Kaba Puti Sari Bana


Jumat, 29 Mei 2015 - 16:42:21 WIB
Kaba Puti Sari Bana

Bersandarlah terus di bahuku, sebab tak ada yang lebih ampuh mengusir dingin selain berbagi kehangatan. Biarkan aku men­dendangkan diri dalam genangan masa depan. Biarkan tenggelam. Tenggelam tanpa alasan.Biarlah.

Baca Juga : Dituding jadi Pelakor Kisruh Sule-Nathalie, Tisya Erni: Semua Terjadi Bukan Kebetulan

Singgalang telah kita daki sema­laman tadi ditemani bulan, bintang, cerita-cerita Si Bunian3 dan todo­ngan Emakku yang menginginkan cucu sesegera mungkin. Aku hanya ingin menikahimu dan lahirkanlah anak-anakku.

Aku bahagia ketika kau mau jadi istriku meski dengan syarat harus memperlihatkan fajar di puncak Singgalang. Itu sudah aku penuhi. Tapi kau tidak. Tentu tidak, kau buta. Di situ aku sadar bahwa aku bodoh. Barangkali kau mera­sakan kebodohan itu, sehingga kau katakan akulah fajar.

Baca Juga : Duh! Nathalie Holscher Dihujat Warganet, Gegara Bongkar DM Sule dan Diduga Cemburu Terhadap Lina Jubaedah

Jawaban serupa apa yang kau berikan, “kaulah fajar itu.” Aku sungguh lemah menerjemahkan bahasa-bahasa bersayap. Itulah sebabnya, Emakku tak pernah mempergunakan bahasa-bahasa serupa itu untuk memarahiku. Janganlah kau tambah-tambah kebodohanku.

Warnaku tak mega-mega. Tak kabut. Darahku tak dingin. Entah dari sudut mana kau mendapat terang hingga akulah yang kau sebut fajar. Sudahlah, aku hanya ingin menikah dan memberi Emakku cucu.

Baca Juga : Gugat Cerai Sule, Nathalie Holscher sudah Siapkan Pengacara

Kau bahagia dengan entah apa, sedangkan aku bertengkar dengan kebodohan. Tak masuk akal, hanya untuk menjawab mau atau tidak mesti melihat fajar dulu. Akhirnya kau tak bisa juga melihatnya. Me­ngapa mesti jauh-jauh dan mele­lahkan jikalau hanya ingin menga­takan “Kaulah fajar itu.”

Sebenarnya aku bisa saja mem­bodohimu. Dengan berputar me­ngelilingi ladang-ladang sayur di Pandai Sikek ini, sudah sama lelahnya dengan mendaki Singga­lang, ketika fajar datang aku tinggal bilang “Wah... Fajar sudah muncul. Apakah kau melihanya, Mar?”, “Tidak.” Jawabmu, aku tinggal marah-marah sedikit lalu kau akan bilang “Kaulah fajar itu.”

Baca Juga : Atika Mahwu Terpilih Wakili Sumbar di Ajang Puteri Muslimah Nusantara 2021

“Dingin sekali di sini?”

“Sudah bangun kau kiranya, Mar.”

“Aku mendengar sesuatu jatuh ke air dan merasakan kebekuan angin. Apakah kita masih di puncak Singgalang?”

“Masih. Tapi tak ada angin beku. Aku baru saja melempar batu ke telaga.”

“Telaga?”

“Iya. TalagoDewi.”

“Oh... Inikah telaga itu?”, ia berdiri dan berjalan mendekati bibir telaga. Aku tetap membimbingnya. Kami berhenti tepat di samping pohon Podo-podo.Ia memegang pohon itu. “Apakah ini Podo-podo?”

“Mereka memagari telaga ini.” Ia mendekapkan kedua tangannya. Membelai-belai dan merasakan kasarnya kulit Podo.

“Di sekitar telaga ini tentu ada ladang bunga padi dan hutan lumut.”

“Angin yang kau katakan beku itu berasal dari sana.”

Ia berada pada suasana yang dalam, seakan-akan ia melihat berapa tinggi dan lengkungnya pohon itu. Setelah itu kami duduk di pangkalnya.

“Aku pernah mendapatkan cerita tentang telaga ini.”

“Setiap kita, anak-anak yang tinggal di selingkar gunung Sing­galang, pernah mendapatkannya. Bahkan ia hidup di kepala.”

Kata orang-orang tua kami, sebelum islam memijakkan kaki di halaman rumah gadang, hiduplah seorang raja hindu bernama Kalik Kalik Jantan bersama istrinya Anduang Sangkua. Mereka me­miliki seorang putri bernama Puti Sari Bana.

Puti Sari Bana adalah putri yang cantik. Aku pun tidak tahu seberapa cantiknya ia, yang jelas dia cantik dalam bayanganku. Antara Maryana dan Puti Sari Bana tak dapat aku bedakan.

