Dituntut 6 Tahun Penjara, Annas Maamun Keberatan


Senin, 25 Mei 2015 - 19:18:28 WIB
Dituntut 6 Tahun Penjara, Annas Maamun Keberatan

Tuntutan terhadap Annas Ma­amun dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) dari KPK, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (25/5).

Baca Juga : Survei IPO: AHY Masuk Lima Besar Tokoh Potensial di Pilpres 2024, Anies Teratas

Berbeda dengan sidang sebe­lumnya, sidang kemarin hanya digelar selama 10 menit. JPU hanya membacakan tiga halaman diktum. Sedangkan kondisi kese­hatan Annas Maamun, juga tampak lebih bugar dibanding sidang sebe­lumnya. Annas yang mengenakan kemeja batik merah lengan pan­jang, berjalan masuk dan keluar sidang tanpa bantuan. Raut wajah dan kondisi badannya pun lebih segar diban­dingkan saat sidang sebelumnya.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai  Barita Lumban Gaol, JPU dari KPK yang diwakili Irena Putri, Ariawan, Taufik dan Wawan, menga­takan bahwa Annas Maamun dinilai terbukti bersalah karena menerima suap dan janji yang berhubungan dengan jabatannya.

Baca Juga : Pakar Analisis Ucapan Moeldoko 'Diperintah Jokowi': Tak Ubahnya Unjuk Kekuatan

Dalam hal ini, Gubri nonaktif itu dituntut dengan Pasal 11 dan 12 hurup a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi seba­gai­mana diubah dengan Undang-Un­dang Nomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Annas dituntut dengan hukuman penjara selama 6 tahun dan denda Rp250 juta subsider 5 bulan penjara.

Menurut JPU Irene, Annas Ma­amun terbukti menerima uang dari Gulat Manurung sebagai imbalan karena telah memasukkan kebun sawit milik Gulat Manurung dalam surat usulan revisi SK 673 Tahun 2014 tentang perubahan kawasan hutan di Riau. Kebun milik Gulat yang juga telah divonis bersalah masing-masing seluas 1.000 hektare di Kabupaten Kuantan Singingi,  1.214 hektare di Bagan Sinembah, Rokan Hilir. Begitu juga kebun milik Edison Marudut Marsadauli Siahaan seluas 120 hektare di Duri, Kabupaten Bengkalis.

Baca Juga : Berikut Daftar Pengurus Masyumi Reborn: Ahmad Yani Ketum, Alfian Tanjung Waketum

“Edison memberikan uang terse­but kepada Annas Maamun, supaya perusahaannya memenangkan bebe­ra­pa proyek di Dinas Pekerjaan Umum Riau, seperti peningkatan jalan Taluk Kuantan-Cerenti dengan nilai kontrak Rp18,5 miliar, pening­katan jalan Simpang Lago-Simpang Buatan dengan nilai kontrak Rp2,7 miliar, serta peningkatan jalan Lubuk Jambi-Simpang Ibul-Sim­pang Ifa dengan nilai kontrak Rp4,9 miliar,” paparnya.

Dalam perkara suap alih fungsi kawasan hutan Riau, tambah JPU Wawan, Edison Marudut Marsa­dauli Siahaan melalui perusa­haan­nya, orang yang memberikan uang kepada Gulat Manurung sebesar Rp 1,5 Miliar. “Uang itu dipakai Gulat untuk menyuap Annas Maamun hingga tertangkap tangan oleh KPK di Perumahan Citra Grand Cibu­bur,” sebut Jaksa Wawan.

Baca Juga : AHY Temui Ketum PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Bahas Soal Ancaman Demokrasi

Jaksa juga menyebutkan, Annas Maamun menerima uang dari Bos PT Duta Palma Group, Surya Dar­madi melalui Suheri Terta, sebesar Rp3 miliar dari yang sudah dijan­jikan sebesar Rp8 miliar.

Uang tersebut diberikan agar Annas Maamun bersedia mema­sukkan lahan milik PT Palma Satu, PT Panca Agro Lestari, PT Banyu Bening Utama, PT Seberida Subur di Kabupaten Indragiri Hulu yang merupakan anak perusahaan PT Duta Palma Group atau PT Darmex Agro ke dalam usulan revisi SK 673 Tahun 2014 tentang perubahan kawasan hutan Riau.

Gulat Manurung menjadi peran­tara penyerahan uang dari Surya Darmadi kepada Annas Maamun. Gulat terbukti menerima Rp750 juta dari Surya Darmadi.

Peristiwa tersebut berawal saat Kepala Dinas Perkebunan Riau, Zulher, mempertemukan Gulat Manurung dan Surya Darmadi. Surya berniat memasukkan lahannya ke dalam usulan revisi tata ruang wilayah Riau. Zulher minta bantuan Gulat untuk mempertemukan Surya dengan Annas Maamun.

Pertemuan antara Zulher, Gulat dan Surya dilakukan pada 17 Sep­tem­ber di kantor Zulher. Saat itu pula dibicarakan Surya Darmadi akan memberi uang Rp8 Miliar bila Annas Maamun bersedia mema­sukkan kebun sawitnya ke dalam usulan revisi SK 673.

“Terdakwa terbukti menerima uang Rp3 miliar dari Rp8 miliar yang dijanjikan,” tambahnya JPU Taufik.

Yang meringankan Annas Ma­amun, adalah berlaku sopan saat persidangan, sudah berusia lanjut dan belum pernah dipidana. Semen­tara yang memberatkan adalah tidak mendukung pemberantasan korupsi sebagai pejabat.

Setelah mendengarkan tuntutan JPU, Barita Lumban Gaol menutup sidang dan akan dilanjutkan Senin pekan depan, dengan agenda pembe­laan dari pihak terdakwa.

Keberatan

Sementara itu, Annas Maamun yang mendengat tuntutan JPU, langsung menyatakan keberatan. Ia merasa tidak melakukan apa yang dibacakan dalam tuntutan tersebut. Ia juga menilai, tuntutan itu terlalu berat untuk dirinya.

“Ya merasa berat, karena yang saya lakukan tidak seperti itu,” ujar Annas, ketika ditemui usai sidang.

Karena itu, Annas akan me­nyampaikan keberatannya itu dalam nota pembelaan (pledoi) pada Senin (1/6) pekan depan. “Nanti kita mengajukan pledoi ya,” katanya. (hr/bbs/rtc/dtc/ral/sis)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]