Pendidikan dan Kearifan lokal dalam Masyarakat


Senin, 11 Mei 2015 - 19:56:30 WIB
Pendidikan dan Kearifan lokal dalam Masyarakat

Koenjaraningrat  (2005). Kebudayaan  adalah keseluruhan sistem  gagasan , tindakan dan hasil karya manusia dengan belajar . Kebudayaan itu tidak hanya sebatas tradisi, adat , ke­seniaan melainkan  meliputi segala aspek kehidupan yang dihasilkan dari hasil proses pengalaman, prilaku, perasaaan ketrampilan, pe­mi­kiran  gagasan serta tin­dakan  manusia dalam me­menuhi kebutuhan hi­dup dan keserasian hidup de­ngan lingkungan. Wujud dari kebudayaan terilihat pada kearifan lokal tersebut.

Baca Juga : Kritik Wacana Poros Partai Islam, Zulkifli Hasan: Ini Bertentangan dengan Rekonsiliasi Nasional

Kearifan lokal adalah nilai nilai, pandangan ma­sya­rakat setempat yang ber­sifat bijaksana dan penuh pengertian. Yusri (2008) mengemukakan bahwa ke­arifan lokal  adalah sistem  ide dan makna yang dimi­liki masyarakat  secara ma­tang  yang merupakan hasil proses belajar dan seleksi  sosial dalam berpikir, ber­sikap dan bertindak serta berprilaku  yang berfungisi untuk penataaan ling­ku­ngan dalam berbagai aspek kehidupan seperti politik, ekonomi , hukum dan lain-lain.

Adapun fungsi kearifan lokal menurut Sar­tini (2006 : 112 ) adalah

Baca Juga : Jokowi: Industri Otomotif Harus Segera Diakselerasi

1.  Untuk kon­­servasi  dan pe­les­tarian sumber da­ya alam

2.  Untuk pe­ngem­­ba­ngan sumber daya manusia

Baca Juga : Masyarakat Antusias Disuntik Vaksin Nusantara, Saleh Daulay: Tak Ada Muatan Politik

3.  Untuk pengem­ba­ngan kebudayaan  dan ilmu pengetahuan

4.  Sebagai petuah, ke­per­­cayaan , sastra dan pan­tangan

Baca Juga : Kasus Covid-19 di Indonesia Merangkak Naik: Tambah 6.177 Positif Baru, DKI Jakarta Terbanyak

5.  Bermakna sosial  yang ter­lihat dalam upacara suatu komunitas atau kerabat.

6.  Bermakna etika dan moral

7.  Bermakna politik

Kearifan lokal membawa pesan kepada masyarakat da­lam proses menyelesaian ma­sa­lah di lingkungan sehingga  semangat mengangkat  ke­arifan lokal sebagai  sebagai salah satu solusi dalam pe­me­cahan permasalahaan dan mem­berikan penekanan bah­wa kearifan lokal adalah pro­duk budaya  yang dapat me­nyatu tatanan kehidupan agar lebih serasi dan adaya pene­kanan  akan penting par­tisi­pasi masyarakat  dalam pen­ciptaan kearifan  kearifan kehidupan patut di hargai dan perlu digalakan pengalian- pengalian kearifan lokal yang banyak tersebar di bumi nu­san­tara ini.

Upacara tradisional meru­pakan sarana untuk mendidik dan melatih  anggota masya­rakat  supaya manusia yang beradat, berakhlak dan memu­puk rasa kegotong royongan , rela berkorban, beriman kepa­da Yang Maha Kuasa. Upa­cara dilakukan juga dalam rangka mengucapkan syukur atas karunia dan rezki yang telah diterima baik rezeki harta maupun harta akan seorang anak yang baik dima­na anak adalah harapan pene­rus keluarga yang tum­buh mrnjadi insan yang utuh dan diharapkan tingkah lakunya bera­da pada posisi yang ber­pihak kepada ke­maslahatan orang banyak  dan lingku­ngan­nya, hidup penuh keda­mai­­an dan ke­ber­ka­han. Upa­cara turun mandi me­mi­l­iki simbol  warisan ke­buda­yaan  dan kita mem­punyai kewajiban untuk meles­tarikan dan mem­per­ta­han­kan nilai lu­hur terse­but.

