Kalibrasi Alat Meter PLN Secara Periodik


Kamis, 07 Mei 2015 - 19:46:38 WIB
Kalibrasi Alat Meter PLN Secara Periodik

Terjadinya kasus semacam ini ada beberapa faktor yang patut menjadi perhatian kita bersama antara lain :

Baca Juga : Akal-akalan Pemudik Kelabui Petugas Penyekatan Larangan Mudik

1. Petugas mencatat mete­ran de­ngan cara menaksir de­ngan alasan pintu pagar rumah di­kunci sehingga tidak dapat masuk.

2. Mungkin di pintu pagar ada papan peringatan tertulis Awas ada anjing galak (buas) sehingga petugas ragu-ragu. Kebiasaan semacam ini biasa­nya terjadi dikota kota besar dan komplek elit.

Baca Juga : Puluhan WN China Masuk Indonesia, Publik: Warga Sendiri Dilarang Mudik!

3. Tidak tertutup ke­mung­kinan karena petugas ma­las disebabkan karena huj­an atau suasana panas sekali dan sebab lain sehingga digu­na­kan meto­de ini yang penting jum­lahnya menguntungkan PLN.

Pencatatan dengan cara penaksiran ini bisa saja dan kapan saja terjadi karena petu­gas hanya satu orang dan tidak ada saksi waktu mencatat se­hing­ga petugas adm di kantor akan menerima laporan adm apa adanya. Tidak semua petu­gas melakukan kasus semacam ini karena masih banyak petu­gas yang masih baik dan disi­plin, namun kelemahan sema­cam ini patut menjadi per­hatian kita bersama dan bagai­mana mencari jalan keluarnya. Bahkan sewaktu penulis ber­wa­wancara dengan salah seo­rang petugas pencatat di lapa­ngan mengatakan bahwa yang menaksir bukan dia tetapi karyawan yang di kantor yang menaksir dia hanya mem­buktikan dengan foto sebagai lampiran bukti bahwa dia sungguh-sungguh tidak bo­hong. Pantesan saja cara me­nak­sirnya ngawur karena dia tidak di lapangan entah apa dasar penaksiranya tetapi patut diduga yang perlu me­ngun­­tungkan PLN. Kalau me­mang benar kata petugas itu Kalau penaksiranya hanya berbeda sedikit sebagaimana yang ter­tu­lis di iklan PLN maka hal ini kondisi yang wajar saja. Kalau penaksiranya sampai tiga kali lipat atau lebih tentu­nya akan meru­gikan para pe­lang­gan yang tidak tahu cara­nya dan tidak melapor ke kantor PLN se­tem­pat. Apa lagi tarif listrik yang sewaktu-waktu naik tentu akan mem­beratkan pelanggan. Un­­tuk mengukur berapa peng­gu­naan KWH di dalam satu bu­lan PLN menggunakan alat me­te­ran yang dipasang pada din­­ding rumah pelanggan atau ba­ngunan yang meng­gunakan lis­trik itu. Kemu­dian timbul per­tanyaan benarkah alat itu da­lam me­ngukur pada setiap ru­mah atau bangunan lainya di­­sam­­ping yang ditaksir oleh pe­tugas yang nakal.?? Disi­ni­lah penulis ingin menyam­pai­kan pendapat dan wawasan agar tercapai objektivitasnya ha­sil ukuran karena menyang­kut konsumen dan sesuai de­ngan Undang Undang Metro­lo­­­­gi dan Undang Undang Kon­­­­­­­­­­su­­men bahwa alat ukur da­­lam dunia perdagangan se­per­­ti alat ukur lainnya yang me­nyangkut dengan ukuran pan­jang lebar berat dan volu­me atau isinya harus ditera. Alat ukur ini setiap tahunnya di­tera oleh Kementerian per­da­­gangan cq Metrologi di da­e­rah masing masing. Se­dang­kan ukuran yang dipasang oleh pi­­hak PLN pada setiap rumah ber­dasarkan pantauan rumah penulis sendiri dari semenjak di­pasang beberapa puluh ta­hun yang lalu sampai sekarang belum pernah ditera atau dipe­riksa kebenaranya oleh yang berwenang. Ada yang bilang katanya alat ukur meteran listrik ditera setiap 10 (sepu­luh) tahun sekali kalau me­mang demikian rasanya ter­lalu lama sehingga aku­ra­sinya diragukan. Masih men­di­ngan alat ukur yang disebut ar­gometer taxi setiap tahunya di­tera oleh Metrologi dan alat ukur kir kelaikan jalan ken­da­ra­an bermotor ditera oleh Dirjendat Pusat sehingga mem­­­­­­­­­­punyai kekuatan hukum bi­­la terjadi kasus. Kami juga meng­­harapkan pihak Yayasan Lem­­­baga Konsumen Indo­nesia (YLKI) dan badan hu­kum lainya untuk dapat ber­par­­tisipasi mem­bahas ma­sa­lah ini agar menda­patkan sta­tus hukum sebagaimana mesti­nya.

