Coreldraw


Jumat, 05 Juni 2015 - 15:59:15 WIB
Coreldraw

“Di sanakah putraku tinggal?” tanya Imar pada Aqil sembari menengadah pada foto yang sudah kurang lebih dua tahun lamanya tak kunjung tiba di kubangan, kampung halaman.

Baca Juga : Hamil 5 Minggu, Dokter Sebut Ada Keanehan di Janin Aurel Hermansyah

“Agaknya iya Mak, persis alamat di kertas ini,” ujar Aqil sambil membantu pe­rempuan tua membawakan beras yang beratnya dua kilo. Angin berembus pelan mengiringi dua insan yang berwajah kampungan, tidak seperti Hadi yang sebentar lagi akan bertemu dengan mereka, ia sudah merasa seperti orang kota tulen.

Perempuan tua itu ber­nama Marlina. Imar atau Lina adalah sapaan akrab untuknya, ia lebih senang dipanggil Imar. Anak, cucu, dan warga di kampung pun lebih sering memanggil Imar, hanya seorang saja memanggil namanya Lina, yakni Mak Kulam, tetangga di sawah yang sangat baik lakunya. Sehari-hari Imar menjadi operator di sawah warisan mertuanya. Lima­puluh satu tahun lamanya ia telah mengenyam hidup. Baru kali ke dua pula ia mendapat rezeki berangkat ke kota Padang, dulu sekitar tahun 2008 ia pergi me­ngan­tarkan Nenek Rolisna pergi berangkat haji, gratis. Un­tuk kali ini, ia dibiayai oleh adiknya, Hamidah.

Baca Juga : Berawal dari Media Sosial, Girlband Baru Ini Siap Guncang Indonesia

Lambaian tangan per­kasa suami dan dua orang anaknya di kampung hala­man masih loyal di inga­tannya, Imar hengkang dari kampung jam 9.00 WIB pagi. Mobil Putri Tunggal sebagai bendi menuju peran­tauan putra kebanggaannya, sekali-kali batuk mobil tua mengepulkan asap dan me­nyebar sampai ke sawang desa yang dihuni oleh pe­tani, umumnya.

Putra tunggal buah ka­win­nya dengan Amri yak­ni Hadi Pratama, sudah kurang lebih dua tahun lebih tidak pu­lang ke kampung. Ber­bagai alasan yang dila­yang­kan, atas nama orangtua, Imar dan suaminya mere­lakan anaknya tak ber­pu­langan sama sekali. Tak ayal jika saat ini men­jelang Ra­madan yang keempat, 1436H, Imar pergi ke kota tempat anaknya menimba ilmu. Ia bawakan sambal kentang dan teri kesukaan putranya, ikan yang di­pang­gang hasil pancing suaminya pun turut dibawanya. Yang ada di pikirannya nanti, ia akan bertemu putra ke­banggaannya semasa SMA yang sangat baik lakunya. Patuh dan rajin mengaji.

***

Imar baru saja me­ngin­jakkan kakinya di atas langit kota Padang, tempat rumah gadang didewasakan, tum­puan ranah pendidikan yang berlandaskan Alam Ta­kam­bang Jadi Guru men­cetak generasi bangsa.  Baju dan jilbab lusuh yang ia kenakan masih kental de­ngan aroma bacin mobil, wajahnya meng­kilap dan berdebu. Ia merasakan sapa manja dari tiap debu yang lekat di wajah tuanya.

Dalam perjalanan, se­sekali ia bercerita dengan seorang pemuda  sebaya anaknya, pemuda yang tam­pan parasnya bernama Aqil berniat ke kota Padang untuk memenuhi panggilan kerja sebagai karyawan di toko beras. Katanya di daerah Air Tawar Barat. Pemuda itu duduk di sebelah Imar. Pe­nampilan apa adanya, raut wajah penyayang layak pu­tranya, menggelitik hati Imar untuk segera bertemu de­ngan Hadi.

“Oh, Mak juga di Air Tawar, tetapi Mak lupa ala­mat pasti anak Mak itu,” ujar  Imar bahagia.

“Kita bisa bersama nanti, Mak,” jawab Aqil. Setelah lama berbincang, Aqil me­ngenal anak Imar rupanya. Satu sekolah dan satu ang­katan pula.

Perlahan, matanya pun kian redup memecah binar mata tuanya, ia sandarkan punggungnya yang terka­dang ketika digerakkan se­rasa seperti botol Aqua plas­tik yang diinjak oleh anak-anak. Sudah tua dan penat bekerja dari gadisnya dulu. Namun semangat untuk ber­temu putranya tetap cerah, merah berdarah dari ka­l­bunya. Begitulah cinta se­orang Ibu yang akan kita temui surga di kakinya. Ya­kinlah. Betapa bahagia Hadi memiliki ibu seperti Imar.

