Petani Sesalkan Impor Bawang Merah dan Cabai


Kamis, 04 Juni 2015 - 20:58:41 WIB
Petani Sesalkan Impor Bawang Merah dan Cabai

Hanya saja, Mudrika tak menutup kran untuk impor dua komoditas tersebut, jika terjadi gejolak sewaktu-wak­tu, mengingat kondisi pasar selama Ramadan tidak bisa dipastikan berjalan sesuai langkah yang telah disusun.

Baca Juga : Dinkes Kota Padang Sediakan Tempat Isolasi Guna Antisipasi Lonjakan Kasus Pasca Lebaran

Dari kalangan petani, sikap pemerintah yang akan membuka kran impor untuk bawang merah dan cabai justru melahirkan kekecawaan. Petani di Limapuluh Kota contohnya. Mereka merasa pemerintah tak menghargai beban produksi un­tuk menghasilkan bawang dan cabai. Mereka merasa sudah cukup  terbebani dengan besar­nya modal. Kini dengan adanya impor bawang, dipastikan, ba­wang dan cabe mereka bakal dihargai lebih murah lagi.

Petani bawang merah di Lo­ban, Wed (33) menjelaskan, harga bawang merah yang dihasil­kan­nya, hanya dibeli pedagang pe­ngum­pul Rp18 ribu tiap kilo­gram. Padaha, beberapa waktu lalu, harganya bisa mencapai Rp38 ribu/kg.

Baca Juga : Padang Aktifkan Kembali Kampung Nelayan untuk Tempat Karantina Covid-19

“Dengan adanya rencana impor bawang oleh pe­merintah, dipastikan, harga ba­wang akan semakin anjlok. Belum lagi kebu­tuhan petani aka se­makin tinggi. Selain biaya masuk sekolah, juga memasuki bulan Ramadan yang dipastikan biaya rumah tangga akan naik.

Apalah jadinya, kalau me­mang benar pemerintah meng­impor bawang,” katanya.

Pedagang bawang merah di Pasar Ibuah, Payakumbuh, Rah­mad (24), menyebutkan harga bawang selalu berfluktuasi. Di level tertinggi, harga bawang merah pernah menyentuh Rp 50.000/kg. Sedangkan di level terendah harga bawang merah justru hanya Rp 15.000-18.000/kg.

Petani di Alahan Panjang, Kabupaten Solok kini juga tengah dihadapkan pada anjloknya harga bawang merah di sentra produksi kini anjlok lagi. Jika sebelumnya harga perkilogram bawang barang kualitas super berada di kisaran Rp20 ribu, kini harganya justru terjerembab di pusaran Rp16 ribu. Petani setempat, Mustafa kepada Haluan saat berada di lokasi tanaman bawang Bancah Panjang Tj.Balik Kec.Lembah Gumanti Kab.Solok berharap melalui instansi terkait agar pemerintah dapat memper­hati­kan kondisi petani yang sejak lama mengalami pasang surut.

Seorang petani cabe di Nagari Selayo Tanang Bukit Sileh  Kec. Lembang Jaya Kabupaten Solok, Pardi (47) menyebutkan, rencana pemerintah ini jelas tidak berpi­hak kepada rakyat kecil khusus­nya para petani.Menurutnya, saat segala kebutuhan pertanian m­a­hal, kebijakan impor bawang merah dan cabai yang katanya untuk menstabilkan harga oleh justru akan merugikan peta­ni.  Ia menegaskan, kalau harga cabe murah dan berada di bawah angka Rp15.000 perkilo akan membuat petani merugi, menyu­sul tingginya harga produksi.

Bahkan, seorang petani cabai di Nagari Cupak, Asfiadi (38) menilai rencana pemerintah Jo­kowi mendorong swasembada pangan dan pertanian dipandang hanya sebatas omong kosong. “Harusnya pemerintah berfikir bagaimana hasil pertanian petani bisa meningkat, contohnya de­ngan memperbanyak program pemberdayaan dan pembinaan agar mutu dan hasil pertanian bisa lebih baik.

Kalau impor, yang akan diuntungkan adalah petani di luar negeri, belum lagi ada mafia yang akan bermain dida­lamnya, “ tukas Osfriadi.(h/mg-isr/nus/nto/ndi)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]