Korsleting Listrik, ‘Tersangka’ Kebakaran


Senin, 18 Mei 2015 - 19:06:20 WIB
Korsleting Listrik, ‘Tersangka’ Kebakaran

Menurut data yang dihim­pun Badan Penanggulangan Ben­cana Daerah (BPBD) Kota Padang, grafik bencana kebakaran di Kota Padang terus mengalami pening­katan. Dengan perincian , pada Januari terjadi 20 kasus kebakaran, Februari 22 kasus, Maret 25 kasus dan April 26 kasus.   “Kebakaran yang terjadi selama tahun 2015 ini, dari bulan ke bulan memperlihatkan grafik yang terus mengalami pening­katan,” ujar Kepala BPBD Kota Padang, Dedi Henidal,  Senin (4/5). (www.harianhaluan.com)

Baca Juga : Soal Vaksin Nusantara, Tenaga Ahli Menkes Andani Eka Putra Bocorkan 'Rahasia' Terawan

Musibah kebakaran semakin hari semakin mengkhawatirkan bagai­kan epidemi penyakit menular kare­na semakin hari semakin meluas penyebarannya selain rugi secara material (karena dalam jangka waktu yang sangat singkat orang menjadi jatuh miskin) selain itu juga adanya korban jiwa.

Human error terjadi karena awamnya masyarakat terhadap lis­trik yang sering kali bertindak sembrono atau teledor dalam meng­gunakan listrik atau tidak mengikuti prosedur dan metode penggunaan listrik secara benar menurut aturan yang ada, sehingga terjadilah keba­karan. Pada tahun 2013 kasus keba­karan untuk Kota Padang saja terca­tat sebanyak 325 kasus/tahun atau 27 kasus/bulan, dan penyebab paling banyak adalah hubung singkat arus listrik

Baca Juga : Soal Vaksin Nusantara, DPR Tuding BPOM Bohongi Peneliti dan Masyarakat

Apa itu hubungan singkat arus listrik ?

Hubungan singkat arus listrik, hubungan pendek arus listrik, arus pendek, hubungan arus pendek, korsleting (dari bahasa Belanda kortsluiting) atau short circuit (dari bahasa Inggris) kata-kata tersebut mempunyai arti yang sama.

Baca Juga : Waspada! Siklon Surigae Meningkat 24 Jam ke Depan, 9 Provinsi Diminta Siap Siaga

Pada PUIL 2000 ( 1.9 ) mende­finisikan hubungan singkat arus listrik adalah: arus lebih yang diaki­batkan oleh gangguan impedans yang sangat kecil mendekati nol antara dua penghantar aktif yang dalam kondisi operasi normal ber­be­da potensialnya (short circuit current).

Secara umum dapat saya jelas­kan, hubungan singkat arus listrik adalah terjadinya hubungan/kontak langsung antara penghantar/kon­duktor/kawat/kabel positif dan negatif yang mengakibatkan terja­dinya arus lebih (over current) yang selanjutnya akan menimbulkan percikan api (apabila sentuhan gesek sesaat) dan apabila terjadi sentuhan dengan waktu yang lama, maka kawat akan membara/berpijar se­perti elemen strika atau penyulut rokok pada kendaraan. Apabila kawat tersebut berisolasi (kabel) maka isolasi tersebut akan meleleh disebabkan panas yang tinggi yang selanjutnya akan menimbulkan api.

Baca Juga : Kabar Gembira Bagi PNS, THR Dipercepat & Bisa Lebih Besar dari Gaji Pokok

Dapat disimpulkan bahwa hub­ungan singkat arus listrik akan mengakibatkan arus lebih (over current) yang selanjutnya akan menimbulkan percikan api dan  panas yang sangat tinggi yang tidak dapat dikendalikan sehingga dapat menimbulkan ledakan serta dapat menghasilkan api secara mudah

Beberapa penyebab terjadinya hubung singkat arus listrik adalah; Pertama, ketidaksesuaian antara material/bahan yang digunakan dengan beban yang terpasang, misal­nya bebannya pompa air dengan kapasitas 2.000 Watt, tapi kabel yang dipasang ukuran 1,5 mm. Karena ukuran kabel dengan bebannya tidak sesuai maka akan timbul panas pada kabel tersebut yang selanjutnya lama-kelamaan isolasinya akan rapuh/getas sehingga akan sangat mudah terkelupas.

Kedua, stop kontak yang longgar dan sudah tidak presisi dalam men­jepit steker atau colokan. Stop kontak yang sudah longgar kalau mendapat beban yang besar akan terjadi lompatan arus (butuh arus tinggi untuk lompatan tersebut) di antara celah yang longgar tadi sehingga terjadi panas pada terminal penjepit pada stop kontak lama kelamaan akan menimbulkan bara dan melelehkan isolasi kabel.

