Impor Cabai dan Bawang, Petani Menangis


Kamis, 04 Juni 2015 - 20:50:50 WIB
Impor Cabai dan Bawang, Petani Menangis

Rencana pemerintah mengimpor cabai dan bawang merah disesalkan petani cabai dan bawang di Sumbar. Pardi (47), petani cabai di Nagari Selayo Tanang Bukit Sileh  Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok menyebutkan, rencana pemerintah mengimpor cabai dan bawang jelas sebagai kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil khususnya para petani cabai dan bawang.

Baca Juga : Akal-akalan Pemudik Kelabui Petugas Penyekatan Larangan Mudik

Menurutnya, rencana impor cabai dan bawang merah oleh pemerintah di tengah kondisi tingginya biaya pertanian seperti pupuk, racun, obat-obatan tanaman serta banyaknya hama, sangat merugikan petani. Jika harga cabai dan bawang merah berada di bawah Rp15.000 per kg, maka petani akan rugi besar. Biaya produksi jauh berada di atas hasil penjualan barang yang diproduksi /hasil pertanian yang dimaksud.

Senada dengan itu, Osfriadi (38) seorang petani cabai di Nagari Cupak, Kabupaten  Solok menyebutkan kebijakan yang diambil pemerintahan Jokowi untuk mendorong swasembada pangan dan pertanian dipandang hanya sebatas omong kosong. Karena dengan melakukan impor cabai, jelas akan merugikan petani kecil di daerah dan tidak sejalan dengan program swasembada pangan.

Baca Juga : Puluhan WN China Masuk Indonesia, Publik: Warga Sendiri Dilarang Mudik!

Keberatan dan penyesalan petani atas rencana pemerintah mengimpor cabai merah dan bawang merah tentu bisa dipahami. Karena yang paling terkena imbas oleh kabijakan pemerintah itu adalah para petani. Di satu sisi mereka telah mengeluarkan biaya produksi pertanian dalam jumlah banyak (ukuran petani), dan mereka berharap ketika harga dua komoditi tersebut sedikit naik, petani dapat menutupi modal yang telah mereka keluarkan dan juga sedikit keuntungan . Semestinya yang dilakukan pemerintah adalah menekan harga pupuk, racun, obat-obatan dan cara jitu melawan berbagai hama.

Dikutip dari Elshinta.com, Sekjen Asosiasi Bawang Merah Indonesia Ikhwan Arif menyebut para petani bawang kecewa dengan masuknya bawang merah ilegal. Karena hal tersebut membuat para petani terpukul dikarenakan dari segi harga, harga bawang impor ilegal tersebut lebih murah. Petani tentu juga makin terpukul, karena pada akhirnya pemerintah membuka kran impor bagi dua komiditi, cabai merah dan bawang merah.

Baca Juga : Fraksi PKS DPR RI: Setop Eksperimen Kelembagaan Ristek

Berikutnya, bagaimana tanggapan publik atas rencana impor cabai dan bawang. Simak rangkuman redaksi Eveline sebagai berikut. Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter selama periode 25 Mei – 1 Juni 2015. Di mana terdapat total 18.312 tweet membicarakan tentang rencana impor cabai dan bawang oleh pemerintah jelang bulan puasa. Pembicaraan tentang impor cabai mendapat porsi sebanyak 1.418 tweet.

Sementara, pembicaraan tentang impor bawang mendapat sorotan utama netizen lewat 11.084 tweet. Mayoritas netizen menyatakan tidak setuju dengan rencana impor ini. Apalagi dengan melihat pengawasan yang kurang dari pemerintah sehingga bawang merah ilegal sudah mulai membanjiri pasar-pasar induk ibukota. Sebanyak 3.528 tweet menyebut bahwa impor bawang dan cabai akan menyengsarakan petani karena mereka akan kehilangan kesempatan untuk menikmati hasil jerih payahnya. Netizen juga menyatakan alih-alih mengimpor, harusnya pemerintah menguatkan pemberdayaan pertanian nasional, khususnya cabai dan bawang.

Baca Juga : Segera Daftar, Kompetisi Inovasi PLN Berhadiah Satu Miliar Ditutup 24 Mei

Sedangkan pernyataan Menteri Perdagangan bahwa bawang yang masuk Indonesia sebelum keran impor dibuka secara resmi oleh pemerintah adalah barang ilegal mendapat tanggapan sebanyak 3.177 tweet. Netizen menyebut pernyataan ini tak berarti jika tidak ada tindakan serius untuk mencegahnya. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]