Formappi Pertanyakan Rumah Aspirasi


Kamis, 21 Mei 2015 - 18:58:06 WIB
Formappi Pertanyakan Rumah Aspirasi

Menurut Lucius, Formappi menemukan bukti bahwa pe­ng­gunaan dana rumah aspirasi yang telah cair dan sudah direalisasikan anggota tidak ada laporan per­tanggung­jawa­ban.  DPR juga tidak trans­paran tentang hasil reses. Se­lain itu, pembangunan Rumah Aspirasi belum ter­infor­masi­kan kelanjutannya.

Baca Juga : Survei IPO: AHY Masuk Lima Besar Tokoh Potensial di Pilpres 2024, Anies Teratas

“Anggaran rumah ini tidak transparan. Anggaran dan pro­gram tidak terbuka ke publik,” tambah Lucius.

Program rumah aspirasi telah tertuang dalam anggaran pendapatan dan belanja peru­bahan 2015 yang disahkan Februari lalu. Pendirian rumah ini menghabiskan anggaran Rp1,6 triliun. Dana tersebut digunakan sebagai wadah as­pi­rasi antara masyarakat dengan legislatif. Akan ada pem­ba­ngu­nan sekretariat serta tenaga ahli dan staf administrasi.

Baca Juga : Pakar Analisis Ucapan Moeldoko 'Diperintah Jokowi': Tak Ubahnya Unjuk Kekuatan

Tidak hanya itu, Formappi menilai anggota DPR tidak melakukan pengawasan de­ngan baik dalam hal peng­gunaan anggaran pada mitra kerja mereka di kementerian. DPR pun dianggap tak trans­pa­ran dan serampangan.

“Legislasi tidak meng­hasil­kan UU prioritas, anggaran tidak efisien, efektif dan trans­paran. Serta pengawasan mi­nim hasil, kelembagaan ku­rang dan tidak fungsional,” jelas peneliti senior Formappi, Tommy Legowo.

Baca Juga : Berikut Daftar Pengurus Masyumi Reborn: Ahmad Yani Ketum, Alfian Tanjung Waketum

Tommy mengambil con­toh soal UU Pilkada yang di­nilai­nya banyak pen­yim­pang­an. Dia menduga pen­yebab­nya karena waktu pem­ba­hasan begitu sing­­kat dan membuat legislatif dengan mudah melakukan revisi hingga berdampak pada me­lemahnya kepastian hukum dan ketidakstabilan hidup berbangsa. (h/mdk)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]