Bengkel Akhlaq untuk Anak Muda


Selasa, 26 Mei 2015 - 18:38:17 WIB
Bengkel Akhlaq untuk Anak Muda

Kalau berbicara deretan kerusakan moral dan akhlaq sangatlah panjang. Tinggal nyalakan stasiun televisi, pilih program-program kriminal. Belum lagi kalau kita membeli “koran kuning” yang kalaulah bisa diperas barangkali akan keluar darah semua, karena begitu banyaknya berita pem­bunuhan, perkosaan dan tin­dak kriminal lainnya.

Baca Juga : Kritik Wacana Poros Partai Islam, Zulkifli Hasan: Ini Bertentangan dengan Rekonsiliasi Nasional

Dibalik semua itu, ber­bagai upaya pun untuk me­mangkas, memotong, me­mi­nimalisir semakin tergerusnya akhlaq oleh erosi berketerusan ini terus dilakukan terutama oleh pemerintah dengan ber­bagai program caracter buil­ding. Namun, sepertinya jauh panggang dari pada api, se­makin gencarnya kampanye pembangunan karakter di­dengungkan, semakin deras pula erosi akhlaq menggerus norma kehidupan.

Beranjak dari semua itu, penulis berupaya me­nge­mu­kakan beberapa hal yang di­sebut sebagai bengkel akhlaq, yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi perbaikan akhlaq terutama akhlaq remaja de­wasa ini.

Baca Juga : Jokowi: Industri Otomotif Harus Segera Diakselerasi

1. Rumah Tangga (Ke­luarga)

Sebagai gerbang utama ke­hidupan, rumah tangga mem­punyai peranan yang sangat vital dalam pembinaan akhlaq. Baik atau buruknya akhlaq seorang anak menjadi cer­minan tingkat keberhasilah orang tua dalam mendidik anaknya. Di dalam ajaran Is­lam, anak yang lahir ke dunia ini memiliki hak-hak dan ke­wajiban tertentu yang harus ditunaikan oleh kedua orang tuanya sebagai pelaksana tang­gung jawab mereka kepada Allah dan untuk kelestarian keturunan. Para ulama meng­hitung ada banyak hak yang dimiliki anak atau ada banyak kewajiban orang tua terhadap anaknya, dan salah satu di antaranya adalah mengajarkan anak al-Quran dengan cara yang sesuai dengan al-Quran, sehingga melahirkan anak-anak yang cinta terhadap al-Quran dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Da­lam hadits lain Rasulullah saw. juga bersabda: “Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: Memberi nama yang baik ketika lahir, men­didiknya dengan al-Qur’an dan menikahkan ketika menginjak dewasa.”

Baca Juga : Masyarakat Antusias Disuntik Vaksin Nusantara, Saleh Daulay: Tak Ada Muatan Politik

Lingkungan keluarga sa­ngat menentukan berhasil ti­daknya proses pendidikan, sebab di sinilah anak pertama kali menerima sejumlah nilai pendidikan. Nilai moral yang ditanamkan sebagai landasan utama bagi anak pertama kali diterimanya dari orang tua, dan juga tidak kalah pen­ting­nya komunikasi dialogis sangat diperlukan oleh anak untuk memahami berbagai persoalan yang tentunya da­lam tingkatan rasional, yang dapat melahirkan kesadaran diri untuk senantiasa berprilaku taat terhadap nilai moral dan agama yang sudah digariskan.

Sentralisasi nilai-nilai aga­ma dalam proses inter­nalisasi pendidikan agama pada anak mutlak dijadikan sebagai sum­ber pertama dan sandaran uta­ma dalam me­ngar­tikulasikan nilai-nilai moral agama yang dijabarkan dalam kehidupan kesehariannya. Nilai-nilai agama sangat besar penga­ruhnya terhadap keberhasilan keluarga, agama yang ditanam­kan oleh orang tua sejak kecil kepada anak akan membawa dampak besar dimasa de­wa­sanya, karena nilai-nilai agama yang diberikan mencerminkan disiplin diri yang bernuansa agamis.

