Petral Bubar, Mafia Migas Kelimpungan


Ahad, 17 Mei 2015 - 19:39:34 WIB
Petral Bubar, Mafia Migas Kelimpungan

Seperti diketahui Pertamina sudah membubarkan Petral pada Rabu (13/5). Banyak kalangan me­muji keputusan pemerintah yang dini­lai berani tersebut. Sebab, lang­kah itu diyakini akan mematikan praktik mafia migas yang disinyalir banyak bermain di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terse­but.

Baca Juga : Partai Golkar Satu Suara Usung Airlangga Hartarto Jadi Capres

“Ini bukan sesuatu yang luar biasa, kalau mafia itu kan teror­ganize, di mana tidak hanya regulasi, tapi politisi bayar keamanan, ini soal keberanian memberantas yang me­nyo­gok, menurut saya bukan hal luar biasa,  ini sesuatu yang sederhana,” ujarnya, dalam acara diskusi Energi Kita di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta, Minggu (17/5).

Menurutnya, soal Petral meru­pakan hal yang sudah lama didis­kusikan. Malah, sebelum dirinya diangkat menjadi menteri, perta­nyaan awal yang dilontarkan Presi­den Joko Widodo (Jokowi) adalah soal Petral.

Baca Juga : Perkuat Infrastruktur Digitalisasi Partai, Anis Matta Resmikan Gelora Media Centre

Dikatakan, sejak dipegang men­teri zaman pemerintahan Presiden SBY, masalah Petral ini selalu mentah di istana. “Itulah sebabnya saat saya dipanggil presiden sebelum jadi menteri, pertanyaan pertama, gimana soal Petral, saya jawab, dulu soal Petral, selesainya di sini (di kantor presiden), tapi presiden tidak setuju, jadi selesai di sini. Ini tran­saksi besar dan dikaitkan dengan politik,” ucap dia.

Transaksi besar ini terbukti. Sudirman menyebut, sejak dibu­barkannya Petral, Pertamina bisa menghemat US$ 22 juta. “Transaksi yang beredar tiap hari US$150 juta atau Rp1,7 triliun per hari, kebu­tuhan impor minyak Pertamina, sejak dibubarkan efisien US$ 22 juta atau Rp250 miliar, padahal baru tiga bulan,” tambahnya.

Uring-uringan

Di tempat yang sama, ekonom Faisal Basri menilai, buntut dari kebijakan pemerintah, banyak pihak yang uring-uringan dan akhirnya membuat gerakan yang bertujuan mengacaukan situasi.

Faisal lebih spesifik menilai kebijakan PT Pertamina (Persero) yang secara mendadak membatalkan kenaikan harga pertamax, pertamax plus, dan pertamina dex pada Rabu (13/5) lalu. Padahal, sebelumnya BUMN itu sudah gembar-gembor akan menaikkan harga pada hari yang sama. Ia menilai, pembatalan tiba-tiba itu hanya untuk menga­caukan masyarakat saja. Karena itu ia menyarankan, Direktur Pema­saran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang sebaiknya segera diganti.

“Saya curiga cuma mau bikin rusuh saja. Nggak mungkin ini kebi­jakannya sekacau ini kalau nggak ada motif nggak benernya. Ini nggak hanya sekali. Saya minta satu saja, Ahmad Bambang itu diganti karena sudah berkali-kali mela­kukan ba­nyak kesalahan yang fatal. Karena Itu sudah keterlaluan,” tegasnya.

Faisal melihat, kacaunya kebi­jakan tersebut merupakan buntut dari pembubaran Petral. Banyak pihak yang merasa dirugikan atas pembubaran anak usaha Pertamina tersebut.

“Menariknya gara-gara Petral dibubarkan, ini ibarat sarang tawon, kita bakar itu tawonnya rusuh. Ada yang kabur, marah dan lainnya. Saya pernah bilang ke teman-teman istana, di sana ada. Mereka bergerak untuk melakukan itu,” katanya.

Dalam kaitannya dengan pre­mium, Faisal menyebutkan, mo­dusnya ini adalah ingin menun­jukkan seolah Menteri ESDM Su­dirman Said tidak mampu mengurus energi di dalam negeri dan malah menciptakan kekacauan.  (h/kom/dtc/hr)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]