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Juga tidak kurang penting­nya setiap berita kebakaran pada umumnya pihak PLN dikambinghitamkan dengan pernyataan sebab kebakaran karena arus pendek (korts­luiting) dan anehnya kok tidak dituntut dengan KUHP mau­pun KUH Perdata sebagai pe­nye­bab kebakaran. Tun­tu­tanya selalu kepada pemilik rumah atau pihak lain di luar PLN. Pada hal yang punya rumah tidak tahu menahu ten­tang masalah arus pendek. Tentunya menyerahkan kepada pema­sang kabel kabel rumah apakah itu baik atau tidak yang jelas semenjak dipasang oleh insta­latur PLN sampai seka­rang tidak pernah dicek seka­lipun.  Bagaimana kalau dike­lu­arkan peraturan pusat atau Peraturan Pemerintah (PP) bahwa kabel yang dipasang oleh PLN dalam kurun waktu tertentu memiliki masa laku misalnya setiap lima tahun sekali diadakan peme­riksaan oleh pihak PLN dengan gratis. Adapun dari mana pihak PLN mendapatkan biaya tentu­nya dengan memungut dari para pelanggan setiap pemba­yaran rekening tiap bulannya. Misal­nya dipungut sejumlah rupiah yang besarannya ter­jang­kau oleh pelanggan seperti pungu­tan sampah yang dibayar pada waktu membayar reke­ning air PAM di cabang masing-ma­sing. Kemudian pelak­sa­naan pemeriksaan dilakukan seperti orang arisan digilir setiap kelurahan dengan jadwal ter­pro­gram dengan biaya yang dipungut tadi. Dengan peme­riksaan secara periodik mu­dah- mudahan kasus kebakaran yang disebabkan karena arus pendek dapat dikurangi atau dicegah sekecil mungkin. Pu­ngu­tan semacam ini dapat dilakukan bersifat kedaerahan atau mungkin terpusat. Kalau terpusat prosedurnya akan rumit dan memungkinkan ada­nya korupsi dipusat tetapi ka­lau perdaerah mungkin akan lancar dan prosedur pendek. Sistem penggantian kabel dan pemeriksaan dalam kurun wak­­­­­­tu ter­tentu dapat diusulkan kepe­merintah pusat untuk diperlakukan diseluruh pro­pinsi di Indonesia ini.

