Minuman Tradisional yang Masih Bertahan


Jumat, 05 Juni 2015 - 16:01:16 WIB
Minuman Tradisional yang Masih Bertahan

Pertengahan 1990-an, minuman bersoda produk pabrik dan minuman kaleng yang juga beraneka warna dan rasa, mulai membanjiri kedai. Kehadiran minuman pabrik ini ternyata lebih menarik minat masyarakat. Limun jadi terpinggirkan.

Baca Juga : Selama Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah, Trafik Layanan Data Telkomsel Naik Hingga 49%

Meski demikian, sejum­lah pengusaha limun di Pa­dang Pariaman tak patah semangat. Mereka mencoba tetap bertahan dengan kon­sumen tradisional yang me­re­ka yakini masih menjadi penikmat setia limun. Di sejumlah kedai, minuman botol ini masih ditemukan.

Tetapi jangan heran, ka­re­na botol yang digunakan adalah botol minuman pro­duk pabrikan mereka terke­nal. Namun bila perhatikan secara seksama, botol itu telah ditempeli dengan me­rek serta logo produk limun dengan kertas seukuran 5x­10 cm.

Baca Juga : Wajib Tahu, Saat Ekor Kucing Mendadak Mengembang Artinya Begini

Mempertahankan Nilai Sejarah

Limun adalah industri rumahan yang dibuat meng­gunakan alat-alat sederhana. Salah satu pengusaha limun di Padang Pariaman adalah Rina Novita. Bersama sang suami, Rina mengelola usa­ha limun dibawah bendera ‘Limun SBR’ di Korong Jiraik, Nagari Padang Bin­tungan, Kecamatan Nan Sabaris.

“Ilmu cara membuat limun ini didapatkan oleh suami saya ketika ia jadi anak buah salah seorang saudagar limun di Pauh Kambar. Kami sudah 4 tahun mene­kuni usaha ini dengan mema­kai merek dan resep dari bos yang lama,” kata Rina No­vita mengawali perbin­ca­ngan.

Menurut Rina, dia dan suami mempertahankan usa­­ha limun ini dikarenakan nilai sejarah yang terkan­dung didalamnya. Selama lebih kurang 20 tahun, sang suami menjadi orang keper­cayaan dari bos lamanya, sehingga ia dan suami sulit untuk beralih ke usaha lain. Apalagi, katanya, saudagar limun tersebut sudah lanjut usia dan keturunannya pun tidak ada yang mau melan­jutkan usaha membuat li­mun ini.

Namun Rina menyadari jika keuntungan yang diper­oleh dari usaha dagang li­mun itu tak banyak. Apalagi minuman modern terus me­rangsek masuk hingga ke kampung-kampung yang biasanya menjadi pe­ma­saran limun. Meski demi­kian, Rina dan suami berpikir bila diharuskan membuka usaha baru yang butuh modal besar, maka industri limun diyakini masih cukup bagus untuk ditekuni saat sekarang.

Rina melanjutkan, se­masa suaminya masih beker­ja dengan bos yang lama, hanya ada dua rasa dan warna limun, yaitu warna orange atau rasa jeruk dan frambozen berwarna merah dan soda water. Namun untuk menyaingi produk modern, mereka menambah satu produk lagi dengan rasa mocca/kopi serta soda super yang kemasannya bersegel dengan komposisi utama minuman ini dibeli ke Pad­ang.

Harga Limun Terjangkau

Komposisi utama pem­buatan limun sangat seder­ha­na, hanya menggunakan air putih, pewarna makanan, pemanis buatan, Co2 dan sodium serta benzoat. Se­mua bahan baku itu bisa didapatkan di toko kue dengan mudah. Namun cara meracik dan mengolahnya hingga menjadi minuman berkarbonasi, hanya pemi­lik­nya saja yang mengetahui.

“Limun yang diproduksi umumnya kami pasarkan di seluruh pelosok Padang Pa­riaman hingga ke batas Kota Padang. Limun juga dipa­sarkan di Dharmasraya kare­na cukup banyak peminat­nya,” katanya.

Dalam melakukan penge­masan dan pemasaran, Rina dibantu oleh lima orang karyawan. Satu karya­wan khusus untuk bagian pembersihan atau mencuci botol, satu orang kebagian tugas mengisi limun ke bo­tol, satu orang melakukan pengemasan atau penyegelan dan dua orang untuk pendis­tribusi atau pemasaran dan di bantu oleh 2 unit armada.

“Kami mulai berakti­vitas sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Lokasi usaha adalah memanfaatkan dapur rumah miliknya yang berukuran 10x4 m. Selama waktu itu, kita mampu menyelesaikan sekitar 25 krat limun atau sekitar 50 lusin dan dibutuhkan sekitar 10 ribu buah,” katanya.

Rina menjual limunnya ke pasaran atau warung berkisar Rp18.000/lusin hingga -Rp24.000/lusin. Dalam sepekan, dia mampu memasarkan 150 krat limun atau setara dengan hasil bersih yang diperolehnya sekitar Rp500.000/minggu.

“Dari usaha limun ini lah kami sekeluarga saya dan suami menyekolahkan 4 orang anak. Alhamdulillah, usaha berjalan lancar,” katanya.

Disaat Haluan singgah ke salah satu warung di Nagari Tanjung Medan, Kecamatan Nan Sabaris, ternyata di kampung ini masih banyak ditemukan warung-warung yang men­jual minuman klasik ini. Sejum­lah pengunjung wa­rung terlihat tengah menua­ngkan limunnya ke gelas.

Buyung, salah seorang penikmat limun menga­takan, ia masih menyukai minuman racikan manual ini karena serasi dengan lidahnya dan harganya ter­jangkau.

“Harga hanya Rp2.000/botol, bebas pengawet. Rasa dan warnanya pun menggu­nakan bahan makanan yang layak konsumsi. Sedangkan minuman modern meski lebih menarik tetapi harga­nya mahal dan tidak terjang­kau pembeli di kam­pung,” sahut nya. (**)

 

Laporan:
WARMAN

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]