Bejana Ukur SPBU Tak Kalibrasi Jadi Polemik


Senin, 27 April 2015 - 19:54:38 WIB
Bejana Ukur SPBU Tak Kalibrasi Jadi Polemik

“Masa bisa selisihnya ka­dang sampai  50-100 liter. Padahal kami sama sekali tidak pernah menguranginya atau anggaplah kencing di jalan, karena kran tangki truk disegel oleh Pertamina setelah pe­ngisian dan itu disaksikan sejumlah pihak sebelum truk meninggalkan lokasi pengisian BBM di Depot Pertamina Teluk Kabung. Dengan apa kami mengganti sebanyak itu. Setelah kami tanya-tanya ter­nyata bejana itu tidak dika­librasi  oleh Metrologi. Kalau tidak dikalibrasi tentu saja takarannya bisa meleset,” kata AI, salah seorang supir truk BBM Pertamina kepada Ha­luan beberapa hari yang lalu.

Baca Juga : Irawati Meuraksa Serahkan Donasi Spensa Peduli di SMP Negeri 1 Padang

Dia dan rekan-rekannya sesama sopir truk BBM Per­tamina sangat berharap agar persoalan ini diselesaikan atau dicarikan jalan keluarnya, salah satunya dengan meng­kalibrasi bejana ukur di SPBU sehingga bisa standar sama dengan alat ukur saat memuat BBM di Pertamina. “Saya dan kawan-kawan pernah mengisi BBM di Pertamina Teluk Ka­bung dan membawanya ke SPBU yang masih di seputaran Kota Padang dengan jarak hanya sekitar 30 KM, ternyata kurangnya  sampai 50 liter. Jika begini tentu patut diper­tanyakan alat ukur mana yang tidak kalibrasi,” katanya.

Hanya 2 dari 109 SPBU Yang Dikalibrasi

Baca Juga : Cegah Penularan Covid-19, Lapas Padang Lakukan Penyemprotan Desinfektan

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Dispe­rindag) Sum­bar, Mudrika me­la­­lui Kepala UPTD Me­tero­logi, Syamsurizal menga­takan dari 109 SPBU yang ada di Sumbar, hanya dua SPBU yang dikalibrasi bejana tanki tim­bunnya, yaitu SPBU 11-252501 di Jalan Sutan Syahrir dan SPBU 11-251501 di Jalan S. Parman.  Kalibrasi  dua SPBU ini pun atas permintaan Pertamina karena kedua SPBU tersebut memang milik Pertamina langsung.

Kepala UPTD Meterologi, Syam­surizal di kantornya me­nga­takan,  kalibrasi untuk bejana tanki timbun  SPBU bukan tugas wajib  Dis­perin­dag. Kalibrasi ini hanya dila­kukan bila ada permintaan dari pihak terkait untuk melakukan kalibrasi. “Kewajiban kita hanya apa yang sampai kepada konsumen, yaitu nozelnya. Kalau untuk nozelnya kita lakukan tera ulang satu tahun sekali. Berdasarkan Per­men­dag, kita layak­nya seperti dokter kalau ada yang sakit baru diobati,” kata Syam­surizal Kamis (23/4) lalu.

Ditambahkannya, bejana tanki timbun milik SPBU itu sepenuhnya kewenangan dari pemilik SPBU. Dari 109 SPBU yang ada di Sumbar hampir 90 persen miliki swasta. Sementara yang milik Pertamina hanya dua. Selain itu ada juga SPBU yang pemiliknya perpaduan saham Pertamina dan swasta , namun jumlahnya tidak banyak.

Pihaknya selalu berkoordinasi dengan Disperindag kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan terha­dap SPBU yang ada di kabupaten/kota. Dilanjutkan, Disperindag siap mengambil tindakan tegas apabila ditemukan kejanggalan. “Kalau ada pengaduan tentang SPBU yang ternyata tidak jujur kita akan lang­sung tindak. Bahkan kalau ada infonya sekarang, besok kita akan langsung turun ke lapangan. Kita tangkap tangan langsung,” tegasnya.

SPBU 14.251.510 di Jalan Ham­ka belum melakukan kalibrasi/tera pada bejana ukur tangki tim­bunnya. Kalibrasi ini dilakukan setiap satu tahun sekali berdasarkan per­mintaan pemilik SPBU ke Disperindag. Asis­ten Pengawas SPBU 14.251.510, Irwandi ditemui Hal­uan Senin (27/4) sore mengatakan, baru-baru ini memang  belum dilakukan kalibrasi untuk bejana. Biasanya dilakukan setahun sekali dengan mengirm surat permintaan kalibrasi/tera ke dinas terkait. “Sebelumnya kita pernah mela­kukan kalibrasi satu tahun sekali,” terangnya.

Terkait adanya kekurangan taka­ran tanki dari Pertamina ke SPBU memang pernah terjadi. Akan tetapi hal itu tidak selalu terjadi. “Faktor cuaca juga berpengaruh, namanya mi­nyak kadang memuai juga,” ujarnya.

Dilanjutkannya, untuk keku­rangan jumlah takaran itu ganti ruginya dibebankan kepada sopir. Selain kurang kata Irwandi, kadang ada juga yang berlebih. Misalnya dari 14.000 liter berlebih sekitar 30 liter.  “Untuk kelebihan ini SPBU yang memberikan kepada sopir, kadang kami sebut uang gas,” ujarnya.

Senior Supervisor External Rela­tion PT Pertamina (Persero) Mar­keting Operation Region (MOR) I Sumbagut Zainal Abidin menga­takan kekurangan BBM yang terjadi pada beberapa SPBU, berpotensi dari beberapa sisi di antaranya, saat perjalanan dari depot ke SPBU, alat ukur bejana yang digunakan oleh pihak SPBU, atau modifikasi mobil untuk pengangkut BBM.

Menurutnya berbagai kemung­kinan bisa saja terjadi pada kasus kekurangan BBM dari depot ke SPBU, namun demikian pihaknya sudah melakukan pengisian secara bysystem dan disaksikan oleh kedua belah pihak antara transportir dan Pertamina. “Saat pengisian ada kedua belah pihak menyaksikan, dan akan ada juga surat serah terima tanda BBM yang diisi dari depot ke mobil sudah sesuai dengan yang tertulis,” katanya, Jumat (24/4).

Dikatakan juga, ia tidak mau berandai-andai, tapi ia juga tidak menutup mata adanya berbagai kemungkinan salah satunya “supir kencing di jalan”, atau alat ukurnya yang perlu dilakukan uji oleh UPTD Metrologi Disperindag supaya dike­tahui kebenaran atau keabsahan bejana ini.

“Bisa jadi potensi modifikasi dari pihak transportir dengan mobil pembawa BBM, tapi hingga sekarang kita belum temukan kasus seperti ini,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya berharap supaya para pengusaha berperan aktif dan mengisi form formulir yang disediakan di Pertamina. Keluhan ini nanti akan dibicarakan dan dibahas secara bersama, dari sanalah nanti akan dikupas apakah faktor yang menyebabkan BBM tidak sesuai dengan yang dikeluarkan Dept Pertamina.  (h/mg-isr/mg-rin/erz)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]