Reksadana Syariah, Primadona Investasi di Masa Depan


Ahad, 17 Mei 2015 - 19:30:41 WIB
Reksadana Syariah, Primadona Investasi di Masa Depan

Secara harfiah, reksadana sendiri merupakan salah satu bentuk investasi dimana para investor akan mengin­ves­ta­si­kan dana atau modalnya yang kemudian akan dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Di Indonesia, reksadana terbagi atas reksadana konvensional dan juga syariah. Jenis reksa­dana yang belakangan mulai populer dan bersinar di kala­ngan investor adalah reksadana berbasis syariah. Adapun jenis rek­­sadana ini kemudian juga di­­kelompokkan kedalam tujuh je­­nis, yaitu reksadana pasar uang, saham, pendapatan tetap, cam­puran, terproteksi, indeks dan ETF (Exchange Traded Fund). Yang dimaksud dengan rek­sadana pasar uang yaitu in­vestasi dimana investor akan be­r­investasi 100 persen pada in­s­trumen pasar uang dan ber­la­ku kurang dari kurun wak­tu sa­tu tahun. Sedangkan, rek­sa­da­na saham merupakan jenis rek­sadana dimana seti­dak­­nya se­kitar 80 persen inves­ta­si di­kelola dalam efek bentuk ekui­tas (saham). Selanjutnya, rek­sa­dana pendapatan tetap di­ma­na investasi ini berlaku le­­bih dari satu tahun dan kebi­ja­kan investasi minimal 80 per­­sen pada instrumen obli­ga­si. Jenis reksa dana ini meru­pa­­kan bentuk reksa dana dima­na surat hutang yang dimiliki akan mendapat pembayaran bu­­nga (kupon) dari penerbit yang kemudian akan direin­vestasi.

Baca Juga : Modus Operandi Kecoh Petugas, Pemudik Gunakan Ambulans

Lebih lanjut tentang jenis reksadana yang lain, yaitu reksadana campuran. Reksa­dana campuran merupakan jenis reksadana yang mengom­binasikan efek ekuitas (saham) dan efek obligasi (hutang) tidak lebih dari 80 persen dan karakterter khusus yang ditun­jukkan berupa fleksibilitas alokasi penempatan dana. Selanjutnya, reksadana ter­proteksi secara umum meru­pakan reksadana yang waktu pembeliannya ditentukan oleh penerbit (Manajer Investasi) dan dijual dalam jangka waktu tertentu saja. Jenis reksadana indeks merupakan bentuk reksadana dimana komposisi portofolionya disusun menye­rupai suatu indeks tertentu sehingga return yang diberikan setara dengan indeks yang diikutinya. Reksadana indeks merupakan jenis reksadana yang tidak cocok untuk semua investor dikarenakan resiko­nya yang lebih tinggi diban­dingkan reksadana yang lain, namun tentu saja setara dengan potensi keuntungan atau return yang akan diperoleh. Jenis yang terakhir yaitu reksadana ETF. ETF sendiri merupakan bentuk reksadana yang paling familiar dimana unit pe­nyer­ta­an­­nya diuperjualbelikan di Bursa Efek, seperti misalnya Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Perkembangan reksadana sya­riah di Indonesia ditilik dari ha­sil statistik terbaru bulan Ap­ril 2015 yang diluncurkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) me­nunjukkan bahwa ter­jadi peningkatan dari tahun ke tahun yang juga dapat diarti­kan bahwa semakin banyaknya jum­lah investor yang tertarik un­tuk berinvestasi dalam ben­tuk reksadana syariah. Dari ha­sil statistik lima tahun ter­akhir da­pat dilihat bahwa ter­jadi ke­na­iakan nilai aktiva bersih (NAB) reksadana sya­riah, yang pa­da tahun 2015 ini sudah men­capai angka Rp 11.606,25 Mili­ar per Mei 2015. Angka ini me­ru­pakan angka yang signi­fi­kan jika dibandingkan de­ngan lima tahun yang lalu di­ma­na NAB reksadana syariah hanya men­ca­pai Rp. 5.564,79 Miliar. Bertolak dari data yang di­tam­­pilkan, bukan tidak mung­kin di kemudian hari, NAB reksa­dana syariah sema­kin mening­kat yang kemudian akan me­nye­bab­kan reksadana syariah semakin menjadi pri­ma­dona di kalangan investor untuk berinvestasi. ***

Baca Juga : Pemerintah Izinkan Sektor Esensial Beroperasi Selama Larangan Mudik

 

RINI AMELIA
(Mahasiswa Magister MBA ITB)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]