terjadinya peningkatan kasus Malaria. Berdasarkan pe­ne­litian Zhou et.al. dan Wandiga et al., faktor seperti temperatur dan tingkat penguapan yang tinggi memainkan peran yang penting dalam peningkatan kasus malaria.

Berdasarkan luasnya dam­pak yang diakibatkan oleh penyakit ini, maka negara-negara di dunia sepakat untuk menjalankan suatu program pemberantasan malaria yang di sebut Global Malaria Ac­tion Plan (GMAP). Organisasi Ke­sehatan dunia menetapkan pemberantasan penyakit Ma­laria hingga prevalensi mini­mal sebagai salah satu target Mil­lenium Development Go­als (MDGs). Dengan adanya target MDGs tersebut, upaya pe­ngendalian penyakit malaria di Indonesia semakin mem­baik. Angka kesakitan malaria se­lama tahun 2000-2009 cen­derung menurun yaitu dari 3,62 pada tahun 2000 menjadi 1,85 per 1.000 penduduk pada ta­hun 2009. API malaria se­cara nasional berdasarkan hasil pemeriksaan darah sebesar 2,89 persen (Riskesdas, 2007). Angka ini menurun menjadi 2,4 persen pada tahun 2010 (Data sementara Riskesdas, 2010). Sehingga saat ini ter­catat tingkat kejadian malaria hingga 18.6 juta kasus per tahun.

Salah satu usaha pe­nang­gulangan penyakit malaria yang digalakkan oleh WHO adalah penggunaan insektisida dalam pemberantasan vektor malaria. Publikasi laporan 10 tahun terakhir (2000-2009), WHO menyimpulkan bahwa terjadi tren kenaikan peng­gunaan insek­tisida dalam me­ngendalikan vektor termasuk vektor malaria. Program peng­gunaan insek­tisida ini di­la­kukan secara luas di seluruh dunia termasuk Indonesia. Salah satu dampak dari pro­gram pengobatan untuk mem­berantas malaria adalah se­makin meningkatnya angka resistensi terhadap obat ACT yakni Artemicin.

Apabila hal ini terus me­luas maka dapat menyebabkan peningkatan kematian te­ru­tama pada bayi dan anak di bawah 5 tahun. Program yang dijalankan oleh WHO tersebut lebih bersifat kuratif. Dengan adanya kemajuan di bidang kesehatan, hendaknya upaya penanggulangan suatu pen­ya­kit atau permasalahan ke­sehatan lebih mengutamakan prinsip pencegahan (pre­ven­tif). Upaya pencegahan pen­yakit merupakan suatu upaya untuk menigkatkan kesehatan komunitas bukan hanya ter­batas pada individual sehingga diharapkan target yang tercapai menjadi lebih luas. Upaya preventif ini juga dapat di­la­kukan dalam penanggulangan malaria. Hal yang dapat di­lakukan baik oleh stake holder maupun petugas lapangan adalah memprioritaskan pro­gram intervensi terhadap pe­rilaku dan lingkungan dalam setiap upaya peningkatan de­rajat kesehatan. Hal ini sejalan dengan teori yang di­kem­bangkan oleh Blum bahwa faktor yang memberikan kon­tribusi paling besar terhadap status kesehatan seseorang adalah perilaku dan ling­kung­an. Perubahan lingkungan dan iklim banyak mempengaruhi dinamika populasi vektor.

Pengendalian vektor harus dilakukan secara REESAA (rational, effective, efisien, suntainable, affective dan affordable). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan kondisi geografis Indonesia yang luas dan bionomik vektor yang beraneka ragam sehingga pe­metaan breeding places dan perilaku nyamuk menjadi sa­ngat penting. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah, se­luruh stakeholders dan ma­syarakat sangat dibutuhkan dalam pengendalian vektor malaria. Malaria juga ber­tanggung jawab secara eko­no­mis terhadap kehilangan 12 % pendapatan nasional, negara-negara yang memiliki malaria.  United Nation Development Program (UNDP,2004) juga mengklaim bahwa akibat ma­laria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $ 56,6 juta pertahun. Dalam program pengendalian malaria, ditargetkan pe­nuru­nan angka kesakitannya dari 2 menjadi 1 per 1.000 pen­du­duk. Program eliminasi ma­laria di Indonesia tertuang dalam kepu­tusan Men­teri Ke­se­hatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. ­Pe­lak­sanaan pe­ngen­dalian ma­laria menuju eli­minasi dilakukan secara ber­tahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai se­luruh pulau tercakup guna ter­wujud­nya masyarakat yang hidup sehat dan terbebas dari penu­laran malaria sampai tahun 2030.

Selamat Hari Meluas Ma­laria Se-Dunia, jaga terus ling­kungan tempat tinggal dari malaria yang terus mengan­cam, selamatkan keluarga di­mulai dari diri sendiri.***

 

DRG. LENY SANG SURYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]