Pemerintah Harus Pro Aktif Awasi Rekayasa Bahan Pokok


Rabu, 20 Mei 2015 - 19:34:24 WIB
Pemerintah Harus Pro Aktif Awasi Rekayasa Bahan Pokok

Peran pemerintah, lanjut Gusman sangat diperlukan sebagai pemangku kebijakan dan berwewenang dalam me­nen­tukan suatu keputusan agar kasus dugaan beras sintetis yang mencuat hangat dibe­ritakan belakangan ini tak terulang.

Baca Juga : Pantai Salido Pesisir Selatan jadi Favorit Anak Muda

“Kami masyarakat juga tak lupa ikut bersama-sama peme­rintah. Sama-sama pro aktif lah kita membangun bangsa ini. Tentu kita tak ingin pula mun­cul lagi nanti tepung sintetis atau sintetis-sintetis lainnya,” pungkasnya.

Hal senada juga disam­paikan Ipul, yang sudah tahu akan berita adanya kasus duga­an beras sintetis tersebut. Dijelaskannya kejadian ini menjadi pelajaran bagi setiap pihak, baik masyarakat, peme­rintah maupun pelaku usaha agar selalu memperhatikan dan melakukan kontrol setiap waktu. Karena bisa saja ini dapat diulangi kembali oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga dapat ber­dampak kerugian bagi masya­rakat pada umumnya.

Baca Juga : Tempat Wisata Ditutup, Warga Padati Taman Kota Siak

“Dari kasus ini, jadikan pelajaran untuk kita akan ada­nya rekayasa-rekayasa yang sangat dapat merugikan kita,” ujar Ipul.

Terpisah, Kabid Perda­ga­ngan Disperindag Kota Pe­kanbaru, Masirba H Sulaiman mewaspadai terkait adanya dugaan beras plastik. Untuk mengantisipasi beras imitasi yang dioplos dengan beras asli tersebut, pihaknya telah me­nurunkan satu tim untuk me­lakukan pengawasan ke distri­butor dan gudang beras.

Fluktuasi Harga

Menjelang memasuki Ra­ma­­­dan 1436 H, harga kebu­tu­han barang pokok yang bere­dar di pasaran  mengalami fluk­tuasi. Walaupun pada u­mum­­nya relatif stabil namun fluk­tuasi terjadi pada komoditi tertentu.

Berdasarkan hasil moni­to­ring Disperindag Kota Pe­kan­baru pekan ke-3  Mei 2015, stok cukup hingga bulan puasa bah­kan sebagian stok bisa me­ngan­tisipasi permintaan kon­sumen hingga setelah leba­ran. “Itu kan biasa, tapi bagai­ma­na­pun kita tidak tolerir ini. Ar­ti­nya begini, jangan ada men­tang-mentang mau Rama­dan ter­jadi kenaikan,” ucap Kabid Perdagangan Dis­pe­rindag Ko­ta Pekanbaru,” Selasa (19/5).

Harga gula merah naik dari Rp16 ribu menjadi Rp17 ribu per kilogram. Harga ayam beras turun Rp1000, dari Rp­22 ribu menjadi Rp21 ribu perkilogram. Ayam kampung mengalami kenaikan sebesar Rp2000, dari Rp48 ribu men­ja­di Rp50 ribu rupiah per­kilogram. Harga kentang kecil naik sebesar Rp1000, dari har­ga Rp7 ribu menjadi Rp8 ribu.

Tomat naik Rp2 ribu, sebe­lumnya harga perkilonya Rp­8000 menjadi Rp10000. Cabai merah Jawa dan Medan me­nga­lami penurunan. Turun Rp1000, yang sebelumnya rp25 ribu menjadi Rp24 ribu.

Sedangkan untuk cabai hijau naik Rp 2000, sehingga menjadi Rp 20000 perkilonya. Untuk cabe rawit naik Rp1000 sehingga perkilonya menjadi Rp28 ribu. Komoditi hasil perikanan mengalami ke­nai­kan harga. Seperti ikan Tong­kol naik sebesar Rp2 ribu, sehingga menjadi Rp 32 ribu per­kilo­gram. Ikan Kembung naik Rp1000 menjadi Rp 35 ribu perkilogram. Ikan Gu­rami naik sebesar Rp2 ribu sehingga menjadi Rp 42 ribu dan ikan patin naik sebesar Rp1000 sehingga perkilonya menjadi Rp21 ribu. (hr)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]