Puti Sari Bana pernah hanyut ketika ia mandi-mandi di Batang Sungsang. Sungai yang berarus tenang dan berlubuk dalam. Di dasar lubuk itu terdapat lubang yang sesekali bisa menghisap. Puti Sari Bana menjadi korban pertama dan terakhir dari tragedi itu.

Kalik Kalik Jantan telah ber­usaha mencari Puti Sari Bana kemanapun, dari tempat yang mungkin dan tak mungkin dialiri Batang Sungsang. Namun tetap tidak ditemukan.

Tidak beberapa lama setelah peristiwa itu, Puti Sari Bana dian­tarkan oleh orang Si  Podo-podo. Mereka berbadan tegap dan kuat, tampak dari otot-ototnya yang kekar. Pasukan Kalik Kalik Jantan hanya setinggi pinggang mereka.

Semua orang di ke­rajaan heran sekaligus ba­hagia. Heran ka­re­na tidak ada seorang pun yang bisa ma­suk dan keluar kera­jaan mereka kecuali me­reka. Ba­ha­gia melihat Puti Sari Ba­na pu­lang. Kalik Kalik Jan­tan sangat berter­i­ma­kasih pada orang Si Po­do-podo. Ia berjanji akan menga­bulkan apa­pun yang di­minta oleh Si Podo-podo. Namun mereka tidak meminta harta melainkanPuti Sari Bana. Mereka minta agar Puti Sari Bana tidak dikawinkan dengan siapa pun kecuali dengan anak datuak mereka.

Kalik Kalik Jantan tidak bisa memenuhi permintaan tersebut sebab orang-orang yang berada di kerajaannya tidak boleh dinikahkan dengan orang-orang dari luar ke­rajaan. Orang-orang dari luar hanya akan merusak kebudayaan dan memunahkan harta mereka.

Orang Si Podo-podo murka, mereka merasa dilecehkan. Perpe­rangan pun tak dapat dielakkan. Kerajaan Kalik Kalik Jantan ber­hasil dilemahkan. Mereka membuat pertahanan dengan cara mem­benamkankerajaannya. Si Podo-podo tak bisa menembus benteng itu, malah kaki mereka terbenam hingga mata kaki, mengeras dan kaku seperti kayu.

Telaga di depan kita inilah benteng kerajaan Kalik Kalik Jan­tan. Dan Podo-podo itu, ya, Podo. Sedangkan Puti Sari Bana tidak dapat masuk ke dalam benteng sebabketika pertempuran,  Puti Sari Bana terpelanting entah kemana. Akhirnya ia membuat kerajaan baru di Hutan Lumut. Dan kabarnya peladang-peladang dan pendaki-pendaki yang hilang di gunung ini dibawa ke sana.

Orang-orang kampung kita mem­percayainya sebagai kerajaan Bunian. Tapi itu hanya cerita.

“Adakah Podo-podo yang berusaha menyelam ke telaga?”

“Kita sedang duduk di pahanya.”

“Persis dengan cerita itu?”

Aku tidak terlalu menghiraukan cerita itu. Setelah kita dewasa kita mesti meyakininya sebagai sebuah kaba4. Tukang kaba5 pun tidak meyakini cerita tersebut, seperti pada lirik pembukaannya kaba urang kami kabakan jikok salah kami indak sato6. Lalu kenapa kita mesti meyakininya.

“Mar, sebenarnya aku masih meragukan fajar yang kau samakan dengan aku itu. Kalau pun benar aku merasa kecil sekali, indah hanya singgah sebentar. Esok pagi indah lagi tapi hanya sebatas subuh. Namun bagaimana jika kau bangun kesiangan, kau tak akan me­nyak­sikan aku lagi tentunnya.”

“Setiap yang kulihat adalah malam, meski aku sering mem­bayangkan siang serupa apa dan matahari sebesar apa? Kau tahu, Sam, dalam sebuah malam tiap tahunku, aku selalu menyaksikan bayangan aneh.”

“Bayangan apa?”

“Orang-orang bertubuh tegap, di punggungnya bersilang suluh, di kepalanya bergejolak api, datang dan mengetuk pintuku. Mereka memberikan pakaian yang ditenun dengan benang beragam warna serta bunga padi yang dirangkai jadi sunting.Kemilaunya menggerakkan aku untuk memakainya. Aku mera­sa sangat cantik. Cahaya-cahaya berpendaran dari tubuhku.Kata mereka pakaian itu ditenun dengan benang fajar.

Setelah itu mereka membawa aku keSinggalang. Setiap batuan, setiap ilalang, setiap ladang adalah mega-mega. Sesampai di puncak, sunting bunga padiku mereka ta­nam sebelum telaga.

