Apa Kabar Salon ‘Plus-plus’ Padang Teater


Kamis, 07 Mei 2015 - 19:45:18 WIB
Apa Kabar Salon ‘Plus-plus’ Padang Teater

Makin gagah, necis dan tajir pria yang datang, semakin hangat sapaan yang mereka lemparkan. Mereka pun menawarkan untuk salon dan pijat dengan diksi-diksi rayuan maut. Tawaran bisa memberikan layanan plus-plus pun tak ketinggalan. Tak jarang beberapa orang dari wanita itu nekad menarik tangan si pria untuk singgah di salon dan tempat pijat mereka.

Baca Juga : Satu Korban Luka Kebakaran Pertamina Balongan Meninggal, Total Jadi Empat Orang

Jika orang-orang yang tak terbiasa dan belum tahu dengan kondisi itu pasti kaget, bahkan takut dan kecut. Bisa jadi pria tersebut memiliki tujuan lain berkunjung ke kawasan pertokan tersebut, bukan untuk salon atau pijat ‘plus-plus’. Karena di lantai dua kawasan pertokoan eks Biskop Padang Teater, bukan hanya tempat salon dan pijat yang ada, tetapi juga usaha-usaha lain, seperti  toko buku bekas, toko burung dan berbagai peralatannya, toko cincin dan batu akik dan lain sebagainya.

Ada puluhan toko di Kompleks eks Bioskop Padang Teatre  yang disulap menjadi tempat salon dan pijat ‘plus-plus’. Hari-hari, perdagangan seks terselubung itu pun terus terjadi. Meski banyak disorot dan bicarakan masyarakat, namun nyatanya anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam tersebut terus berlangsung.

Baca Juga : Arus Balik Lebaran Lewat Tol, Menhub Wajibkan Pemudik Bawa Hasil Rapid Tes Antigen

Tak jelas pula alasannya, mengapa Pemko Padang seperempat hati menindak keberadaan rumah salon dan pijat plus-plus tersebut. Apakah dianggap sebagai asset atau objek wisata, atau juga agar tidak bertambah orang yang kehilangan pekerjaan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang selalu muncul begitu setiap hari tampak praktik-praktik haram dilakoni para wanita  dengan pakaian minor di kawasan tersebut.

Atau bisa jadi keberadaan mereka tak menjadi target utama untuk dibenahi oleh Pemko Padang di bawah kepemimpinan Mahyeldi-Emzalmi. Karena di dalam 10 program unggulan Walikota dan Wakil Walikota Padang ‘Mahem’, penertiban dan pembenahan kegiatan-kegiatan seperti itu tidak termasuk.

Apapun alasannya, yang jelas keberadaan salon dan pijat ‘plus-plus’ itu tidak mendidik masyarakat ke jalur yang positif. Justru sebaliknya dapat merusak dan menyesatkan. Tidak ada kata lain, salon dan pijat ‘plus-plus’ itu mesti ditindak dan dihapuskan. Tunjukkan bahwa ‘adat  basandi syarak, syarak basandi kitabullah itu bukan sekedar tagline  nagari Minangkabau yang tidak memiliki makna dan pesan.

Tentu sangat tidak inginkan warga Kota Padang atau pun pengunjung dari luar Kota Padang dan Sumbar suatu saat melabeli kawasan tempat salon dan pijat plus-plus di kawasan pertokoan eks Padang Teater itu sebagai lokalisasi non resmi di jantung Kota Padang. Jika itu yang terjadi betapa malunya Kota Padang dan Ranah Minangkabau. Sebelum ‘bisnis lendir’ tersebut menjadi liputan khusus kegiatan prostitusi terselubung di jantung kota Padang oleh media televisi nasional, sebaiknya Pemko Padang dan pihak-pihak terkait menindak dan menyapu habis kegiatan amoral tersebut.

Pekerjaan melacur sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau. Ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa ke masa. Resiko yang dipaparkan pelacuran antara lain adalah keresahan masya­rakat dan penyebaran penyakit menular seksual, seperti AIDS yang merupakan resiko umum seks bebas. Keretakan rumah tangga yang berujung kepada perceraian juga bisa merebak akibat para pria beristri ‘jajan’ dagangan yang ditawarkan para pelacur. Pada akhirnya praktik-pratik itu juga mengundang kemurkaan Allah SWT. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]