Prediksi Gempa Dahsyat, Sumbar Tak Usah Risau


Rabu, 29 April 2015 - 20:34:07 WIB
Prediksi Gempa Dahsyat, Sumbar Tak Usah Risau

“Mekanisme terjadinya gempa di Nepal dengan yang diprediksikan memang sama-sama disebabkan oleh pertemuan lempeng Indoaus­tralia dengan Eurasia. Tapi patut dilihat bahwa gempa di Nepal adalah gempa darat, bukan gempa laut. Sedangkan yang sering diprediksi itu adalah megathrus di Siberut, itu artinya gempa laut,” ucap Badrul kepada Haluan, Selasa (28/4).

Baca Juga : Jelang Idul Fitri, Gema Sehat Juken BKKBN Sumbar Bagi-bagi Sembako untuk Kaum Dhuafa di Padang

Ia melanjutkan, gempa darat yang terjadi di Nepal pada Sabtu (25/4) lalu merupakan tumbukan frontal dan pengangkatan pegunungan Hi­ma­laya dengan sifatnya yang men­dorong. Artinya, patahan pada lem­peng bumi menyebabkan terja­dinya dorongan yang besar.

“Kalau di Sumatera, patahan itu sifatnya mendatar sehingga diper­kirakan kekuatan gempa paling tinggi pada 7,4 Skala Richter (SR). Energi mendatar ini tak sekuat energi mendorong seperti di Nepal,” lanjutnya lagi.

Baca Juga : H-6 Lebaran, Pantai Purus Padang Sepi Pengunjung

Jadi patut digarisbawahi, lanjut­nya lagi, terdapat dua potensi gempa yaitu di laut dan darat. Potensi di laut itulah yang sering diprediksikan sebagai megathrus Siberut. Karena masih terdapat 2/3 segmen Siberut yang belum keluar. Diharapkan 2/3 segmen tersebut keluar sedikit demi sedikit untuk mengingatkan ma­syarakat agar tetap waspada. Jika 2/3 segmen terse­but keluar sekaligus, kekuatan gempa yang terjadi bisa mencapai 8,8 SR.

“Untuk gempa darat di Sumbar, terakhir terjadi pada 1943, tepatnya pada segmen di kawasan Solok Selatan. Kemunculan gempa darat ini yang juga perlu senantiasa diwas­padai. Salah satunya dengan men­dirikan bangunan yang sesuai stan­dar. Karena seperti yang kita lihat pada gempa darat di Padang 2009 dan gempa Nepal baru-baru ini, korban banyak berjatuhan karena tertimpa reruntuhan bangunan,” tegas Badrul.

Sebelumnya, setelah bertahun-tahun pakar gempa memprediksi gempa besar akan terjadi di kawasan Himalaya, antara India dan Nepal. Akhirnya prediksi itu terjadi pada Sabtu (25/4) lalu dengan besaran 7,9 SR. Kini, setelah di Nepal, di mana lagi gempa dengan besaran yang sama atau lebih akan terjadi?

“Tempat di mana Anda akan benar-benar bergidik karena memi­kirkan apa yang akan terjadi adalah Teheran-Iran, Karachi-Pakistan, Padang-Indonesia dan Lima-Peru,” jelas Brian Tucker, Presiden Geo Hazards, seperti dilansir TIME edisi Senin (27/4/2015).

Tucker menambahkan, negara tersebut plus AS, Selandia Baru, Jepang, Turki (di kawasan Istanbul) dan Chile memang memiliki risiko tinggi akan gempa karena negara-negara tersebut dilalui lempeng tektonik yang berada di bawah tekanan. Namun, negara maju seper­ti AS, Jepang, Turki dan Chile sudah mengambil langkah antisipasi de­ngan membangun gedung yang bisa beradaptasi dengan gempa juga mendidik warga sebagai langkah mi­ti­gasi bencana gempa bumi besar.

Di mana gempa besar akan ter­jadi setelah di Nepal? “Jika Anda bertanya pada saya, di mana gempa besar akan terjadi, bukti terkuatnya adalah di lepas pantai Sumatera,” imbuh Tucker.(h/mg-isq/dtc)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]