Lansia Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian


Selasa, 28 April 2015 - 19:16:46 WIB
Lansia Bertahan Hidup di Tengah Minimnya Perhatian

Nenek berusia berusia 107 tahun itu hidup bersama anak­nya, Kaidir yang sudah berusia 77 tahun. Meskipun keduanya didera kemiskinan dan me­nempati satu rumah yang sa­ngat tak layak huni, tak sedikit­pun keramah-tamahan mere­ka hilang saat menerima tamu.

Baca Juga : Antisipasi Penyebaran Covid-19 Saat Lebaran, Nagari Sinuruik Pasaman Barat Dirikan Posko dan PPKM Mikro

“Ini orangtua ‘kontan’ (kan­dung) saya, sudah hampir 110 (tahun) umurnya. Kami ting­gal di rumah ini hanya ber­dua,” ucap Kaidir seraya mem­perkenalkan ibunya.

Kaidir lalu mem­persi­lah­kan masuk. Di dalam rumah berukuran lebih kurang 3x4 meter itu, setiap barang dan peralatan rumah tangga berse­rakan, bercampur aduk. Di samping kasur kapuk tua tem­pat Ila merebahkan badan setiap malam, terdapat tumpukan kertas, sekarung beras, karung kosong, tas usang, gelas berdedak kopi, teko plastik dan korek api. Hanya ada satu lampu penerangan di dalam rumah. Lantai­nya lapuk dan mengerinyit. Tak ada loteng dan atapnya penuh lobang.

Baca Juga : Cuaca Objek Wisata Sumbar Dilanda Hujan hingga Malam

“Beginilah kondisi rumah kami. Kalau hujan sudah turun di malam hari, kami tak bisa tidur, hujan masuk lewat lobang atap rumah, terpaksa kami menepi ke sudut-sudut rumah yang tak terkena hujan. Ibu saya tak bisa tidur karena men­derita biriang (penyakit kulit) di sekujur badannya. Kalau sudah hujan gatal-gatal semua badannya. Saya tak bisa berbuat banyak karena juga menderita sakit gula parah,” lanjut Kaidir sambil memper­lihat­kan kakinya yang sama seperti atap rumahnya, banyak berlobang.

Sebenarnya Kaidir adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak­nya masih hidup, saat ini berumur 80 tahun lebih dan tinggal bersama anaknya. Sedangkan Kaidir sendiri, istrinya sudah meninggal. Anak-anaknya tinggal di Batam dengan kehidupan yang tak kalah susah.

“Saya dulu juga tinggal di Batam. Tapi setelah menerima kabar ibu sering sakit-sakitan, belasan tahun lalu saya kembali ke Padang untuk merawat ibu. Sampai sekarang saya tak pernah lagi balik ke Batam,” ujarnya lagi.

Bicara tentang saudara atau tetangga, Kaidir tak banyak berha­rap akan mendapat pertolongan untuk berobat atau sekedar untuk makan. Selama ini, Kaidir hanya mengan­dalkan buah pinang yang ia petik di belakang rumah untuk melanjutkan hidup. Selain itu, kadang ada juga datang bantuan dari pemerintah lewat badan zakat dan sejenisnya.

“Kita sudah tua-tua, orang sudah jijik mengurus kita,” ucap Ila tiba-tiba, saat anaknya masih bercerita.

Kaidir melanjutkan, untuk bero­bat untungnya ia masih punya kartu jaminan kesehatan, sehingga tak perlu biaya untuk ke rumah sakit atau ke apotik. Kalau untuk makan, hanya dengan mengandalkan ban­tuan tentu tak akan mencukupi. Karena itu pula ia masih berusaha mencari buah pinang dan dijual untuk pembeli makan.

“Dulu saya dapat bantuan uang dan beras dari kelurahan. Sekarang hanya beras saja yang saya dapat. Waktu saya tanyakan bantuan untuk beli makan dan memperbaiki rumah, salah seorang petugas mengatakan kami tak layak menerimanya. Menu­rut mereka yang layak menerima bantuan adalah keluarga yang punya anak. Kalau kami yang tinggal berdua dan sudah tua-tua ini tidak perlu lagi,” ucapnya setengah meng­iba.

Kaidir juga mengatakan, tahun lalu pada satu malam ibunya sempat menderita sakit keras. Saat itu ia sudah pasrah jika memang orang­tuanya akan dipanggil Tuhan. Tapi, tiba-tiba saja hati Kaidir tergerak untuk mengambil segelas air ke mesjid dan meminumkan air itu pada ibunya, setelah itu ibunya berangsur pulih.

“Saat itu saya tak tahu mau apa lagi, untunglah dengan air dari mesjid itu ibu bisa diselamatkan, kuasa Tuhan juga. Kami sudah setua ini masih diberi kesempatan untuk hidup, kami jalani saja dengan sebaik-baiknya hingga ajal menjem­put. Yang penting suruhan Tuhan tetap kami kerjakan,” lanjut Kaidir lagi.

Pada lembaran Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang diperli­hatkan Kaidir, tertera tanggal lahir­nya pada 30 Juli 1938. Sedangkan ibunya Ila, lahir pada 6 Juni 1908. Keduanya masih bisa tersenyum di tengah minimnya perhatian dari orang sekitar pada lansia (lanjut usia). Hanya satu yang diharapkan Kaidir saat ini. Di masa-masa senja ia dan ibunya, mereka hanya ingin merasakan tidur nyenyak di malam hari. “Kasihan ibu saya. Kalau sudah hujan tak bisa tidur. Kami hanya bisa duduk menepi di sudut rumah meng­hindari air, sambil menunggu hujan teduh” tutupnya. ***

 

Oleh: JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]