20 Mei, Uji Tangguh Mahasiswa dan Penguasa


Selasa, 19 Mei 2015 - 19:34:19 WIB
20 Mei, Uji Tangguh Mahasiswa dan Penguasa

Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Namun, momen ini akhirnya ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kebangkitan dan tetap diperingati hingga hari ini.

Baca Juga : OSO Bertemu LaNyalla: Seharusnya DPD RI Bisa Usung Capres

Momen 20 Mei sejak era reformasi menjadi begitu keramat dan nyaris tak terlewatkan oleh mahasiswa. Tanggal tersebut menjadi puncak pesta pora kemenangan anak-anak bangsa ketika mereka berhasil menggulingkan penguasa republik ini sepanjang 32 tahun, Suharto di tahun 1998 itu.

Jika biasanya momen Harkitnas kerap dilalui dengan upacara formal di kantor pemerintahan, maka sejak itu, momen tersebut selalu hadir di tengah jalan. Demonstrasi, menjadi luapan rasa kebangkitan anak-anak muda bangsa yang sebagian besar berasal dari golongan terdidik.

Baca Juga : Antisipasi Arus Balik Lebaran, Polda Metro Siapkan 12 Titik Pos Pemeriksaan

Saat Budi Utomo didirikan oleh Dr Sutomo Cs, kalangan terdidik di masanya itu, berhadapan dengan penguasa saat itu, yakni pemerintah Kolonial Belanda. Dan sejak rezim orde baru digulingkan, empat penguasa, mulai dari BJ. Habibie, Abdulrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono merasakan bagaimana golongan terdidik tadi bersuara di jalan.

Namun, ketika rezim Jokowi mulai berkuasa, ada rasa ketar ketir sepertinya yang tersirat dari orang nomor satu di republik ini, termasuk orang-orang di lingkarannya. Sikap jaga diri mulai dilakukan sebagai langkah antisipasi, termasuk melakukan pedekate alias pendekatan dengan pentolan mahasiswa di negeri ini.

Hasilnya, lumayan. Jokowi sepertinya bisa tidur pulas tadi malam karena isu melengserkan Jokowi bisa diredam. Dengan bahasa diplomatis, mahasiswa tetap diberikan lampu hijau untuk sekedar berteriak-teriak di jalanan, berpanas-panas meninggalkan bangku kuliah, asal, tak ada desakan untuk mundur dan berhenti dari jabatan.

Di sisi lain, isu-isu tentang rencana penggulingan Jokowi jelang 20 Mei ini juga terus terhembus. Seolah, isu tersebut sengaja digulirkan agar terselip kesan dalam aksi mahasiswa ada agenda pemakzulan. Hal ini menjadi tameng penting yang dimainkan dengan harapan akan muncul spekulasi gerakan mahasiswa telah disusupi kepentingan lain.

Bentuk ketar ketir lainnya yang muncul, Jokowi yang sebelumnya garang menaikturunkan harga BBM, semua jenis BBM malah, seolah keder atas gertakan mahasiswa yang siap menurunkannya pada 20 Mei ini. Lihat saja awal Mei ini, tak ada berita harga BBM naik. Padahal, sebelumnya, dengan bangga mantan walikota itu menyebut akan ada penyesuaian harga BBM setiap bulannya.

Tak ingin ada celah, harga Pertamax, Pertama Plus,  DEX yang menjadi hak Pertamina untuk mengontrol harganya, mulai dari menaikkan dan menurunkannya, ikut-ikutan diurus oleh Jokowi. Dan seperti sama-sama diprediksi, Pertamina menyerah. Sang Induk Semang yang sedang terjepit, seperti jadi pendekar mabuk demi urusan kursi kekuasaannya tak tergoyangkan oleh massa.

Mungkin mahasiswa terlengahkan atas kondisi itu, mulai dari pedekate hingga pada penundaan kebijakan penyesuaian harga BBM alias menaikan harga bensin. Atas kondisi tersebut, mahasiswa sepertinya tak lagi terkesan garang. Tak ada secuil-pun berita protes mahasiswa di media. Kalaupun ada-pun sekedar pelengkap.

Jika dibandingkan saat SBY masih berkuasa, terutama saat SBY menaikkan harga BBM, mahasiswa dan media nyaris sama garangnya. Kini, Mahasiswa sepertinya sudah mulai arif. Mereka tak lagi mengesankan orang yang berada di sisi seberang yang siap menerkam penguasa yang semena-mena terhadap rakyat yang masih terlilit kesulitan. Atas kondisi itu siapakah yang tangguh di masa kebangkitan, hari ini? **


Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]