***

Angin bertiup pelan, de­daunan merunduk dan se­bagian meranggas pula. Matahari kian condong ke Arah Barat. Imar dan pe­numpang lainnya ber­de­sa­kan secara bersamaan untuk pertama turun dari mobil seukuran Lubuk Ba­sung Express. Beras dan tas berisi sandang pangan untuk be­kalnya selama lima hari di Padang ia angkut sendiri. Dalam waktu yang singkat, pemuda yang berada di sam­ping Imar terbangun dari lelapnya

“Mak, kita ke tempat temanku saja dulu ya,” tawar Aqil pada Imar.

“Ya nak,” Imar ikut saja dengan Aqil.

***

Hari kedua Imar berada di Padang, ia tak sabar lagi untuk segera dibawa ke ru­mah kos putranya. Aqil me­ngingat lamat-lamat di mana lokasi rumah kos Hadi. Aqil sudah hampir ingat, tapi masih saja samar.

“Ini Nak, Mak lupa kalau alamat Hadi ada dalam tas ini,” Imar mengingat ke­mbali kertas itu. Mereka pun pergi menyusuri gedung-gedung pencakar langit. Da­lam benak Aqil, panorama Universitas Negeri itu seper­ti lautan manusia, ikan yang beragam dan gedung yang berwarna-warni. Aqil de­ngan imajinasinya me­mer­hatikan suasana situs ba­ngunan di kitaran jalan yang mereka tempuh. Im­piannya untuk kuliah tak lagi segeliat dulu, kini ia mantapkan tekad untuk bekerja. Te­rakhir Hadi menceritakan pada Imar bahwa di Padang adalah tempat Hadi me­mantapkan dirinya menjadi seorang yang terkenal. Sa­mar-samar.

***

“Sudah gondrong saja kulihat anak itu mak,” ujar Aqil sambil meletakkan sebentar karung beras yang dibawanya. Terakhir Aqil mendapat cerita bahwasanya Hadi tergabung di Unit Kegiatan Musik di kam­pusnya. Ia sering tampil dengan teman-temannya dengan kebolehan mereka di  bidang musik. Tak ayal, pe­musik di negeri pun pe­nam­pilannya keren semua, itu berhasil mewarnai se­orang Hadi, putra harapan Ibu dan keluarganya.

Teman-teman kos Hadi satu per satu masuk ke dalam rumah yang romannya bagai tak berpenghuni, rumput dibiarkan tinggi menghijau, kaca-kaca berdebu, rumah tak bertirai. Memelas.

Ketika putranya beru­saha mengilak sedemikian rupa bertemu Ibunya, malah Imar mencoba mendekati anaknya. Tingkah Hadi aneh. Tampangnya bre­wo­kan. Apakah ini yang di­namakan putra kampung halaman yang dulunya ga­gah, bersih. Imar gontai.

Sangat keterlaluan me­mang. Imar hampir saja menyerah pada takdir, saat pikiran terkulai, kaki gontai hendak menjejak nganga jurang, cerita pemuda itulah yang memerciki gersangnya taman hati Imar. Imar pun terlelap dalam bahagia yang mungkin hanya sejenak, satu jam perjalanan dengan p­e­sawat, kemudian diombang-ambingkan lagi oleh jalanan berbatu menuju sawahnya di kampung halaman sekaligus menuju jembatan curam menuju rimba tempat ia membesarkan anak-anak kecintaannya. Masam, rim­bunnya rimba telah habis dibakar sendu tatap mata putranya.

Ah, kini dalam kantong lusuhnya, hanya kado be­risikan secuil maklumat bahwa ketidakberhasilan putranya kontes ke luar ne­geri satu tahun silam, me­nuntun Hadi terkubur ke jurang sesal pada semua orang selain gadis bernama Dela. Dilihatnya Hadi pergi dengan gadis yang berlipstik pink muda, kostum dara itu menawan silau dipandang mata tua Imar dan Aqil, tapi tidak di mata Hadi, itulah surga yang ia peroleh dari kecintaannya pada seorang gadis di perantauan.

Imar nanar. Aqil hanya diam dan berpikir keras, siapa lagi selanjutnya? Da­lam komputer kehidupan, tepat di aplikasi Coreldraw, di sana tergambar Imar, Aqil, dan Hadi tersandung batu.  Aduh.*

 

Cerpen: FITRI WIJAYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]