Rohingya Masalah Bersama


Ahad, 24 Mei 2015 - 18:34:26 WIB
Rohingya Masalah Bersama

Hal ini sebenarnya sudah merupakan tindakan genosida, pemusnahan terhadap sebuah etnis, ras dan  agama, sehingga lembaga hak azazi manusia internasional atau negara-negara barat termasuk Amerika Serikat (AS) yang mengagung-agungkan human right seharusnya bereaksi keras untuk mencegahnya.

Baca Juga : Pangdam Mayjen TNI Hassanudin Berikan Bingkisan Idul Fitri 1442 H kepada Prajurit dan PNS Kodam I/BB

Tetapi nyatanya AS masih memakai standar ganda. Di satu sisi memberi tanda jempol terhadap pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi. Di sisi lain menutup mata terhadap penderitaan komunitas Rohingya yang tertindas. Begitupun negara-negara Asean tetangga Myanmar, seperti Thailand dan Malaysia seperti cuek, malah menolak kedatangan pengungsi yang lapar dan haus itu.

Kita rakyat Indonesialah yang masih  menunjukan solidaritas kemanusiaan terhadap komunitas Rohingya dengan menampungnya di Aceh. Menurut Menlu RI Retno Marsudi di Jakarta Selasa (19/5), muslim Rohingya yang datang dalam tiga gelombang baru-baru ini 1.300 jiwa lebih, sedangkan secara keseluruhan warga Rohingya yang berada di Indonesia 11 ribu jiwa lebih. Pengungsi Rohingya kini masih dalam posisi menunggu untuk diverifikasi dan menunggu penempatan ke negara ketiga.

Baca Juga : Kolaborasi dengan HR Academy dan Kemenkop UKM, YES Preneur Gelora Resmikan Program 'GEBER UMKM' 

Memang, sebagai penyelesaian akhir terhadap  implikasi yang ditimbulkan pengungsi Rohingya Indonesian tidak bisa menanggung sendiri. Ini masalah bersama,  harus melibatkan dunia internasional dan lembaga berkenaan seperti komisioner tinggi PBB untuk pengungsi, UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) dan lembaga kemanusiaan lainnya.

Upaya terbaik yang sangat perlu dilakukan adalah memulangkan mereka ke negara asalnya dengan jaminan perlindungan dari pemerintah setempat. Bagi Indonesia, solidaritas kemanusian terhadap pengungsi bukanlah yang pertama kali ditunjukan, tahun 1979-1996 Indonesia  telah melakukan hal yang sama terhadap 250.000 orang lebih pengungsi Vietnam dengan menampungnya di Pulau Galang Batam. Akhirnya mereka dipulangkan ke negara asalnya dan sebagian ditampung di negara ketiga.

Pengalaman itu bagi pemerintah hendaknya dapat dijadikan sebagai acuan solusi untuk menangani permasalahan pengungsi Rohingya. Lalu, solidaritas terhadap dampak konflik etnis dan agama di Myanmar itu jangan pula ditonjolkan hanya sebagai solidaritas etnis dan agama, tetapi dengan solidaritas kemanusiaan yang  tanggung jawabnya harus dipikul bersama.

Yang penting lagi masyarakat  kita yang beragam agama jangan terprovokasi dengan konflik etnis dan agama yang terjadi di Myanmar. Di Myanmar etnis Rohingya tinggal di Arakan, wilayah pantai perbatasan dengan Banglades, populasinya 1,5 juta jiwa dengan status kewarganegaraan tidak jelas, bahkan disebut Myanmar sebagai etnis ilegal dari Banglades.

Diramu dari berbagai situs internet, sejarah  asal-asul dan waktu kedatangan warga Rohingya  ke Myanmar bervariasi, namun kalau dilihat tampilan fisik mereka, etnis Rohingya lebih mirip bangsa Arab, Persia atau India, berbeda dengan mayoritas rakyat Myanmar yang mirip Cina.

Akhir-akhir ini mayoritas rakyat Myanmar yang beragama Budha diprovokasi oleh para biksu Budha untuk mengusir etnis Rohingya karena dikhawatirkan populasinya terus meningkat, salah seorang provaktor itu, biksu berwajah tenang Ashin Wirathu. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]