Engku Muhammad Syafei dan Pendidikan


Jumat, 01 Mei 2015 - 19:21:28 WIB
Engku Muhammad Syafei dan Pendidikan

Perdebatan soal kekuatan Timur dan Barat, tak bisa kita anggap hal yang biasa. Semua itu menunjukkan, gambarkan akan bagaimana karakter suatu bangsa, jika diukur dari be­nua—atau lebih tegasnya, Ti­mur dengan Barat. Makanya, pendidikan tak bisa menjadi suatu pembicaraan  bagi kita, sesuatu yang kalah atau me­mang dikalahkan.

Baca Juga : Besok, 19 Perusahaan Mengawali Vaksinasi Gotong Royong

Dalam momentun hari Pen­­­didikan Nasional, ingatan ki­­ta ha­­rus segar kembali, de­ngan tokoh pendidikan yang ada di Sumatera Barat. Gaga­san pendidikan yang digagas o­leh Engku Muhammad Syafei, ada­lah wujud bagaimana pen­di­dikan “karakter” yang seha­rusnya.

Dengan mendirikan Indo­nesische Nederlandsche School (INS) Kayutanam, pada tang­gal 31 Oktober 1926, di Kayu­tanam sebuah desa kecil yang terdapat di Kecamatan Kayu­tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Engku Muhammad Syafei, tampil menjadi peng­gagas pendidikan di Su­matera Barat. Menunjukkan bahwa Sumatera Barat, tak kehi­la­ngan sejarah bahwa pada saat dalam perjuangan merebut kemer­dekaan, dan pasca ke­mer­­de­kaan Sumatera Barat punya sekolah, tempat dimana orang-orang terdidik Sumatera Barat di besarkan.

Baca Juga : Lisda Hendrajoni Usulkan Penguatan BNPB

Namun sayangnya, be­sar­nya nama INS Kayu­tanam, terkadang kita sering lupa dengan gagasan yang dibawa oleh Engku Muhammad Syafei, penggagas INS Kayu­tanam ini, bagaimana cikal bakal pen­didikan yang sering kita lupa­kan, bahkan literatur yang mendalam tentang diri­nya, jarang dan sulit  untuk dite­mukan. Jika sejarah pemilik kekuasan melupakannya, hen­daknya generasi muda, sebagai generasi penerus, bahkan pelu­rus, tak melupakan fungsi bahwa menggali pemikiran, orang-orang yang dilupakan dalam sejarah itu adalah visi besar anak muda.

Bukan bermaksud mengiri atau dengki dengan Ki Hajar Dewantara, kehadiran Taman Siswa menjadi gagasan yang saat ini berkembang, bagi banyak kalangan pendidikan Taman Siswa menjadi titik sentral yang sering men­tia­dakan pendidikan yang lain. Dalam hal ini, INS Kayu­tanam, jangan sampai menjadi artefak sejarah, kalau Sekolah orang terdidik kaum per­ge­rakan ini, harus tetap digali nilai-nilai yang dibawa, dan dimiliki oleh lembaga pen­didikan ini—agar tak ada, lonjakan zaman yang bisa mentiadakan gagasan,  bahwa kita melupakan nilai-nilai yang seharusnya ada, apalagi kita masyarakat Sumatera Barat.

Gagasan  Engku Muhammad Syafei

Jika kita dalami,  filosofi dan falsafah pendidkian dari Engku Muhammad Syafei ada tiga yaitu, pertama, Belajar dari alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus diselidiki dan diperhatikan “Alam ter­kembang jadi guru”. Kedua,  Falsafah pendidikan “Jangan minta buah mangga kepada pohon rambutan, tapi jadikan setiap pohon buahnya manis”. Ketiga, Jadilah engkau jadi engkau. Sekolah mengasah kecerdasan akal budi murid, bukan membentuk manusia lain.

Apabila didalami, konsep dan strategi pendidikan yang dipegang oleh Engku Mu­hamad Syafei adalah, konsep “tigo tungu sajarangan”, yakni, otak, otot dan hati. Dalam hal ini, otak digunakan untuk berfikit, dan otot adalah proses dalam mewujudkannya dalam bentuk karya. Dalam hal ini, hati adalah proses pemaknaan kemanusian dan toleransi. Maka hal dikembangkan oleh Engku Muhamad Syafei, da­lam hal konsep pendidakan. Jika kita telisik kembali, dari filosofi dan falsafah, serta srategi. Gagasan Engku Mu­hamad Syafei dalam mem­perkenalkan pendidikan, ben­tul­-betul dekat dengan kema­nu­sian, pendidikan yang mem­besarkan orang banyak, bukan pendidikan program, yang mencetak anak didik, tak bisa berfikir kritis, kalau ia berhak membantah, berpendapat dan bertanya.

Tantangan Pendidikan Kita

Seharusnya, pendidik tak me­­ng­elakkan gagasan tentang En­g­ku Muhammad Syafei ini, da­­­l­am hal pola-pola pen­di­di­kan. Konsep yang dikem­ban­gkan oleh Engku Mu­hamad Sya­fie ini merupakan ben­tuk tan­tangan, bahkan saat pen­­di­dikan modern kita saat ini, ada­lah empasan bahwa pen­­di­dikan yang seharusnya ‘be­­bas nilai” harus tetap diper­ta­­hankan, jika tidak maka ni­lai-nilai yang ada dalam pen­di­­dikan akan mudah diper­alat oleh pe­nguasa pen­di­di­kan, un­tuk me­langgengkan ke­­ku­­asan. Mi­salnya, Orde Baru yang mem­­peralat pendidikan de­­ngan in­doktrinisasi pen­didi­kan.

Akibat yang muncul, saat pendidikan diperalat oleh kekuasaan, pendidikan yang seharusnya “kritis”dalam mem­­­­bicarakan banyak hal da­lam “ruang publik” cenderung ternodai, dengan hak milik kekuasan yang refresif, se­hingga pendidikan kita penuh dengan pembangunan rasa takut. Setalah itu, akan hadir juga perlawanan terhadap pen­didikan , penuh dengan keben­cian, saat dalam dunia pen­didiakn yang dikelola oleh pemerintah, mentiadakan mi­no­ritas dan memerdekkan ma­yo­­ritas. Betapa kecewanya kita, pe­n­didikan yang seharusnya ia lurus, kehilangan daya intelek­tu­alnya—karena pemba­ngu­nan dari dunia pendidkan kita sa­at ini cendrung salah orien­tasi—memahami pendidikan se­bagai “bebas nilai”, ia penuh de­­ngan keberpihakan. Apabia dunia pendidikan, memihak ke­pada kekuasan, ia akan cen­drung bergerak karena rasa ce­mas, dan was-was.

Belajar dari Muhammad Sya­fei, jangan sampai dunia pen­di­di­kan kehilangan, otak, otot dan ha­ti. Memamg ia, banyak dunia pen­­di­dikan saat ini hanya bicara akan, otak dan otot. Intelektual yang dihasilan memang bagus, tetapi ia kehilangan hati dan kemanusiaan. ***

 

ARIFKI
(Koordinator Minangkabau Tranparency Watch)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]