Revitalisasi  dari nilai lokal  perlu  dipertahankan pada masa kekinian ini dalam rangka kebelanjutan peradaban manusia dan kearifan lokal juga berguna dalam keangka poses pem­bentukan karakter anak bangsa. Alwasilah dkk  (2009;53 ) menegaskan  bahwa lembaga pendidikan  selain sebagai  agen pem­baharu juga memproduksi  nilai budaya atau kearifan lokal  dan ini modal  sosial  dalam masyarakat. Untuk itulah  proses kegiatan pem­belajaran  yang berbasis kearifan lokal  menjadi tun­tutuan  yang perlu dibu­dayakan dan ini dapat men­jadi sumber belajar bagi dunia pendidikan .

Perkembangan dunia pendidikan akhir-akhir ini lebih memfokuskan kepada penanaman nilai dan Men­tal bangsa. Nilai dan mental bang­sa ini  tak le­pas dari pengaruh  nilai dan men­ta­litas lokal masing-masing suku bang­sa yang ada di Indo­nesia. Pena­naman nilai dan mentalitas  bangsa mau tidak mau me­nun­t­ut guru untuk lebih bersikap bijak­sana dalam memilih sumber belajar  yang tepat untuk mem­bangun mental  peser­ta didik, untuk itu memper­ha­tikan mental  dan ke­arifan lokal daerah setem­pat men­jadi suatu yang pen­ting seba­gai­mana tercantum da­lam tu­juan pendidikan na­sio­nal  dalam UUD  Sis­tem pendi­dikan nasional no 20  tahun 2003. Tujuan pen­di­dikan nasional  adalah me­ngem­­bangkan potensi  pe­ser­ta didik  agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, man­diri  dan men­jadi warga negara yang semo­kratis dan ber­tang­gung.

Pembentukan mental peserta didik menjadi bagian penting dalam tujuan pendi­dikan nasional kita, oleh karena  pendidikan bagian  dari  mata pelajaran yang ada dalam kurikulum pendi­dikan dasar dan menengah  memiliki peran penting dan startegis  dalam pem­ben­tukan mental  dan jati diri bangsa. Dan pembe­lajaran yang bersumber  pada nilai kearifan  lokal juga penting bagi pengembangan diri peserta didik.

Dengan adanya per­ha­tian pada tradisi  meru­pakan  suatu keharusan dalam rang­ka mempertahankan nilai-nilai warisan bangsa  dan ketentraman nasyarakat, karena berbagai stakeholder  baik masyarakat, peme­rin­tah, tokoh masyarakat mem­punyai tanggung jawab un­tuk mempertahankan tradisi yang memiliki kearifan lo­kal. Tanggung jawab ini juga berada di pundak guru  seba­gai orang yang memberi pemahaman dan mena­nam­kan mental atau karak­ter bagi generasi penerus bangsa yang berasal dari kearifan lokal masyarakat itu sendiri.

Nilai kearifan lokal  yang ter­kandung merupakan mo­dal  sosial dalam pem­bangu­nan negeri ini. Dalam kehi­du­pan masyarakat cukup ba­nyak terdapat sistem nilai, sis­tem nilai yang menjafi fal­safah hidup dan pedoman ma­syarakat dalam menja­lan­kan aktivitas kehidupan se­ha­ri­-­hari. Makna  dan nilai ke­arifan lokal  yang ada da­lam masyarakat  memiliki tu­juan untuk mengem­bang­kan peserta didik mampu me­­ngem­bangkan penge­ta­hu­an­­nnya   yang bersumber pa­­da kearifan lokal  masya­ra­­kat setempat,  memiliki ke­­t­erampilan dalam mema­ha­­mi masyarakat pada pro­ses kehidupan dan memiliki si­­kap  dan prilaku yang se­laras nilai kearifan lokal ter­se­but.

Pembelajaran  yang ber­sum­ber pada kearifan lokal  adalah landasan  berprilaku siswa  untuk menyikap masa­lah dan krisis kehidupan yang ada diseki­tarnya. Ke­arifan lokal  membangun suatu identitas diri bangsa dan filter atas masuknya ke­budayaan asing ke Indo­nesia. Untuk dapat mela­kukan pembelajaran  yang bersum­ber pada nilai ke­arifan lokal  dari masyarakat bagi peserta didik  tentu diperlukan pe­ma­haman  mak­­­na yang ada  dibalik nilai-nilai kearifan lokal  tersebut dan diper­lukan pen­de­katan yang lebih par­tisi­patif  kepada peserta didik. Adanya pemahaman tentang nilai kearifan lokal untuk peserta didik menjadi  fon­dasi dalam keberlanjutan tatanan kehidupan yang akan datang. (*)

 

WIRDANENGSIH
(Mahasiswi S3 UPI Bandung)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]