Danrem Minta Presiden Hadiri Panen Padi Percontohan


Ahad, 26 April 2015 - 19:55:23 WIB
Danrem Minta Presiden Hadiri Panen Padi Percontohan

Widagdo juga menjelaskan bah­wa setidaknya sudah ada 11 demplot percontohan di Sumbar, tersebar di wilayah Kodim 0304/Agam, Kodim 0305/Pasaman, Kodim 0306/50 Kota, Kodim 0307/Tanah Datar, Kodim 0308 Pariaman, Kodim 0309/Solok, Kodim 0310 SSD, Kodim 0311/Pes­sel, Kodim 0312/Padang, Ko­dim 0319/Mentawai. “Kese­muanya itu memiliki area yang berbeda-beda,” ujar Widagdo.

Baca Juga : Manambang, Tradisi Mencari THR saat Lebaran di Padang

Usia tanaman padi di Dem­plot percontohan Korem 032/Wirabraja ini sudah memasuki usia tiga bulan saat ditanami pada tanggal 26 Januari 2015 lalu, tepatnya saat HUT Ko­rem. Widagdo menyampaikan harapannya kepada Andrinof agar saat panen nanti langsung dihadiri oleh Presiden RI Jokowi. “ Kami beserta para petani sangat berharap ke­datangan presiden ketika panen nanti, agar menjadi spirit dan motivasi bagi para petani untuk semakin meningkatkan program ini,” papar Widagdo.

Menurut Widagdo, bukan tanpa alasan program yang digerakkannya bersama ma­667776syarakat petani ini harus mendapatkan perhatian dari pemerintah. Program ini layak dan sesuai dengan hara­pan dan keinginan masyarakat. “Banyak keunggulan dari per­tanian organik ini, selain bia­yanya irit, hasilnya juga ber­lipat-lipat. Kualitasnya juga terjamin untuk kesehatan,” terang Widagdo.

Baca Juga : Hari Ketiga Lebaran, Jalanan Kota Padang Lengang

Harapan Danrem itu di­sam­but baik oleh Andrinof. Ia akan mengusahakan meng­hadirkan presiden saat panen bersama prajurit TNI, kelom­pok tani, babinsa, dan pihak terkait lainnya untuk panen bersama.

“Saya akan sampaikan pada pre­siden. Saya juga akan mem­bicarakannya dengan bulog serta kementerian per­dagangan untuk memasarkan produk ini,” sambut Andrinof.

Andrinof juga memberikan apresiasi kepada Danrem 032/Wirabraja, umumnya kepada prajurit TNI dalam memback up di sektor pertanian ma­syarakat untuk ketahanan pa­ngan nasional. “Luarbiasa yang telah dilakukan TNI, bertani juga menemukan pro­duk ung­gulan,” pungkasnya diringi tepuk tangan petani dan pra­jurit TNI yang hadir pada kesempatan itu.

Menurut Andrinof, program ini harus disebarkan serta disosialisasikan secara terus menerus, karena menurutnya disamping hasilnya bisa dua kali lipat, usia padi organik ini juga pendek, dalam satu tahun bisa empat hingga lima kali panen. “Kabarnya, satu hektare bisa hasilkan 15 ton padi. Inilah padi unggulan yang sebenarnya,” cetus Andrinof.

Sementara, per­kem­ba­ngan padi di demplot per­contohan pertanian or­ganik Korem 032/Wbr ini sekarang telah me­masuki tahap pe­menuhan pe­ngisian bulir pa­di. Hal ini sesuai hasil pe­ngamatan dan penin­jauan lapangan yang dila­kukan o­leh Kepala Penerangan Ko­rem 032/Wbr Mayor Inf Su­padi, senin (20/4) lalu.

Peninjauan dilakukan saat tanaman padi memasuki usia 2 bulan 22 hari. Dari hasil pengamatan di lapangan dari empat macam jenis padi yang ditanam secara organik yang meliputi Jenis Padi Logawa  Non Lokal, jumlah anakan produktif mencapai 20 sampai 30 batang tiap rumpun, dengan jumlah bulir 200 butir setiap batang/malai dan   jenis Padi BSM Non Lokal jumlah ana­kan yang produktif mencapai 20 sampai 30 batang tiap rum­pun jumlah bulir 200 sampai  250 butir setiap batang/malai, kedua jenis ini memiliki masa panen pada usia 95 hari.

Sedangkan untuk jenis padi lokal yaitu Madang Pulau dan Anak Daro saat dilakukan pe­ngamatan dan peninjauan be­r­umur 2 bulan 18 hari, baru keluar malai/baru hamil de­ngan banyak anakan produktif 25 batang tiap rumpun dengan usia panen normal hingga 95 hari

Hal yang sangat mem­pe­ngaruhi tanaman padi or­ganik adalah di awal pemilihan benih, karena bila salah me­milih benih maka jelas akan mempengaruhi pencapaian hasil panen. Dari keempat jenis padi yang di tanam di demplot percontohan bila diban­ding­kan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tetapi bila dilihat kondisi saat peninjauan dilakukan jenis BSM lebih unggul dibanding dengan jenis lainnya.

“Tanaman padi adalah bu­kan tanaman air akan tetapi padi adalah tanaman yang membutuhkan air. Oleh ka­rena itu pada sistem dan pola tanam secara organik kita harus benar-benar mengetahui SOP yang berlaku termasuk sistem pengairan yang harus dilakukan, karena hal ini juga akan menentukan hasil dari tanaman padi yang kita tanam,” pungkas Supadi. (h/mg-fds)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]