70 Pecandu Jalani Rehabilitasi di RSJ HB Saanin


Jumat, 01 Mei 2015 - 19:28:09 WIB
70 Pecandu Jalani Rehabilitasi di RSJ HB Saanin

Karena di Makasar mudah men­dapatkan sabu-sabu dari pengedar, Deno memakainya setiap hari. Untuk pemakaian pribadi, ia membeli sepe­rempat gram sabu-sabu seharga Rp400 ribu. Demikian pula saat ia pindah ke Padang pada awal 2011. Selama empat bulan di Padang, ia juga memakai tiap hari karena mudah mendapatkan ba­rang. Namun, saat pindah bekerja di rumah makan Padang di Bandung, ia memakai sekali tiga hari karena susah mendapatkan barang.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

“Saya susah mendapatkan barang karena takut bertanya siapa pengedar di sana. Saya membeli barang di Jakarta, melalui teman saya pengedar di sana. Karena susah mendapatkan barang, kadang saya membeli untuk stok tiga hari jika saya punya uang,” sebut pria kelahiran Padang 1989 ini.

Kerugian yang dirasakannya saat memaka sabu-sabu, tubuhnya makin kurus kaerna jarang beristirahat dan tidak mood makan, gigi rapuh, uang habis untuk membeli barang, dan tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Untuk menikah pun tidak terpikir ingin menabung karena uang yang didapat dibelikan barang.

Baca Juga : Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis

Berbeda dengan Romi, Deno direhabilitasi karena desakan orang­tua. “Jika tidak dipaksa orangtua, tidak terpikirkan oleh saya masuk ke sini, karena di sini hidup tidak bebas. Tidak ada orang yang mau dikekang,” ujarnya.

Dua minggu di Instalasi Napza, Deno selalu berniat kabur. Tapi ia tak jadi kabur, karena orangtuanya menjenguknya jika keinginan kabur memuncak. Setelah berlalu dua minggu, ia bersyukur direhabilitasi. Ia tak ingin kenal lagi dengan barang itu.

Baca Juga : Tidak Ada yang Berubah dari Sosok Buya Mahyeldi

“Saya memakai ganja, sabu-sabu karena rasa ingin tahu. Sudah cukup lama saya memakai barang itu, tidak ada lagi yang ingin saya ketahui. Selain itu, saya ingin melihat orang­tua saya senang. Selama saya mema­kai barang, saya tahu orangtua malu punya anak seperti saya,” katanya.

Jika terkenang masa lalu, alih-alih merasa bangga atau keren, Deno malu dan bodoh memakai sabu-sabu. Menurutnya, jika ada orang yang bangga memakai sabu-sabu, itu adalah­ orang bodoh karena mema­k­ai barang yang menghancurkan tubuh, pikiran dan masa depan.

Baca Juga : Anies Baswedan Menggapai Pangan untuk Pilpres 2024

Ditinggalkan tunangan, adalah kenangan pahit yang dirasakan Deno akibat memakai sabu-sabu. Kini, meski belum memiliki tunangan lagi, ia menatap masa depan dengan semangat tinggi.

Menurutnya, bandar dan penge­dar sabu-sabu dihukum mati saja, karena merusak generasi muda seperti dirinya.

Saat ini, di Instalasi Napza RSJ HB Saanin, terdapat 13 pasien, termasuk Romi dan Deno. Menurut Kepala Ruangan Napza, Ratna Devi, dalam setahun, rata-rata 70 pasien direhabilitasi di sana. Rentang usia pasien mulai dari 20 hingga 30 tahun. Rentang usia tersebut rentan mema­kai narkoba karena pertahanan diri belum kuat yang disebabkan faktor gengsi dalam pergaulan.

Selama direhabilitasi di sana selama tiga bulan, kata Devi, pasien yang merupakan korban, diberi berbagai pengobatan. Pertama de­tok­sifikasi, pengobatan medis untuk mengatasi gejala yang timbul akibat berhenti menggunakan zat adiktif. Gejala tersebut seperti takut, parno, berhalusinasi, tidak bisa tidur dan sebagainya, diatasi dengan terapi sintomatiks. Kedua, pengobatan residensial menggunakan terapi community. Dalam pengobatan ini diberikan pelajaran seperti bahaya narkoba, dampak psikologis yang timbul akibat memakai narkoba, pertahanan diri agar tidak kembali memakai narkoba, dan sebagainya.

“Setelah melalui dua program tersebut, mereka menjalani aktifitas sehari-hari dengan teratur, mulai bangun pagi pukul 5.00 WIB hingga tidur malam pukul 21.00 WIB. Kegiatan sehari-hari seperti makan, beribadah, olahraga, mendengarkan materi pembelajaran dan seba­gainya. Kemudian, sekali seminggu kon­sulitasi dengan psikolog,” papar­nya.

Setelah tiga bulan direhabilitasi, lanjut Devi, orangtua pasien dipang­gil sebelum dilepaskan pulang, sebab peran orangtua sangat besar mengawasi anak setelah keluar dari rehabilitasi.

“Kami menganjurkan kepada orangtua pasien untuk mencarikan kegiatan bagi pasien. Bagi pasien yang tidak lagi bersekolah, dian­jurkan memiliki pekerjaan. Se­dangkan bagi pasien dalam usia seko­lah, dianjurkan memiliki kegiatan yang berhubungan dengan sekolah atau dunia pendidikan. Jika tidak memiliki kegiatan, pasien akan ingat lagi dengan narkoba.

Ia menambahkan, sedikit sekali persentase pasien direhabilitasi balik ke Instalasi Napza karena menjadi pemakai lagi. Jika misalnya ada 70 pasien, hanya dua orang yang kem­bali. (*)

 

Laporan: HOLY ADIB

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]