Setelah itu aku dibawa ke se­buah tempat yang lembab. Seluruh tempat itu dipenuhi oleh lumut. Tak ada raja hanya puti. Ia membuka pakaianku dan memberikan sirih bersedah banyak.

Lidahku serasa terbakar mengunyahnya. Setelah aku kunyah habis sirih itu dan sepahnya aku ludahkan ke dalam wadah serupa cerenang, mereka menempelkan lumut ke badanku. Aku lumut hijau muda. Cerenang tempat sirih tadi aku jujung dan mereka menggandengku hingga ke pohon Podo-podo yang ujungnya telah sampai pada permukaan telaga. Lalu aku dibiarkan meniti­nya sendirian.

Rambut panjangku tergerai dan tenggelam di telaga. Mereka mem­ba­suhnya. Setelah mereka menganggap prosesi itu selesai, ada sesuatu yang menarik rambutku dan memaksa aku masuk ke dasar telaga. Begitulah mimpi itu hadir tiap tahunnya.”

“Itu hanya mimpi, Mar. Su­dahlah jangan gunakan lagi bahasa-bahasa bersayap itu. Aku lebih suka sesuatu yang terang bukan yang terbang. Sekarang kuminta pada kau, jangan kau bebani lagi kata-kata dengan banyak makna, cukuplah tiap mereka membawa satu saja.”

“Tak ada mimpi yang terang, Sam. Mimpi adalah tanda-tanda yang membawa pertanda.”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku pun lebih tidak mengerti. Sebenarnya pikiranku menolak untuk ke puncak ini.”

“Bukankah kau yang mengajakku.”

“Ada sesuatu energi yang menggerakkan hatiku. Ia serupa angin dan berbisik langsung ke pangkal telinga.”

“Jadi ini bukanlah syarat agar aku bisa mendampingi hidupmu?”

“Entahlah.”

“Lalu apa? Menjadikan aku kerbau yang menarik pedatimu? Dan kau tinggal duduk santai dan sesekali kau pecut juga ekorku.”

“Tidak, Sam, aku tidak beranggapan begitu.”

“Ya. Benar. Begitulah kata orang-orang, rumah sudah tukang dibunuh.”

“Tidak. Seperti ada keinginan gaib berputar-putar di kepala dan menyelimuti hatiku. Kau mesti pahami aku.”

“Kau yang mesti memahami. Aku tidak dapat bayangkan kalau-kalau emakku tetap nyinyir menyuruhku beristri. Aku tak ingin jadi fajar, Mar, aku hanya ingin jadi suamimu!”

“Entahlah. Aku berputar-putar dalam ketidakmengertian. Aku tak sadar mengucapkan kata-kata itu. Energi itulah yang menggerakkan aku untuk berbicara demikian. Sedangkan untuk menerimamu menjadi pendamping hidupku, tak perlu pula kita mendaki Singgalang dan menyaksikan fajar. Ada saja laki-laki yang mau menjadikan aku istrinya, aku sudah bersyukur. Aku tak memerlukan ketampanan, Sam. Meski kau pincang, mukamu bu­ruk, atau tubuhmu dipenuhi bekas jahitan, takkan aku hiraukan. Asal­kan kau masih bersuara, ketampa­nan­mu bisa aku rasakan. Jauh dari itu, Sam, aku lebih tertarik pada keberanianmu. Kau sanggup mem­bawaku ke puncak ini. Sangat aku hargai,” selaput putih serupa kabut di bolamata Maryana bergerak. “Mengenai fajar itu, Sam...”

Tiba-tiba saja kabut bercampur angin beku yang menyetubuhi permukaan telaga. Berputar-putar. Semakin lama semakin kencang hingga mendekati kami. Maryana berdiri. Suaranya berubah. Ia tertawa sekeras-kerasnya,

“Kaulah fajar itu. Sepanjang jalanku mega-mega.”

Kabut bercampur angin dingin itu disedot pupil Maryana. Lalu ia memanjat Podo sekencang-kencangnya, seakan-akan dia tidak buta lagi. “Ikutlah denganku, kita akan meggelimangi diri dalam ketidakmengertian yang tidak perlu dicari pengertiannya.”

Aku mendengar bunyi gendang dan talempong tingkah bertingkah, dendang menuruni lembah. Se­makin mendekat, semakin keluar dari telaga.

Aku melihat orang-orang dari dalam telaga me­manggil-manggil Maryana dengan nama Puti. Samar-samar aku dengar “Anduang sudah tak sabar menanti. Kau akan berhelat. Lekaslah.”

“Ikutlah, Sam. Kau akan kuja­dikan suami.” Lalu ia melompat ke dalam telaga. Setelah itu aku tidak tahu berada di mana. Dalam bayang-bayang, aku melihat emak berkacak pinggang dan Maryana di belakangnya sedang duduk di singgasana.

 

Cerpen: HALVIKA PADMA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]