Mimpi Juvem dan Rafi Kuliah di UGM Terkendala Dana


Selasa, 19 Mei 2015 - 19:48:19 WIB
Mimpi Juvem dan Rafi Kuliah di UGM Terkendala Dana

 

Juvem berasal dari ke­luarga kurang mampu. Aya­h­nya, Ar­min Jumal (43), adalah buruh di depot air minum di Belim­bing, Kuranji. Semen­tara ibu­nya, Tri Murti (41), hanya ibu rumah tangga. Pasa­ngan terse­but memiliki empat anak, tiga di antaranya butuh biaya untuk bersekolah, se­men­­tara satu lagi baru berusia empat tahun.

Baca Juga : Etika Politik Koalisi PKS dan PAN dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

“Jangankan untuk membiayai anak-anak untuk sekolah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, kadang susah. Tapi, selama ini kehidupan kami tetap berjalan, meski sering tersendat. Cukup tidak cukup, dicukup-cukupkan,” kata Tri Murti saat ditemui Haluan di rumah­nya di Simpang Tui, Kuranji, Selasa (19/5).

Juvem, remaja kelahiran Padang, 17 November 1996, lulus di tiga PTN, yakni di Universitas Gajah Mada (UGM), jurusan Manajemen dan Kebijakan (Administrasi Nega­ra). Kedua, di Politeknik Sriwijaya (Polsri), jurusan Akuntansi Sektro Publik. Ketiga, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi, jurusan Perbankkan Syariah.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Juvem pertama kali mengetahui dirinya lulus di Polsri pada 23 April Di sana ia mendapatkan Bidik Misi. Pada 26 April, ia berangkat ke Palembang untuk mendaftar ulang pada 27-28 April. Kemudian, pada 7 Mei, ia mendapatkan informasi lulus di IAIN Bukitinggi. Lalu, pada 9 Mei, ia ditelepon teman satu sekolah bahwa ia lulus di UGM. Di sinilah ia mendapatkan masalah kedua.

Saat mengetahui lulus di UGM, Juvem ingin kuliah di PTN di Yogyakarta itu. Ia ingin tidak ingin kuliah di Polsri, apalagi di IAIN Bukitinggi. Namun, jika tidak lulus di UGM, ia ingin kuliah di Polsri karena ia mempunyai keluarga di sana sebab ibunya orang Palembang.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

“Motivasi saya kuliah di UGM, selain karena masyarakatnya ra­mah, juga karena Yogya adalah kota pendidikan. Artinya, ling­kungan di sana bagus untuk men­dukung suasa­na belajar. Selain itu, karena UGM adalah universitas ternama yang akreditasinya bagus. Tujuan saya, agar mudah diterima bekerja jika mendaftar memakai ijazah UGM,” tutur remaja yang selalu meraih juara dan rangking kelas selama di SMAN 4 ini.

Tapi, Juvem telah daftar sebagai mahasiswa penerima bidik misi di Polsri, padahal, jatah bidik misi hanya satu untuk satu mahasiswa di seluruh Indonesia. Untuk itu, ia ingin menda­patkan bidik misi di UGM. Namun, bidik misi di UGM itu belum tentu bisa didapatkan. Kalau pun men­dapatkan bidik misi, ada proses yang harus dilalui. Arti­nya, ia mem­bayar uang masuk dan uang semester men­jelang bidik misi keluar. Yang lebih parah lagi, ia harus membayar uang semester selama kuliah di UGM, jika gagal meraih bidik misi.

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Juvem ingin sekali kuliah di UGM karena ingin mengubah nasib keluarga. “Saya kasihan melihat kehidupan keluarga saya. Hidup susah sejak dulu. Apalagi saya memiliki tiga orang adik yang butuh biaya kuliah nantinya. Kalau bukan saya yang mengubah nasib keluarga saya, siapa lagi yang akan mela­kukannya,” sebutnya.

Kalau berkesempatan kuliah di UGM, Juvem tak ingin dikirimi uang oleh orangtuanya. Ia ingin bekerja sambil kuliah di Yogyakarta agar bisa mengikirim orangtuanya uang untuk memenuhi kebutuhan dna biaya sekolah adik-adiknya.

Sementara itu, kata Tri Murti, Juvem adalah anak yang rajin belajar. Sebelum Subuh ia bangun belajar, kemudian salat subuh, lalu belajar lagi hingga menjelang berangkat sekolah. Ia bangga memiliki anak seperti Juvem, yang patuh kepada orangtua dan tak banyak keinginan.

“Kadang kalau tak dikasih uang jajan ke sekolah, Juvem tetap pergi ke sekolah. Ia tetap semangat. Saya yang kadang sering menangis di rumah karena kasihan kepadanya jika terbayang dia tidak jajan di sekolah,” ungkapnya.

Sementara Rafi, meski ayahnya, Nurmatias (62), pensiunan PNS, dan ibunya, Nurmisnar (53), ibu rumah tangga, juga lulus PMDK di UGM, jurusan Sastra Arab, dan di Uni­versitas Islam Negeri Syarif Kasim di Pekanbaru, jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

“Gaji pensiun ayah tak sampai Rp1 juta, karena banyak berutang di bank untuk membangun rumah, dan lain-lain,” ujar remaja kelahiran Padang 13 Agustus 1997.

Berbeda dengan Juvem, Rafi sudah mendapatkan bidik misi di UGM. Ia tinggal kuliah saja. Tapi, terkendala biaya keberangkatan ke Yogyakarta. Sementara Juvem, ter­ken­dala di semua biaya.

Juvem dan Rafi akan berangkat ke Yogyakarta dalam waktu dekat. Jika tidak ada dermawan yang mengulurkan tangan untuk mem­bantu, mereka tetap akan berangkat dengan segala risikonyo. ***

 

Laporan: HOLY ADIB

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]