Reformasi Dinilai Telah Mati


Selasa, 19 Mei 2015 - 19:43:47 WIB
Reformasi Dinilai Telah Mati

Ricky menuturkan, musuh utama perjuangan Gerakan Reformasi 1998 yakni korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), semakin merajalela. “Harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi karena diserahkan ke meka­nisme pasar, pendidikan dan kese­hatan kunci peningkatan kemak­muran rakyat jadi komoditas mahal, produksi usaha rakyat seperti perta­nian sangat dikendalikan mafia dan tengkulak.” katanya pula.

Baca Juga : AHY Cs Absen di Sidang Mediasi Pertama, Kubu Moeldoko: Lecehkan Pengadilan

Ricky menegaskan, matinya refor­masi disebabkan oleh dua hal pokok, yakni agresi neoliberalisme dan ngawurisme yang menjangkiti mayo­ritas elite dan aktivis 1998 yang rela menjadi agen penjual bangsa. “Ba­gaimana Indonesia akan maju kalau sumber daya potensial telah di­serahkan kepada pihak asing melalui liberalisasi ekonomi-politik lewat amandemen UUD 1945 dan pe­nerapan banyak undang-undang yang melegalisasi agresi kapitalisme internasional hingga pelosok dae­rah,” katanya.

“Bagaimana reformasi mau ber­hasil kalau mayoritas elite dan aktivis 1998 terjangkit ngawurisme, rela menjadi agen penjual bangsa, cuek dan masa bodoh terhadap nasib mayoritas rakyat miskin, hanya memikirkan perutnya sendiri,” katanya lagi.

Baca Juga : Partai Golkar Satu Suara Usung Airlangga Hartarto Jadi Capres

Sementara itu mahasiswa se-Indonesia yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasaiswa Selu­ruh Indonesia (BEM SI) akan turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran mengkritisi kinerja pemerintahan Presiden Joko Wi­dodo pada 21 Mei besok.

“Kamis 21 Mei, kami turun ke jalan untuk memastikan bahwa apa yang kami tuntut hari ini belum bisa dijawab secara tuntas oleh Presiden. Dan ternyata memang hari ini ba­nyak yang belum terselesaikan,” tegas Presiden BEM Universitas In­do­nesia (UI) Andi Aulia Rahman.

Jajaran (BEM se Indonesia Senin malam i menyampaikan hal-hal yang mereka bicarakan dengan Presiden Joko Widodo. Namun sebagian besar jawaban Presiden Jokowi menurut mereka tidak memuaskan. “Banyak jawaban dari presiden yang membuat kami belum puas,” tegas Andi Aulia .

Dengan waktu yang terbatas dan penjelasan yang masih belum men­jawab kerisauan hati mahasiswa, Presiden BEM UI ini mengaku belum puas saat bisa berdialog langsung dengan Presiden Jokowi. “Apalagi jika menilik banyaknya hal yang harus diperbaiki di pe­me­rintahan Jokowi,” ujarnya.

Dijelaskan Andi, dalam perte­muan sekitar dua jam tersebut, banyak isu yang dialami masyarakat diangkat para mahasiswa saat ber­temu Jokowi. Mulai dari kasus pelanggaran HAM yang nyata terjadi di Kampus Trisakti, masalah kenaik­kan harga BBM yang berakibat melambungnya harga bahan pokok yang kian menjepit kehidupan ma­syarakat. “Terkait kenaikan BBM, negara keluarkan kebijakan harga batas atas dari harga BBM yang sudah naik turun. Nanti presiden akan keluarkan aturan lewat Ke­menterian ESDM,” ujarnya.

Ketua Umum KAMMI, Andri­yana menegaskan, pertemuan de­ngan Jokowi tidak akan menghalangi niat para mahasiswa untuk mela­kukan unjuk rasa pada 20 atau 21 Mei mendatang. Bahkan, dalam kesempatan itu, kata Andriyana, Jokowi mengatakan tidak berma­salah dengan rencana demonstrasi tersebut. “KAMMI akan turun 21 Mei di depan istana dan seluruh Indonesia. Di depan istana, kami akan menurunkan sekitar 1.000 mahasiswa yang berasal dari Jakarta, Jawa Barat, dan Banten,” tegas Andriyana.

Sementara itu, di Pekanbaru Riau, peringan Reformasi Mei 98 telah disambut dengan unjuk rasa. Mahasiswa tergabung di BEM UIN Suska Riau menggelar r aksi demo ke gedung DPRD Riau. Jalan Jen­deral Sudirman, Pekanbaru, Selasa (19/5).Kedatangan mahasiswa ini menuntut Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla turun dari jabatan.

Dalam aksi demo, Badan Ekse­kutif Mahasiswa membawa spanduk dan foto Presiden dan Wakil Presi­den, bahkan membawa ayam potong. Sebelum aksi demo tersebut dilak­sanakan, masa terlebih dulu orasi dengan meneriakkan turunkan saja Presiden dan Wakil Presiden dari kursi jabatan. Bahkan, salah satu oknum pendemo tersebut berpa­kaian variasi kera dan membawa suatu gambar Presiden Jokowi.

Masa mahasiswa i menilai sela­ma Jokowi dan JK tidak mampu menuntaskan, pasalnya hingg saat ini persoalan rakyat, terutama terkait masalah ekonomi yang dipengaruhi naik turunya harga akan Bahan Bakar Minyak (BBM). Bahkan, menuntut nasionalisasi aset, beran­tas mafia migas, stabilisasi kurs rupiah dan mengembalikan kedau­latan.

Dilansir Metroterkin, dengan rasa kesalnya,masa aksi BEM UIN Suska potong ayam di atas photo Presiden Jokowi, sehingga photo wajah presiden yang ke-6 ini ber­lumuran darah ayam. Hal ini dila­kukakan sebagai simbol tidak jalan nya visi misi akan Presiden Jokowi seperti dicanangkan. “Saat kam­panye dalam pemilihan pre­siden beberapa waktu lalu itu. Presiden Jakowi memberi wejang dan janji. Tetapi hari ini kenyataan dan kea­daan bangsa di Indonesia bertolak belakang sekali sumpah, janji, visi dan misi presiden. Tentu ini yang dituntut,” tegasnya.

Hal demikian disampaikan oleh Koordinator Lapangan (Korlap), Isnanto dalam orasi mengatakan, kebijakan pemerintah banyak yang tidak berpihak pada rakyat. Sehingga ekonomi terpuruk hingga sampai sekarang ini.

“Kami minta pada DPRD Riau ini, agar menyampaikan apa menjadi tuntutan kami ini kepada presiden dan wakilnya agar merealisasikan tuntutan rakyat serta realisasikan visi misinya beserta selesaikan itu per­soalan bangsa. Kalau ini tidak, maka disesalkan,” katanya.

Kedatangan masa tersebut disam­but oleh anggota DPRD Riau, yakni Kordias Pasaribu, Sugianto, serta Abdul Vattah Harahap dan Mu­hammad Nasril dengan pengawalan ketat dari jajaran aparat kepolisian. (h/dn/rol/mtk)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]