Tawarkan Konsep Wisata yang Berbeda


Jumat, 29 Mei 2015 - 16:41:15 WIB
Tawarkan Konsep Wisata yang Berbeda

Bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi juga bisa menaiki angkutan kota (angkot) yang banyak melintasi Taman Panorama Bukittinggi. Jika berada di kawasan Jam Gadang atau kawasan Pasar Atas juga bisa berjalan kaki ke arah Benteng melintasi Hotel Grand Rocky menuju RSAM Bukittinggi, yang berjarak sekitar satu kilometer.

Baca Juga : Pantai Salido Pesisir Selatan jadi Favorit Anak Muda

Nama Taman Ngarai Maaram bisa diartikan tanah hasil runtuhnya Ngarai karena letak taman itu dulunya adalah dataran hasil longsornya Ngarai Sianok. Taman Ngarai Maaram memiliki luas sekitar satu hektar dan dilengkapi beberapa fasilitas seperti jogging track, taman bermain, tempat duduk, dan jembatan yang menghadap lang­sung ke Ngarai Sianok.

Taman Ngarai Maaram ini sangat cocok untuk tempat ber­main keluarga. Meski pepo­honannya tidak serindang Taman Panorama Bukittinggi, namun Taman Ngarai Maaram menye­diakan beberapa tempat permai­nan anak-anak yang bisa dipakai secara gratis oleh pengunjung.

Baca Juga : Tempat Wisata Ditutup, Warga Padati Taman Kota Siak

Tempat permainan anak yang disediakan itu adalah ayunan dan seluncuran atau perosotan. Mes­ki tempat bermain anak itu berukuran mini dan jumlahnya sedikit, namun cukup bagi ke­luarga untuk memanjakan anak di tempat itu.

Orangtua juga bisa menga­wasi anak-anak bermain, kare­na hampir di se­ke­li­ling taman dise­diakan tempat du­duk bagi pengunjung, baik yang terbuat dari batu, dari plastik, maupun dari kayu.

Sama seperti berada di Taman Panorama Bukittinggi, pengunjung di Taman Ngarai Maaram di kawasan Bukit Apit Bukittinggi ini juga menyediakan tempat khusus bagi pengunjung untuk melihat keindahan pano­rama Ngarai Sianok. Hanya saja, Taman Ngarai Maaram ini tidak seluas Taman Panorama.

Pengunjung juga tak usah kha­watir ji­ka haus dan lapar, karena warga sekitar mulai menye­diakan makanan dan minuman di sekitar taman, dengan harga yang terjangkau. Untuk saat ini, pengunjung bisa bebas ke luar masuk, tanpa dipungut bayaran.

Ada yang menarik di lokasi ini, karena disediakan jembatan panjang untuk pengunjung meli­hat keindahan ngarai atau untuk sekedar foto-foto. Jembatan besi itu dibuat sedemikian kuat untuk bisa menahan orang-orang yang berada di atasnya. Untuk kea­manan, jembatan itu dilengkapi pelapis dengan kawat berduri agar tidak ada pengunjung yang terjatuh ke jurang di bawahnya.

Awalnya jembatan itu tidak memiliki nama, namun belaka­ngan nama Titian Selfie ramai dibicarakan orang karena setiap pengunjung yang datang selalu berselfie dengan latar belakang panorama Ngarai Sianok yang indah. Dengan berdiri di atas jembatan itu, berfoto selfie men­jadi lebih mudah dan peman­dangannya sangat indah.

Nama Titian Selfie sendiri berasal dari kata Titian yang berarti “jembatan” dalam bahasa Minang. Titian Selfie ini meru­pakan terusan dari jalan setapak yang mengeliling Taman Ngarai Maaram. Sebelum menaiki Tit­i­an Selfie, pengunjung akan mele­wati koridor dengan atap kerang­ka besi yang dipenuhi lilitan sirih merah.

Setelah naik tiga buah anak tangga, anda bisa menikmati pemandangan yang indah dari Titian Selfie. Dari Titian Selfie itu, anda bisa menikmati lekukan indah tebing-tebing di Ngarai Sianok ke arah barat dan peman­dangan hijau perbukitan Taman Benteng Fort de Kock ke arah timur.

Man­faat­kan Da­na APBN

Renovasi Taman Ngarai Maa­ram ini meman­faatkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Ne­gara (APBN) yang disalurkan Kementrian Peker­jaan Umum dan Perumahan Rakyat sebesar 900 juta rupiah yang disalurkan pada tahun 2014 lalu.

Lokasi objek wisata Taman Ngarai Maaram ini sebelumnya merupakan lahan tinggal yang tidak terkelola dengan baik dan lahan ini juga berdekatan dengan pinggir Ngarai Sianok. Waktu itu Dinas Pe­ker­jaan Umum menilai lo­kasi ini perlu direnovasi men­jadi sa­lah satu ob­jek­ wisata ba­ru yang ber­beda dari objek wisata yang telah ada.

Kawasan objek wisata Taman Nga­rai Maa­ram ini juga me­rupakan sa­lah satu po­jok Ruang Ter­­buka Hi­jau (RTH), meng­ingat se­tiap Ka­bu­paten dan Ko­ta di Indonesia diwajibkan memenuhi kuota 30 persen dari luas wilayahnya untuk dijadikan ruangan peng­hijauan.

Dari segi sarana dan prasa­rana yang telah dibangun me­mang secara umum belum men­cukupi, apabila dibanding­kan dengan manfaat yang telah dira­sakan masyarakat sekarang ini, karena terbukti hampir setiap sore banyak pengunjung yang datang.

Namun demikian rencana penambahan masih dalam tahap wacana di pemerintah Kota Bukittinggi, sambil menunggu sinyal adanya bantuan tambahan dana dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (*)

 

Laporan : HASWANDI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]