Nasrul Abit Melawan “Kutukan” Pantai Barat dengan Pariwisata


Jumat, 22 Mei 2015 - 18:48:28 WIB
Nasrul Abit Melawan “Kutukan” Pantai Barat dengan Pariwisata

Bupati Pesisir Selatan Nas­rul Abit memahami betul, pariwisata adalah salah satu sektor yang bisa membuat daerah itu terbebas dari kutu­kan pantai barat. Semangat pembangunan pariwisata di Pesisir Selatan saat ini terasa begitu menggelora. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, penyelenggara pemerintah merasakan pahitnya program yang direalisasikan untuk ka­wasan destinasi tidak ber­banding lurus dengan kunju­ngan wisatawan. Sudah ber­bagai usaha dilakukan ketika itu untuk menjual pariwisata, namun mata dan fikiran pelan­cong masih saja tertuju ke “Darek” (Darat = Bukit tinggi, Maninjau, Harau, Batu­sangkar dan lain-lain), dagangan Pesi­sir seolah tidak laku dijual.

Baca Juga : Akal-akalan Pemudik Kelabui Petugas Penyekatan Larangan Mudik

Pemerintah Pessel tidak patah arang, semenjak ada Tour de Singkarak mulai dihelat dan kemudian salah satu rutenya termasuk daerah itu, para pembuat kebijakan dan pelaku wisata ramai-ramai menge­royok pembangunan Objek Wisata Carocok Painan. Lalu rupanya Carocok semakin di­ke­nal orang dan puncak dari popularitas itu direguk pada tahun 2014, orang berduyun-duyun datang ke Carocok de­ngan angka kunjungan terbesar di Sumbar.

Lalu kita tinggalkan cerita soal Carocok Painan, kita masuk pula pada cerita Ka­wasan Mandeh dengan seribu pesonanya. Sebetulnya, pem­benahan objek wisata yang pertama kali di tingkat nasio­nal adalah Kawasan Mandeh. Tahun 2002 sudah masuk dalam Rencana Induk Pe­ngem­bangan Pariwisata Nasio­nal (RIP­PNas), na­mun entah apalah sebabnya Kawasan Man­­deh tak kunjung bangkit.

Baca Juga : Puluhan WN China Masuk Indonesia, Publik: Warga Sendiri Dilarang Mudik!

Tahun 2014 lalu atas ske­nario Tuhan (meminjam isti­lah Menteri Andrinof Cha­niago) Bupati Pessel Nasrul Abit bertemu dengan Andrinof (saat itu belum jadi menteri). Rupanya Andrinof sebelum jadi menteri sudah mengenal Nasrul Abit lewat media mas­sa, begitu pula sebaliknya Nasrul Abit sering menonton Andrinof tampil sebagai nara­sumber di sejumlah acara talkshow televisi nasional. Andrinof mengaku ia sudah lama ingin bertemu sang bupati.

Pada kesempatan itu An­drinof menyampaikan maksud hatinya ingin merancang se­buah konsep pariwisata ber­basis pemberdayaam sekaligus mengelola Kawasan Mandeh sebagai magnet pariwisata di Pantai Barat Sumatera. “Saya tidak berjanji, namun suatu saat akan memperlihatkan bukti,” kata Nasrul Abit me­ngenang pe­rte­muan dengan An­drinof.

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Maka kemudian Andrinof mem­buktikan keinginannya dengan menggelar Joy Sailing I. Semua yang ikut takjub menyaksikan Teluk Mandeh. Ada yang me­nyandingkan de­ngan Raja Am­pat Papua, ada­pula yang mempersa­makannya dengan objek wisata Thai­land.Turut serta dalam kegia­tan itu para seniman, juru potret udara dan bawah air dan war­­tawan supaya informasi ten­tang Mandeh tersebar luas.

Joy Sailing I rupanya titik kisar nasib Mandeh yang ke­mudian mengantarkan Ka­wasan Mandeh menjadi po­puler. Foto-foto Kawasan Man­­deh hasil jepretan foto­grafer andal tersebar seantero dunia lewat jaringan internet dan media lain. Mandeh ada­lah setitik surga yang di­anu­grahkan Tuhan di Pantai Barat Sumatera.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Setelah Andrinof jadi Men­teri PPN/Kepala Bappenas, Kawasan Mandeh masuk prio­ritas utama pembangunan ka­wa­san strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Mene­ngah Nasional (RPJMN). Lalu dibuatlah master plan pemba­ngunan Mandeh yang kemu­dian diberi nama Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KW­BT) Mandeh.

Dalam desain besar PPN/ Bappenas, KWBT Mandeh dibagi menjadi tiga kawasan yakni Kawasan Pengembangan Wisata Sungai Nyalo, Kawasan Pengembangan Wisata Budaya Nagari Mandeh dan Kawasan Pengembangan Wisata Khu­sus.

Kawasan Mandeh setahun belakangan berubah cepat. Akses kesana membaik, sarana telekomunikasi dan air bersih sudah ada. Dalam waktu dekat akan masuk investasi sebesar  US $ 300.000.000 untuk pembangunan hotel di ka­wasan khusus. Andrinof ber­keyakinan KWBT segera bang­kit dan mendunia. Jalan Mandeh - Kota Padang segera diselrsaikan.

Terakhir, Kabupaten Pesi­sir Selatan merintis Tol Laut Sumatera Barat (Sumbar). Pesisir Selatan menurut Nas­rul Abit pertama kali men­coba merintis Tol Laut meng-hubungkan Padang-KWBT Mandeh Pessel-Kabupaten Kepulauan Mentawai. Jalur ini diyakini kedepan padat dilewati kapal baik untuk kepentingan mengankut ba­rang dan angkutan penumpang.

Nasrul Abit sudah bica­rakan konsep Tol Laut Sumbar dengan sejumlah perusahaan angkutan laut. Rata-rata mere­ka sangat setuju dengan ren­cana Tol Laut Sumbar tersebut. Salah satu pengusaha peru­sahaan kapal angkut yang su­dah setuju adalah MV. Menta­wai Ekspres yang sudah ber­operasi mengankut penum­pang Padang-Kepulauan Men­tawai.

Dikatakannya, seiring de­ngan pembangunan Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KB­WT) Mandeh, maka Tol Laut Sumbar akan memiliki peran penting dalam memobilisasi penumpang. Jalur Padang - KWBT Mandeh akan mema­kan waktu tempuh yang sing­kat dan menyenangkan bagi penumpang atau pelancong.  Rupanya di ujung pengab­diannya, Bupati Nasrul Abit telah berhasil melawan kutu­kan pantai barat. Pesisir Sela­tan kini telah menjadi perha­tian di Indonesia. Selamat Pak Nas, rakyat Sumbar menung­gumu!

 

HARIDMAN KAMBANG
(Wartawan Haluan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]