Dengan penggantian alat me­­teran listrik yang dipasang di­ ­dinding rumah pelanggan yang menggunakan sistem pul­sa saya rasa bisa meng­gantikan pe­­tugas yang selalu datang ke ru­­mah rumah dimana penca­ta­­tannya ada yang tidak beres di­­karenakan dengan menaksir nak­­sir saja. Keuntungan alat ini pihak PLN tidak perlu lagi men­­catat pada setiap rumah pe­­langgan dan petugasnya da­pat dimanfaatkan untuk tugas lain­­nya namun tetap harus di­te­ra se­tiap tahunya Dika­la­ngan ma­syarakat ada berita atau in­for­­masi yang sedikit meng­­ge­li­sahkan dari mulut ke mu­lut da­ri seseorang yang pa­ham ten­tang perlistrikan me­nga­­takan bah­wa dengan meng­gu­­nakan me­teran pulsa agak bo­ros atau ce­pat habis bila di­ban­dingkan de­ngan sitim me­te­ran lama  dan jumlah ru­pi­ah­nya sedikit naik. Apa­kah benar atau tidak tentunya perlu men­dapat per­ha­­tian kaitannya de­ngan kewa­ji­ban peneraan se­tiap tahun­nya. Berdasarkan in­for­masi petu­gas teknik dari PLN sen­diri mengatakan ba­nyak alat me­te­­ran yang rusak se­­karang dan disimpan di gu­dang. Keru­sa­kan tersebut di­per­kirakan kwa­litas atau mutu alat itu ku­rang baik sehingga mungkin per­lu diganti merk pabrik lain yang lebih bagus dan disinilah ar­ti dan manfaat tera setiap ta­hunya. Bagi ru­mah-rumah yang dikon­trak­kan program ini le­bih me­ngun­tungkan pelang­gan ka­rena  terhindar tung­ga­kan biaya kistrik bulanan yang belum dibayar oleh pe­ngon­trak yang pin­dah secara diam diam. Ka­sus semacam ini se­ring ter­jadi dan menga­kibatkan pemu­tu­san arus lis­trik dan pemilik rumah me­ngu­rus serta menge­lu­arkan biaya. Hanya kele­mahanya bila pelanggan lalai ti­dak me­nge­cek berapa tinggal si­sa pulsa maka tidak ter­tutup ke­mung­kinan dite­ngah malam listrik mati karena pul­sa habis. Bagi yang memi­li­ki tabungan di Bank dengan cara transfer melalui HP atau komputer walaupun tengah malam kata­nya bisa dihi­dup­kan kembali asal sudah bayar melalui bank tersebut tetapi bagi rakyat biasa yang tidak punya simpa­nan dibank tentu mejadi masa­lah. Selain itu bagi manula (manusia umur lanjut) yang tidak punya saudara dan harus bayar sendiri dan kalau mela­lui transfer karena sudah lanjut ti­dak mampu menguasai sis­tem ini maka kebuntuan yang di­jumpai. Jadi bagi konsumen ma­syarakat bawah atau yang hi­dupnya serba terbatas keba­nyakan memasang alat tanpa meteran yang biasanya sebesar sekitar 400 Watt mungkin tidak perlu menggunakan sis­tem pulsa.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Masalah lain yang meru­pakan keluhan bagi pelanggan yakni sewaktu aliran listrik mati apakah itu bersifat indi­vidu atau satu rumah atau mati banyak rumah komplek petun­juk yang ada harus melapor ke telpon 123. Ternyata telpon ini be­rada di Jakarta dan setelah me­lapor dan ingin penjelasan le­bih lanjut apakah kerusakan ini pada jaringan atau pada mesin pembangkit dengan maksud untuk mengira ngira lama waktu yang akan dialami ternyata petugas di Jakarta tidak tahu dan akan mela­por­kan kedaerah yang bersang­kutan. Bahkan petugas pene­rima telpon belum pernah kekota Padang sehingga hal ini sangat mengecewakan pelang­gan bila dibanding dengan sistem dulu yang laporannya diterima di daerahnya masing-masing. Sudah kena biaya interlokal telpon ke Jakarta jawaban tidak memuaskan bahkan kadang kadang terpan­cing jadi emosi dalam dialog dengan petugas penerima tel­pon di Jakarta itu. Timbul pertanyaan apa motivasi se­mua laporan  harus kepusat sedang­kan pusat petugasnya bloon ha­nya mampu meneruskan sa­ja. Apakah mungkin pihak PLN bekerja sama dengan pi­hak Telkom dalam hal bagi ha­sil penggunaan pulsa??? Ra­sa­­nya tidak masuk akal dugaan ini tetapi hal ini dapat me­man­cing dugaan dugaan negatif.

De­ngan terpusatnya semua la­­poran melalui telp.­123 tentu akan menyi­buk­kan penerima tel­­pon pusat disam­ping kepu­asan pelanggan tidak didapat. Ja­­di sebaiknya kem­ba­likan saja ke sistem lama laporan dite­ri­ma didaerahnya masing ma­sing dan terhindar tarif inter­lo­kal serta petugas­nya mengu­asai betul apa keru­sakan yang se­dang terjadi didaerahnya ma­sing-masing. Mudah mu­dahan wa­wasan atau opini ini dapat dijadikan masukan dan per­tim­bangan bagi yang ber­sang­ku­tan terma­suk YLKI dan lem­baga hukum lainya yang ter­kait guna menga­tasi ketidak pu­asan para pe­lang­gan sebagai kon­sumen PLN de­ngan mete­ran yang tidak/be­lum ditera. Terima kasih. **

 

SOEHARTONO
(Pengamat Sosial)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]