Basamo, Berat Dipikul Ringan Dijinjing


Kamis, 14 Mei 2015 - 18:37:49 WIB
Basamo, Berat Dipikul Ringan Dijinjing

Sebenarnya, budaya go­tong royong bukan hal baru bagi orang Minangkabau. Budaya gotong-royong di Minangkabau dilakukan untuk mempercepat pem­bangunan kampung. Bukan hanya infrastruktur, tetapi juga suprastuktural kam­pung meliputi etika, mental anak nagari, lembaga-lem­baga dan filsafat. Semua elemen masyarakat bersatu untuk memajukan kam­pung. Baik urang kampuang maupun urang rantau. Ke­ampuhan budaya gotong-royong ini pernah kita buk­tikan ketika Kota Padang diporak-porandakan gempa berskala 7,9 Scala Richter pada 30 September 2009 lalu. Saat itu, sempat orang pesimis ekonomi Sumbar akan dapat bangkit lagi.

Baca Juga : Pemerintah Izinkan Sektor Esensial Beroperasi Selama Larangan Mudik

Namun, dengan ke­sung­guhan gotong-royong ma­sya­rakat Sumbar, Pe­me­rintah Provinsi, Peme­rinta­han Adat, dan perantau Minang untuk kembali mem­­­bangun daerah ber­buah manis. Indikatornya terlihat dari data per­tum­buhan ekonomi yang dike­luarkan oleh BPS, di mana pascagempa pertumbuhan ekonomi berada di bawah rata-rata nasional (turun drastis sampai 4,28%), dan sete­lah dilakukan rehab-rekon pertumbuhan ekonomi naik tajam tahun 2010 dan terus naik sampai 6,5% hingga ta­hun 2012 (data diambil dari website resmi Bappeda Kota Padang).

Konsepsi tentang Gotong-royong

Baca Juga : BPUM, Solusi Genjot Pelaku UKM di Masa Pandemi 

Masih ingat bagi penulis, Bung Karno dan Bung Hatta sebagai tokoh proklamator yang mempulerkan Pancasila mengutarakan bahwa jika Pancasila diperas, maka nilai gotong-royonglah yang ada diperoleh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gotong-royong inilah inti dari sikap budaya bangsa kita, seharusnya. Lalu apa yang membuat nilai budaya ini makin tak terjiwai di Indo­nesia dan Sumatera Barat khu­susnya? Salah satu pe­nye­babnya adalah penggunaan uang atau dana sebagai tolok ukur yang cukup untuk par­tisipasi dalam kegiatan ke­mas­yarakatan.

Anggapan bahwa uang bisa mewakilkan seseorang dalam gotong-royong bukan hanya melanda masyarakat met-ropolitan di Jakarta, misalnya, tetapi juga sudah mulai masuk ke nagari-nagari kita di kam­puang. Banyak masyarakat yang lebih memilih mem­berikan dana/sumbangan un­tuk pembangunan desa, ter­utama bagi yang ber­ke­mam­puan. Memang ini bukan hal yang disalahkan. Toh, dalam pembangunan kampung kita pun butuh suntikkan dana.

Di beberapa desa bah­kan secara nyata uang men­jadi perusak semangat go­tong ro­yong warga desa. Kehadiran dalam sebuah kebersamaan pun ter­ka­dang diwakilkan dengan uang. Tidak hadir ronda, cukup membayar den­da. Tidak hadir dalam per­temuan, cukup me­nitip­kan uang iuran. Tidak ikut kerja bakti, cukup memberi sum­bangan. Bagi para peran­tau yang tidak bisa bertatap muka karena terpisahkan jarak tentu sah-sah saja bu­kan? Nah, bagaimana de­ngan yang masih tampak batang hi­dung­nya di dalam kam­puang?

Tentu perlu kita kaji ulang bersama bahwa tu­juan dari gotong-royong bukan hanya kepada hasil saja. Proseslah tujuan akhir dari budaya gotong-royong ini, yaitu mengurangi ke­senjangan sosial yang te­r­jadi antarmasyarakat. Go­tong-royong akan meng­hadirkan ruang interaksi yang lebih banyak antar­golongan masyarakat. Nilai kehadiran seseorang men­jadi sangat penting. Inilah yang disebut dengan konsep bermasyarakat.