Baca Juga : Kasus Covid-19 di Indonesia Merangkak Naik: Tambah 6.177 Positif Baru, DKI Jakarta Terbanyak

Keluarga juga berperan menjadi benteng pertahanan dari sejumlah pengaruh yang datang dari luar. Tidak jarang anak menanyakan sesuatu pro­blem yang datang dari luar yang dia sendiri canggung untuk menjawab atau menga­tasinya. Karena itu, rujukan utama anak adalah keluarga. Di sinilah diperlukan hadirnya sosok orang tua yang bijaksana dan memiliki wawasan yang cukup untuk menerangkan kepada anak tentang apa yang dihadapinya. Dengan demi­kian, anak tidak mudah dipe­ngaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat me­nye­satkan dirinya.

2. Rumah Sekolah (Lem­­­baga Pendidikan)

Kepentingan kita pada pen­­­­­­didikan melebihi dari se­gala kepentingan lainnya. Dan kebutuhan kita ter­hadap pen­di­di­kan lebih ting­­gi dari ke­butuhan lainnya. Apa artinya tubuh dan badan tanpa nilai aturan dan agama? Apa artinya jasad dan raga tanpa akal dan nyawa? Apa artinya wadah bila isinya ru­sak?. Setiap makhluk punya jasad. Manusia dan binatang sama-sama mencari makanan dan minuman. Orang-orang mukmin dan kafir, berbakti dan durhaka, baik dan jahat sama-sama butuh makanan dan udara. Tetapi, kaidah-kaidah, aturan-aturan, pen­didikan, pe­nga­jaran, akidah dan iman yang benar hanyalah milik orang-orang Islam.

Mengapa angka kejahatan mengalami peningkatan yang mencengangkan?. Hal itu ti­dak lain karena kurangnya perhatian terhadap pen­di­di­kan. Kezaliman, kesewenang-wenangan, dan kerusakan ti­dak akan merajalela kecuali pendidikan manusia diper­lakukan secara buruk, akhlaq­nya menyimpang dan peri­lakunya terperosok ke dalam jurang kehancuran. Banyak generasi telah berganti dengan fitnah, tidak ada pendidikan, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maupun hak-hak hamba Allah. Mereka tidak punya amanah yang harus diemban, tidak punya tujuan yang hen­dak dicapai, tidak bisa me­ngenali yang ma‘ruf dan ti­dak bisa mengetahui yang mung­­kar. Hidup mereka ha­nyalah permainan dan senda gurau. Kondisi mereka sangat buruk dan menyimpang. Me­reka tenggelam di dalam lum­pur kenistaan dan me­nga­baikan keutamaan. Mereka tidak menyimpan kebaikan sedikitpun bagi bangsa dan negara. Adakah kejahatan so­sial yang lebih berat dari ini?.

Sungguh, keberadaan gene­rasi yang jauh dari pendidikan yang benar merupakan keja­hatan terhadap masyarakat dan umat secara keseluruhan. Be­tapa banyak masyarakat yang mengeluhkan penyimpangan prilaku remaja? Betapa banyak orang tua yang mengeluhkan kenakalan anak-anak? Dan betapa banyak ayah ibu yang tersiksa dengan kedurhakaan anak-anak dan keengganan mereka untuk menunaikan tugas-tugas.

Oleh karena itu, umat Is­lam berkewajiban melak­sa­nakan tanggung jawabnya ma­sing-masing dalam me­nye­lesaikan masalah ini dengan mengerahkan segenap potensi dan kemampuan yang di­mi­liki. Mereka juga harus bekerja sama dengan semua saluran yang ada: rumah, keluarga, kedua orang tua, kerabat, seko­lah, kampus, masjid, klub bermain, seluruh lapisan ma­sya­rakat, dan segenap media massa dengan semua saluran yang ada. Semuanya harus bekerja keras dalam mendidik, membangun, dan mena­nam­kan norma-norma akhlaq pada diri putra-putrinya. Agar kelak lahir generasi muda yang ideal, baik laki-laki maupun wanita.

