Gelombang Panas India Seharusnya Bisa Dihindari


Rabu, 03 Juni 2015 - 19:11:32 WIB
Gelombang Panas India Seharusnya Bisa Dihindari

Para dokter dan tenaga medis lainnya telah bekerja menyalurkan bahan bantuan seperti minuman untuk re­hidrasi dan cairan infus. Mereka juga menganjurkan ma­syarakat India untuk ti­dak keluar ruangan pada siang hari. “Sebenarnya ke­matian ini mudah untuk di­hindari. Yang mereka tinggal lakukan adalah mengikuti peringatan-peringatan dasar se­perti menghindari pe­ker­jaan di bawah matahari,” kata M Sudhir Kumar.

Baca Juga : Jenazah Lelaki Ditemukan Mengapung di Bawah Jembatan Kuranji

Namun, asisten operasi sipil di Puskesmas Utama Dakkili itu mengaku tidak banyak yang mengindahkan anjuran ‘mendasar’ tersebut. “Tidak banyak yang men­dengar. Apa yang bisa kami perbuat? Ini adalah masalah kelaparan,” tambahnya lagi.

Chanaga Aankaiah, se­orang pria yang bekerja se­bagai buruh tani di Andhra Pradesh, meninggal dunia akibat hipertermia (heat­stroke) setelah terkena pa­paran panas.

Baca Juga : Penyeberangan Roro Ditutup Dishub Bengkalis pada 1 Syawal

Menurut pengakuan sang istri, Chanaga Ratnam, sua­minya itu tutup usia pada umur 59 tahun, setelah ia bekerja di sawah sekitar desa Madhu Reddy, dekat Gudur. “Mereka menghubunginya untuk (memberikan) bebe­rapa pekerjaan di sawah dan ia (Aankaiah) pergi dengan antusias. Ia (lalu) pulang, berkata bahwa dirinya tak enak badan, minum air, dan meninggal begitu saja,” kata Ratnam.

Chanaga adalah satu dari sekian banyak rakyat jelata di Andhra Pradesh, India. Dari profesinya tersebut, ia menghasilkan kurang lebih Rp 31.000 per harinya.

Baca Juga : 11 Penambang Emas Ilegal di Kuansing Diringkus Polda Riau

Sementara, V Haripriya, seorang deputi dari petugas kesehatan dan medis distrik di Venkatagiri, menyalahkan asbes yang dijadikan atap gubuk tempat tinggal oleh beberapa warga. “Masalah ini diperburuk dengan orang-orang yang tinggal di gubuk-gubuk beratapkan lembaran asbes,” kata Hari­priya kepada Reuters.

Selain menelan korban jiwa, gelombang panas bah­kan melelehkan aspal bebe­rapa jalan di India. Dikatakan suhu siang hari dapat men­capai lebih dari 40 derajat Celsius.

Baca Juga : Dua Mantan Anggota DPRD Diperiksa Penyidik Kejaksaan

Beri Kompensasi

Sementara  itu  Daerah tenggara Andhra Pradesh, yang sebagian besar war­ganya tewas akibat gelom­bang pa­nas di India, telah me­m­ber­lakukan sebuah pe­r­t­im­ba­ngan atas fenomena ini.

Pertimbangan tersebut adalah dengan membayar kompensasi sebesar Rp 21 juta.

Awalnya, menurut Reu­ters, kompensasi baru bisa didapat setelah kematian sudah terverifikasi memang disebabkan oleh paparan gelombang panas. Namun, kini prosedur untuk kom­pensasi sudah dipermudah. “Sekarang prosedurnya su­dah diubah. Laporan autopsi tidak lagi diperlukan,” ucap Y Maithreya, seorang peja­bat setempat di Venkatagiri, India.

Dia mengatakan, banyak keluarga yang enggan me­lakukan autopsi, lantaran kepercayaan takhayul terkait pemindahan organ tubuh dari orang yang sudah me­ninggal.

Ketua Menteri Andhra Pradesh N Chadrababu Nai­du, yang mencetuskan ke­perluan laporan autopsi seba­gai syarat untuk me­nerima kompensasi, ke­mudian menyadari bahwa keputusan tersebut kurang praktis.

Kini, tiga pejabat s­e­tempat akan menjadi pe­nyelidik dari tiap laporan ka­sus kematian akibat gelom­bang panas. Jika jenazahnya sudah dikremasi, lima saksi akan dipanggil untuk men­jelaskan penyebab kematian tersebut.

Biasanya saksi adalah tetangga atau rekannya. “Ka­mi harus melakukan veri­fikasi atas semua ini, karena setiap kompensasi harus bisa mencapai orang-orang yang tepat; bukan untuk mereka yang meninggal dunia akibat umur atau serangan jan­tung,” jelas Maithreya.

Tak Sentuh Indonesia

Kepala Lembaga Pener­bangan dan Antariksa Na­sional (Lapan) Prof Thomas Djamaluddin mengatakan gelombang panas yang se­dang melanda sebagian wila­yah India dan menewaskan banyak warganya tidak akan mengarah ke Indonesia.

“Indonesia masih aman, gelombang panas tersebut tidak akan mengarah ke Indonesia, karena dinamika atmosfer di sana dan di sini su­dah berbeda,” kata Tho­mas usai penan­datanganan kerja sama dengan beberapa universitas nasional di Ja­karta, Senin (1/6).

Ia mengatakan Lapan terus memantau cuaca dan suhu dengan penginderaan jarak jauh untuk me­ngan­tisipasi kemungkinan ada­nya potensi bencana.

Gelombang panas akibat tiupan angin kontinental kering yang melanda negara bagian Andhra Pradesh, Telangana dan Orissa di India telah menewaskan hingga 2.207 orang sampai Sabtu (30/5). Kebanyakan korban adalah para manula dan pekerja yang menderita karena dehidrasi.

Mei dan Juni adalah ma­sa terpanas di India, dengan suhu bisa mencapai 40 de­rajat Celcius lebih. Namun ahli meteorologi me­nga­takan jumlah hari dengan suhu sekitar 45 derajat Cel­cius terus bertambah selama 15 tahun belakangan. (h/trb/ant)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]