Sopir Bajaj dan Harga BBM


Senin, 18 Mei 2015 - 18:45:22 WIB
Sopir Bajaj dan Harga BBM

Saat Administrasi Informasi Amerika me­ngu­­mum­kan bah­wa pasokan minyak kawasan itu pe­lan-pelan agak mulai ber­kurang, justru saat itu pula OPEC malah me­ngu­mum­­kan  kenaikan pro­duksi dan paso­kan dari be­berapa negara ang­go­tanya. Sejurus dengan itu, konflik yang bergejolak antara pemberotak Houthi dan Arab di Yaman  juga memberi sinyal ancaman atas dua per­tiga jalur per­dagangan dunia dari Laut El Mandeb dan Te­luk Eden me­nuju Terusan Suez.

Baca Juga : Disebut Bak Musa Datangi Firaun, Amien Rais Ungkit Hukum Neraka ke Jokowi

Berseberangan dengan itu, negosiasi nuklir Iran juga me­munculkan kekhawatiran penam­bahan pasokan minyak dunia jika embargo ekonomi Iran dihentikan yang akan berimbas pada keluarnya ber­juta-juta barel cadangan mi­nyak Iran  ke pasar global. Sehing­ga akhirnya, pem­bali­kan harga tertahan di level yang agak sedikit moderat (antara $60-70 per barel). Namun demikian, harga tetap melewati ambang batas harga patokan minyak yang telah ditetapkan pe­merintah sebe­lumnya ($60).

Dari sisi dalam negeri, Rupiah terlihat kian kewalahan meng­hadapi tekanan global dan menurunnya vitalitas fun­da­men­tal ekonomi nasional. Rupiah kembali ke titik kritis di atas Rp 13.000 per dollar yang membuat harga BBM domestik ada dalam jalur kom­plikasi. Disatu sisi, harga minyak dunia sudah mulai melewati batas patokan harga yang dipakai pemerintah. Se­mentara itu di sisi lain, pele­mahan rupiah juga membuat beban import sema­kin besar karena penambahan selisih mata uang yang harus ditang­gung. Inilah beberapa dasar mengapa saya harus me­milih, walau dengan sangat terpaksa, untuk memahami kenaikan harga BBM dalam negeri yang entah untuk ke­bererapa ka­linya itu, saya sudah tidak ingat lagi.

Baca Juga : Catat! Pelanggar Larangan Mudik Bakal Diminta Putar Balik atau Ditilang

Namun  hanya dalam hitu­ngan jam setelah berita ke­naikan harga BBM non subsidi muncul, saya membaca berita lain yang cukup menggelikan. Kenaikan harga BBM di­batalkan. Sayapun langsung kehabisan cara untuk me­nemukan “”kesan” yang tepat, apa­kah cukup dengan menga­takan “biasa saja” atau “luar biasa” atau apa?

Pikiran saya melayang ke be­berapa patah kata Jokowi yang menggelitik dunia beberapa waktu lalu, “I don’t read what I sign”, begitu bunyi sebuah kalimat singkat yang ter­nyata menjadi ju­dul headline berita di ha­rian Wall Street Journal be­berapa waktu lalu. Pertanyaan saya, apakah ketidaktelitian (terburu-buru) telah menjadi “habbit” atau mungkin “hob­by” dari pemerintah saat ini atau memang ada kesengajaan untuk menguji respon publik seperti  me­lem­parkan batu ke dalam air yang kedalamannya be­lum diketahui? Apakah faktor per­geseran Petral ke ISC juga menjadi sebab ke­tidak­kon­sis­tenan pemerintah dalam me­menatapkan harga? Ataukah ada faktor-faktor lain yang gagal ditang­kap pe­merintah (Per­tamina) sebelum mengeluarkan kebijakan? Dan Masih banyak pertanyaan lainya.

Baca Juga : JK-Surya Paloh Bisa Berkolaborasi untuk Anies Baswedan di Pilpres 2024

Se­ba­gian kalangan yang ber­seberangan dengan pe­merintah tentu memakan de­ngan lahap isu inkonsistensi penetapan harga BBM ini. Berbagai tu­dingan skeptis, antagonis, pesimis, bahkan sinis mulai bertebaran di berbagai media. Ada yang berpendapat bahwa pembatalan kenaikan BBM hanya sebagai reaksi politis.  Artinya, pembatalan hanyalah berupa penundaan untuk me­lewati batas waktu 20 Mei alias untuk menghindari penam­bahan amunisi bagi mahasiswa saat perhelatan reformasi na­n­ti. Setelah itu, harga diprediksi akan tetap dinaikan mengingat kondisi harga global yang telah melewati ambang batas yang ditetapkan dan rupiah yang kian terperosok dalam.

Di tengah kebingungan yang tak beralasan tersebut, salah satu kawan di dalam satu grup diskusi online (Whatsapp) yang  saya ikuti mulai mem­berikan penilaian pasrah atas tarik-ulur kebijakan harga BBM ini. “Terkait penetapan harga BBM domestik, pe­me­rintah memang terlihat  seperti sopir bajaj, hanya dia dan tuhan yang tau kapan harus berbelok dan kapan harus berhenti”, begitu kata kawan saya yang sedang me­nyelesaikan studi strata tiganya di Jerman itu.

Baca Juga : Reshuffle Kabinet Jokowi, Nadiem Makarim Layak Diganti?

Sontak beberapa kawan lain juga ikut menimpali sembari melemparkan canda tawa tak berkesudahan. Seperti biasa, sayapun selalu ikut mem­be­rikan sepatah dua patah kata untuk meramaikan situasi, terutama dengan pancingan-pancingan pasrah sebagai tan­da keti­dak­pahaman atas ke­bijakan-kebi­jakan pemerintah. “Jika hanya dia dan tuhan yang benar-benar paham soal ini, maka mari kita berdoa semoga kedepannya lahir kebijakan harga BBM yang ber­ke­tu­hanan”,  ucap saya sambil cekikikan. Namun tanpa saya sangka ternyata hampir semua anggota grup malah silih ber­ganti me­nimpali dengan kata “A­mien”, walaupun embel-em­bel tambahannya selalu me­makai emoticon tertawa (ter­bahak).

Jadi bagi sayapun akhirnya tak ada cara lain untuk mem­berikan kesan pada dinamika harga BBM domestik ini se­lain ikut tertawa. Karena se­telah saya pikir-pikir, ternyata tertawa adalah juga salah satu ak­tivitas yang belum ter­kon­taminasi oleh kekuasaan ne­gara dan tak terpengaruh oleh ke­ti­dakpastian yang diper­tontonkan pemerintah.***

 

RONNY P. SASMITA
(Pemerhati Ekonomi Politik)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]