Ribut-ribut Pulau Mego Dicaplok Bengkulu


Rabu, 03 Juni 2015 - 19:18:35 WIB
Ribut-ribut Pulau Mego Dicaplok Bengkulu

Bak bola salju, kabar pencaplokan Pulau Mego oleh Provinsi Bengkulu dari Sumbar menjadi berita heboh. Kian hari kian mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk masyarakat. Pemicunya adalah ekspos kekayaan alam yang terkandung di perut bumi Pulau Mego berupa minyak bumi dan uranium. Komisi I DPRD Sumbar pun menyambut kabar ini dengan serius.

Baca Juga : Capres 2024, PDIP Serahkan pada Keputusan Megawati

Anggota Komisi I DPRD Sumbar, Darman Sahladi me­nyatakan Sumbar rugi besar karena kehilangan Pulau Me­go yang kaya dengan sumber daya alam. Mantan Ketua DP­RD Kabupaten Limapuluh Kota ini juga berkeyakinan Pulau Mego sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Ka­bupaten Kepulauan Mentawai. Apalagi menurutnya ‘Me­go’ merupakan bahasa Mentawai yang artinya sangat jauh.

Darman Sahladi juga menegaskan bahwa kasus Pulau Mego mendapat perhatian serius dari Komisi I DPRD Sumbar I yang menangani masalah pemerintahan. Komisi I akan meminta Pemprov Sumbar menelusuri kebenaran informasi pengambilalihan Pulau Mego oleh Provinsi  Bengkulu.  Data-data akan dikumpulkan untuk mencari pembuktian. Selain data yang akurat, informasi historis terkait daerah bersangkutan juga akan dikumpulkan.  Untuk itu akan digali informasi melalui tokoh masyarakat pada kedua  wilayah perbatasan.

Baca Juga : Tindakan KKB Papua Sangat Keji, Tembaki Guru dan Tenaga Medis Covid-19

Di sisi lain, Kepala Biro Pemerintahan Setdaprov Sumbar, Mardi telah memastikan Pulau Mego bukan aset Provinsi Sumbar. Karena dari daftar pulau yang diajukan Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak tercantum nama Pulau Mego. Menurut Mardi, adanya anggapan kalau pulau itu merupakan milik Sumbar muncul disebabkan adanya penghuni pulau Mego tersebut yang berasal dari Mentawai. Kepemilikan Pulau Mego juga sudah ditetapkan oleh Keputusan Kementerian Dalam Negeri.

Sebelum Komisi I DPRD Sumbar bergerak terlalu jauh menelusuri dan memperjuangkan kepemilikan Pulau Mego, sebaiknya dicari dulu data-data awal dan dipelajari. Jangan terlalu buru-buru bikin panitia khusus (pansus) atau melakukan kunjungan kerja (kunker) ke mana-mana untuk mengumpulkan informasi status Pulau Mego. Sejauh ini belum ada data dan bukti administrasi kependudukan dan kewilayahan yang menyatakan Pulau Mego masuk dalam wilayah Provinsi Sumbar. Pasalnya, kunker dan pansus tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Banyak hal-hal penting lain yang perlu diurus dan dituntaskan oleh DPRD Sumbar, ketimbang tiba-tiba menerawang kepemilikan Pulau Mego.

Baca Juga : Innalillahi, Pemilik Radwah Hartini Chairuddin Meninggal Dunia

Dihimpun dari berbagai sumber, Pulau Mego terletak di 148 Km ke arah barat Kota Bengkulu. Pulau Mego mengalami perubahan setelah terjadi gempa bumi dengan 8,5 SR pada Rabu, 12 September 2007 pukul 18.10.26 WIB dengan Episentrum berada di kedalaman 43 Km. Karena aktivitas ini mengakibatkan meluasnya daratan Pulau Mego. Yang sebelumnya seluas 293,36 Ha menjadi 607.23 Ha, atau mengalami perluasan 200,6  persen. Artinya mengalami perluasan menjadi 2 kali lipat dari luas daratan sebelumnya.

Pulau dengan panjang keliling 10,86 Km ini sangat kaya dengan sumberdaya laut. Tak heran nelayan dari Sikakap, Pagai Utara, Nias menjadikan pulau ini sebagai lokasi primadona untuk mencari ikan dan dijadikan pula tempat persinggahan. Selain itu, walaupun tak berpe­nghuni namun sesekali datang pula penduduk musiman dari Pulau Pagai untuk memanen buah kelapa. **

Baca Juga : Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kembali Penggabungan Kemendikbud dan Ristek

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]