Tanggung jawab mendidik generasi muda adalah tang­gung jawab yang sangat berat. Dan masalah perhatian ter­hadap belahan jiwa dan buah hati (baca: putra-putri) adalah masalah yang sangat besar. Umat Islam harus men­cu­rahkan seluruh perhatiannya kepada masalah ini. Sebab, pilar-pilar kebahagian mereka pada diri pribadi maupun masyarakat bertumpu pada masalah pendidikan ini. Oleh karena itu, pendidikan harus dipersiapkan secara matang. Kurikulum harus dirumuskan, perencanaan harus dima­tang­kan, tenaga harus dikerahkan, agar proses pendidikan ber­jalan dengan baik, tidak ter­hantuk batu di tengah jalan, jauh dari segala macam per­tentangan dan dualisme, ter­hindar dari taklid buta dan latah, serta dibarengi perasaan bangga akan kepribadian Is­lam dan tata cara syar’i, seraya berpegang teguh pada pe­tun­juk Al-Quran dan mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping itu, perlunya wacana bahwa peni­laian akreditasi sebuah lem­ba­ga pendidikan, tidak hanya ter­pa­ku pada delapan standar yang sudah ditetapkan. Lebih d­a­­ri itu, keberakhlaqan setiap lu­­lusan yang tercermin dalam pe­­­laksanaan nilai-nilai agama, me­s­tinya menjadi sebuah ja­minan.

Agama Islam telah mem­berikan perhatian yang sangat besar pada masalah pen­di­dikan. Tidak ada yang bisa menyelamatkan generasi mu­da dunia selain pendidikan yang didasarkan pada ajaran agama. Karena hanya pen­di­dikan inilah yang memiliki tujuan mulia, yaitu pengabdian kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, serta pen­da­yagunaan semua bidang untuk berkhidmat kepada prin­­­­­sip yang fundamental ini. Demikian juga pendidikan yang dimaksudkan untuk men­jadikan generasi muda sebagai pengemban akidah, pemilik cita-cita yang tinggi, pembawa iman, dan pemelihara budi pekerti. Hal itu terlihat pada ucapan, pola pergaulan dan prilaku mereka.

Maka, pemilihan lembaga pendidikan yang tepat bagi putra-putri kita, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa dan mental mereka. Dan yang jelas, ini menjadi sebuah tantangan besar bagi setiap lembaga pendidikan –negeri dan swasta / formal, informal ataupun non formal- agar dalam menen­tukan arah pendidikan selalu menjadikan akhlaq dan agama sebagai landasan utama. Jika ini dilaksanakan dengan baik, niscaya kondisi akan membaik dan masyarakat akan mera­sakan kebahagiaan yang nyata. Insya Allah.

3. Rumah Adat (Tata­nan Adat/Peran Pemangku Adat)

Untuk memperoleh pema­ha­man yang komprehensif mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial budaya di Minangkabau, kita dapat mem­­­­pelajari dan mengkaji agama, upacara, dan atribut yang digunakan sehingga dapat menemukan dan menentukan apa yang seharusnya diinter­nalisasikan dalam masyarakat di Minangkabau.

Pemahaman yang benar terhadap nilai-nilai yang ter­kan­dung dalam tatanan adat Minangkabau, menjadi dasar utama bagi seseorang untuk hidup nyaman dan dipandang sebagai bagian dari masyarakat beradat. Rendahnya nilai-nilai akhlaqi yang tercermin dalam tata pergaulan remaja dewasa ini, menjadi salah satu bukti semakin menipisnya pema­haman mereka terhadap nor­ma adat dan agama yang di­anutnya.

Maka, sudah menjadi ke­wa­jiban bagi kita semua, terutama bagi para pemangku adat, untuk kembali mengin­ter­nalisasikan nilai-nilai adat bagi generasi muda kita. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan pelatihan nilai-nilai adat dan tradisi Minang­kabau. Menghidupkan kem­bali budaya surau rang mudo, silek, randai, berpetatah-peti­tih dan sebagainya, yang nyaris tenggelam di tengah-tengah masyarakat pada dalam dan derasnya arus globalisasi. Di samping itu, pemberlakukan sanksi sosial / sanksi adat bagi para pelanggar aturan sosial, bisa menjadi alternatif dalam menegaskan pentingnya arti sebuah nilai adat bagi ma­syarakat setempat.