Ketiga, pemasangan MCB yang tidak baik dan tidak maksimal, maka efeknya kalau beban yang dipikul MCB tersebut besar, akan terjadi panas pada material MCB, lama-kelamaan akan menimbulkan bara di dalam MCB kemudian merembet ke kabel instalasi dan body panel.

Keempat, pemakaian MCB yang lebih besar nilai arusnya (nilai ampernya) dari pada ukuran/pe­nam­pang kabel atau tidak meng­gunakan MCB sama sekali (lost meter), maka efek dari hal semacam ini adalah kalau terjadi hubungan singkat pada jaringan instalasi, MCB tidak turun dan yang akan terbakar kabel yang ada pada instalasi di dalam rumah.

Berikut beberapa cara mencegah kebakaran akibat korsleting listrik: Pertama, pemasangan instalasi listrik, sebaiknya serahkan ke insta­latir atau tenaga ahli/terampil yang sudah handal dan mempunyai serti­fikat keterampilan atau sertifikat keahlian yang dikeluarkan asosiasi profesi seperti Asosiasi Profesionalis Meka­nikal Elektrikal Indonesia (APEI) dan lainnya. Atau pilih instalatir yang terdaftar pada pihak yang berwenang yang tergabung dalam asosiasi seperti  Asosiasi Kontraktir Listrik Indonesia (AKLI) dan lainnya.

Kedua, setelah pemasangan lis­trik oleh instalatir, pelanggan harus mendapatkan Sertifikat Laik Ope­rasi (SLO) dari Komite Na­sional Keselamatan Untuk Instlasai Listrik (KONSUIL) atau Perkumpulan Perlindungan Instalasi Listrik Na­sional (PPILN). Terbitnya sertifikat menjadi bukti pemasangan listrik di rumah sudah laik operasi.

Ketiga, jangan menumpuk steker atau colokan listrik terlalu banyak pada satu tempat karena sambungan seperti itu akan terus-menerus akan menyebabkan beban bertambah sehingga tidak sesuai lagi kemam­puan kabel yang selanjutnya akan menghasilkan panas membuat iso­lasi kabel akan rapuh yang akhir­nya dapat mengakibatkan korsleting listrik.

Keempat, gunakan material se­perti penghantar/konduktor/kabel, saklar, stop kontak, steker (kontak tusuk), dan alat listrik lainnya yang sudah sesuai dengan standar keama­nan dan kenya­manan. Biasanya akan terdapat logo SNI (Standar Nasional Indonesia) atau SPLN (Standar PLN).

Kelima, apabila ada gejala lampu redup dan berkedip secara kese­luruhan di rumah kita namun di rumah lain tidak terjadi apa-apa, maka patut dicurigai terjadi hubu­ngan singkat. Apabila MCB ber­fungsi dengan baik maka MCB tersebut akan jatuh atau putus kontak, tetapi apabila MCB tidak jatuh maka sebaiknya di off secara manual, hubungi pihak yang ber­wenang seperti Instalatur atau kontraktor listrik, tenaga ahli di bidang kelistrikan, atau apabila dalam keadaan terdesak hubungi Kantor PLN.

Keenam, lakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi isolasi kabel, personil pemeriksa sebaiknya adalah tenaga ahli di bidang kelis­trikan, bila ada isolasi yang terke­lupas akibat gigitan binatang atau telah menipis. Faktor lingku­ngan seperti debu dan getaran juga bisa mengakibatkan korsleting listrik. Segera lakukan penggantian apabila terjadi kerusakan isolasi tersebut.

Ketujuh, lakukan evaluasi insta­lasi rumah / bangunan anda secara menyeluruh minimal lima tahun sekali. pekerjaan pemeriksaan dan penggantian sebaiknya dilakukan oleh tenaga terampil dan tenaga ahli yang bersertifikat atau instalatir yang terdaftar pada asosiasi seperti AKLI dan lainnya yang terdaftar pada pihak yang berwenang.

Kedelapan, anda tidak boleh menggunakan listrik ilegal atau listrik curian dengan mengutak-atik kWH meter PLN. Selain bisa meng­akibatkan kebakaran, hal ini juga sangat berbahaya bagi keselamatan Anda, tindakan tersebut juga tergo­long tindak kejahatan yang dipi­danakan. Apabila ada kerusakan pada Kwh meter tersebut harus segera melapor ke kantor PLN.

Diharapkan asosiasi kontraktor kelistrikan dan asosiasi tenaga ahli kelistrikan berkerja sama dengan pemerintah daerah memprogramkan penyuluhan tentang penggunaan listrik yang baik dan aman  sampai ke level kelurahan, RW, RT yang lang­sung menyentuh kemasyarakat yang akhir­nya akan berdampak pada pe­ng­u­rangan / meminimalisir baha­ya keba­karan yang disebabkan oleh listrik. **

 

ANTONOV BACHTIAR  
(Pengamat Kelistrikan Sumbar Dosen Teknik Elektro ITP)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]