Mengatur Keuangan Keluarga


Ahad, 10 Mei 2015 - 18:54:41 WIB
Mengatur Keuangan Keluarga

Kalau keluarga muda tak memiliki kesadaran finan­sial, bukan tak mung­kin justru kebutuhan anak men­jadi telantar. Anda ten­tu tak ingin hal ini menimpa pada sang buah hati bukan? Ka­rena itu, ketika anak per­tama mulai hadir da­lam keluarga muda, mereka mes­ti menilik neraca keu­angan.

Baca Juga : Selama Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah, Trafik Layanan Data Telkomsel Naik Hingga 49%

Perencana keuangan da­ri Taatadana Consulting Felicia Imansyah menga­takan, awal pernikahan me­ru­pakan masa penting pem­bangunan pondasi keu­a­ngan keluarga untuk masa yang akan datang. Sebab, makin lama kebutuhan ke­luar­ga akan semakin kom­pleks dengan bertambahnya anak, usia, dan kebutuhan hidup. “Karena itu, ke­luarga muda harus hemat dan cermat sejak awal ber­keluarga,” kata perempuan yang biasa disa­pa Lici ini.

Perencana keuangan da­ri Fin-Ally Financial Plan­ning and Consulting Pandji Harsanto mengoreksi ke­biasaan tidak baik yang dila­kukan keluarga muda ketika mendapatkan anak pertama, yakni membeli kebutuhan untuk sang buah hati secara berlebihan. Se­but saja, mem­beli pakaian dan perleng­kapan bayi hing­ga menum­puk. Pa­da­hal, masa pertum­buhan yang cukup pesat pada usia bawah lima tahun (balita) menyebabkan san­dang tak akan dipakai dalam waktu yang lama.

Baca Juga : Wajib Tahu, Saat Ekor Kucing Mendadak Mengembang Artinya Begini

Saran Pandji, sebaiknya keluarga membeli keper­luan bayi secukupnya saja. “Kalau dapat pinjaman stro­l­ler dari saudara misalnya, tidak perlu malu me­ma­kainya. Atau, bisa menyewa saja perlengkapan bayi,” kata Pandji. Kekeliruan yang dilakukan keluarga muda tersebut biasa terjadi karena saking senangnya men­dapatkan momongan.

Pos-pos penting

Alih-alih memboros­kan uang untuk keperluan yang bersifat sementara, para perencana keuangan me­nya­rankan agar keluarga segera melengkapi pos-pos kebu­tuhan yang bertalian dengan kepentingan anak. Nah, beri­kut ini beberapa pos yang harus segera di­alokasikan:

Menambah dana darurat

Sebelum melebarkan sayap dengan membeli pro­teksi atau berinvestasi, ke­luarga wajib memiliki dana darurat. Dana darurat ini bertujuan untuk kas cada­ngan jika sewaktu-waktu sumber pendapatan tergang­gu. Perencana keuangan mengatakan ketika keluarga muda belum memiliki anak, dana darurat bisa dica­dang­kan tiga hingga enam kali dari total pengeluaran bu­lanan. Jadi, semisal pe­ngeluaran bulanan Rp7 juta maka dana darurat yang mesti terkumpul Rp21 juta - Rp42 juta.

Namun, ketika sang bu­ah hati mulai melengkapi hidup keluarga Anda, dana darurat harus segera di­injeksi lebih banyak men­jadi enam hingga sembilan kali. Masih dengan contoh yang sama, yakni penge­luaran bulanan Rp7 juta, maka dana darurat yang harus dipenuhi adalah Rp42 juta - Rp63 juta.

Pandji memaklumi pe­menuhan dana darurat se­banyak sembilan kali tak akan mudah bagi semua keluarga muda. Solusi dia, pada permulaan bisa di­kum­pulkan 30% dari sem­bilan kali dana darurat dulu. Atau, jika melanjutkan con­toh dia atas, dana darurat yang harus dipenuhi di awal sebesar Rp18,9 juta.

Nah, sambil jalan, ke­luar­ga muda bisa me­me­nuhi porsi yang disa­rankan ter­sebut. Dengan modal 30% dari dana darurat su­dah terpenuhi saja, keluarga mu­da bisa menginjak pada pos selanjutnya, yakni mem­beli asuransi jiwa.

Catatan Lici, dana da­rurat harus likuid alias mudah dicairkan. Karena itu, cara mengatur keu­angan keluar­ga menya­ran­kan dana ditem­patkan di tabu­ngan, deposito, logam mu­lia, atau reksadana pasar uang.

Investasi pendidikan

Bukan cuma kebutuhan sandang atau pangan anak yang menyedot dana besar, tapi juga pendidikan. Peren­cana keuangan menya­ran­kan, sejak anak hadir dalam hidup Anda, harus segera dibikin pos dana pen­di­dikan. Lici bilang, investasi pendidikan bisa dibagi ber­dasar jenjang pen­didikan, misal tingkat play group, TK, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

Pemilihan keranjang investasi bisa disesuaikan dengan jenjang pendidikan tersebut. Makin jauh jenjang pendidikan yang akan dituju tentu pilihan keranjang in­vestasi bisa makin agresif dengan harapan mendapat imbal hasil lebih besar. Pilihan produk in­ve­s­ta­sinya, seperti logam mulia untuk jangka pendek, rek­sadana campuran untuk jangka menengah, dan rek­sadana saham untuk inves­tasi jangka panjang.  (h/net)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]