4. Rumah Sakik (Ru­mah Sakit)

Rasulullah saw. Bersabda “Cukuplah dengan kematian itu menjadi pelajaran bagimu”. dari wasiat Rasulullah saw ini jelas bahwa pelajaran yang paling berharga dalam hidup ini adalah mengingat mati serta mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap kematian. Beta­papun banyak pelajaran (ilmu) yang kita pelajari hingga kita menjadi seorang ahli ilmu, tentu semua itu tak bermakna apa-apa jika membuat diri kita melupakan kematian yang menjadi pintu gerbang bagi kita menuju alam akhirat; Hari Akhir; Hari Perhitungan; Hari Penentuan apakah kita akan menjadi penduduk surga atau penduduk neraka.

Sebenarnya, belajar dari kematian tidak terbatas pada mengambil pelajaran dari pe­ris­tiwa kematian itu saja. Tapi lebih dari itu, seluruh proses kehidupan yang tentunya akan berimbas pada proses ke­ma­tian bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi seseorang yang mau me­ngam­bil i‘tibar darinya. Pada banyak kesempatan sering penulis sampaikan bahwa “Jika hidup sesuka kita, maka mati sesuka Allah”. Artinya, bagaimana kita merancang hidup, maka seperti itu pulalah kita akan dimatikan oleh Allah SWT.

Orang-orang yang bisa me­ngam­bil pelajaran dari kehi­dupan dan kematian, akan berusaha hidup sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah SWT. Termasuk salah satu pelajaran yang paling berharga adalah belajar dari rasa sakit dan orang-orang yang diberi rasa sakit oleh Allah SWT. Contoh yang paling simpel dalam menanamkan akhlaq kepada anak adalah ketika seorang anak suka kebut-kebu­tan atau balapan motor misal­nya, dengan membawanya ke rumah sakit dan mem­per­lihat­kan akibat dari aksi kecelakaan berlalu lintas dan sebagainya.

5. Rumah Ibadah (Ula­ma/Tokoh Agama dan Kesa­daran Beragama)

Seperti diketahui dalam sejarah bahwa setelah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah dari Mekah ke Madinah, maka yang pertama dilakukan nabi adalah membangun masjid Quba dan di masjid inilah didirikan shalat jum’at pertama dalam Islam. Beberapa lama kemu­dian dibangun pula masjid Nabawi. Melihat bangunan fisiknya, masjid dizaman itu masih sangat sederhana. Na­mun, masjid memainkan pera­nan yang sangat signifikan. Dan menjalankan multi fungsi dalam pembinaan umat. Mas­jid saat itu memainkan pe­ranan yang sangat luas. Masjid berfungsi sebagai tempat beri­badat, tempat pendidikan, tempat pemberian santunan sosial, tempat latihan militer dan persiapan perang, tempat pengobatan para korban pe­rang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima utusan dele­gasi/tamu, serta pusat pene­rangan dan pembelaan agama. Dari pembinaan yang dila­kukan Rasulullah saw. di mas­jid itu, lahirlah tokoh-tokoh yang berjasa dalam pengem­bangan Islam ke seantero du­nia, seperti Abu Bakar  shid­diq, Umar bin al-Khatab, Us­man bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib dan tokoh-tokoh utama lainnya.

Sungguh, Kenakalan re­maja dewasa ini lebih banyak disebabkan oleh rusaknya sistim, pola dan politik pen­didikan. Kerusakan diper­parah oleh hilangnya tokoh panutan, berkembangnya keja­hatan orang tua, luputnya tang­gung jawab institusi lingkungan masyarakat, impotensi di kala­ngan pemangku adat, hi­lang­nya wibawa ulama, berge­sernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis, dan profesi guru dilecehkan.

Oleh karena itu, mengingat begitu pentingnya pembinaan akhlaq, terutama bagi kala­ngan remaja Indonesia dewasa ini, maka sinergisitas antara rumah tangga, rumah sikola, rumah adat, rumah sakik dan rumah ibadah yang tercermin dari kombinasi dan kolaborasi orang tua, guru, tokoh adat/ninik mamak, alam teladan dan tokoh agama menjadi se­buah keharusan bagi kita, sebagai bentuk tanggung jawab dalam membina akhlaq ge­nerasi bangsa Indonesia. Semoga !!!.

 

KAMARUL ZAMAN, MA
(Guru MTSN Durian Tarung Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]