Risiko lain dari keter­wakilannya seseorang oleh uang dalam gotong-royong juga berpotensi dikorupsi. Bukan berhusnu’zon, ke­khawatiran penulis ini me­mang sering terbukti. Bu­daya menyumbangkan uang dari para perantau kaya bisa diubah menjadi barang men­tah atau barang pro­duksi agar tidak mudah ma­suk kantong pribadi dari orang-orang yang tidak ber­tanggung jawab. Sesekali perantau bisa membuka ke­las-kelas inspirasi bagi anak nagari seperti kelas enter­peuneur dan pinjaman dana segar bagi anak muda yang ingin berwirausaha. Berbaur­nya perantau dalam masya­rakat (mungkin ha­nya sekali setahun saat libur lebaran) dengan cara ini, akan lebih efektif mengu-rangi kesen­jangan sosial, seperti tujuan awal dari go­tong-royong.

Dalam beberapa keja­dian, masyarakat sering pun salah kaprah terhadap go­tong-royong. Gotong-ro­yong hanya dianggap se­ba­gai kerja bersama meng­gunakan otot dalam mem­perbaiki atau mengadakan fasilitas milik bersama. Se­benarnya, penggunaan semangat go­tong-royong bisa diterapkan dalam ba­nyak hal, termasuk kerja otak. Inilah yang mulai ha­rus bersama kita “kejar” sebagai masyarakat beradat dan berbudaya. Misalkan, gotong-royong dalam ber­komitmen bersama terha­dap pemberantasan korupsi di pemerintahan Sumatera Barat,  pendidikan motivasi bagi anak-anak daerah dan gagasan-gagasan untuk Mi­nang­kabau tahun 2030 pun bisa digotong-royongkan dalam pemikiran bersama.

Harapan untuk Pe­mim­pin Su­matera Barat

Kesuksesan Ridwan Ka­mil sebagai Walikota Ban-dung yang mampu meng­gaet massa untuk berpartisipasi dalam segala aktivitas pem­bangunan kota tentu bisa menjadi cermin bagi pe­mimpin-pemimpin kita di ranah Minangkabau. Me­ngingat, alek gadang pe­milihan kepala daerah (pil­kada) pada tiga belas kota/kabupaten dan pemilihan untuk Provinsi Sumbar pada Desember 2015 nanti akan segera dimulai. Dengan ini, penulis berharap muncul­nya ke permukaan pemim­pin-pemimpin yang akan kem­bali membuat ‘hangat’ jiwa gotong-royong. Budaya na­sional bangsa yang sudah mulai ditinggalkan.

Menurut penulis, salah satu cara mewujudkannya adalah dengan menjadikan segala sesuatu yang dimiliki kota/bersama sebagai se­buah kebahagiaan atau ke­cintaan oleh warganya sen­diri. Bukan hanya dalam hal insfrastruktur saja. Calon pemimpin Sumatera Barat harus bisa membuat ma­syarakat sadar bahwa apa yang dibuat oleh pemerintah merupakan kepemilikan bersama yang harus dijaga dan dikembangkan. Para ahli menyebut ini dengan “Index of Happiness”. Tugas baru dari pemimpin masa depan Sumatera Barat ada­lah menciptakan keba­ha­giaan-kebahagiaan baru ma­syarakat dari apa yang dimi­liki bersama/umum, sehing­ga seseorang memiliki fee­ling bahwa keberadaannya hadir bersama fasilitas yang dihadirkan pemerintah.

Untuk menggaet massa dalam budaya gotong-ro­yong, calon pemimpin-pe­mimpin di Sumatera Barat harus mampu menjadi you­ngers darling (kesayangan anak muda). Dengan ini, catatan penting adalah harus mampunya menarik per­hatian kaula muda untuk andil dalam pembangunan kota/kabupaten di Sumatera Barat, setidaknya dalam promosi program pe­me­rin­tah. Hal ini mengingat be­sarnya potensi kreatif dan inovatif dari kaula muda yang belum termaksimalkan, terutama kalangan maha­siswa dan siswa SMA yang memiliki kemampuan me­na­rik elemen masyarakat lain dengan cara baru dan lebih personal.

Selain itu, pemerintah Sumatera Barat juga harus kembali memfungsikan rua­ng publik, mungkin, sudah tidak layak, atau mencip­takan ba­nyak ruang publik baru se­hingga semakin ba­nyak rua­ng interaksi warga. Semakin banyak interaksi sosial, gotong-royong akan semakin mudah diwujudkan. Semoga filosofi Minang­kabau barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang tidak terucap di mulut saja. Mari bersama berpikir mem­ba­ngun nagari.**

 

SUGARA YOPPINDRA
(Mahasiswa Jurnalistik FIK Unpad Sekum Unit Pencinta Budaya Minangkabau Unpad)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]