Memindai Ramadan


Senin, 08 Juni 2015 - 19:15:59 WIB
Memindai Ramadan

Sebagimana dari segi etimologi puasa itu sendiri, dalam Bahasa Arab disebut shamawa yang bermakna: menahan, berhenti atau tidak bergerak, secara hakiki me­ngan­dung arti: menahan dan mengendalikan diri.

Baca Juga : Disebut Bak Musa Datangi Firaun, Amien Rais Ungkit Hukum Neraka ke Jokowi

Puasa bertujuan untuk mengatasi kelemahan yang paling mendasar dari ma­nusia, yakni-nya kecen­de­rungan untuk bertindak ber­dasar dorongan nafsu se­mata. Kemampuan sese­orang untuk persisten me­na­han diri dari hawa nafsunya menunjukan bahwa ia telah dapat menyeduh titah akhla­kul karimah.

Emha Ainun Najib mem­bahasakannya sebagai ‘pu­asa, menuju makan yang sejati’. Konsep ini mene­ladani ilmunya Rasulullah SAW, yang ‘hanya makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang’. Inilah formula dasar tentang ‘kesehatan hidup’.

Baca Juga : Catat! Pelanggar Larangan Mudik Bakal Diminta Putar Balik atau Ditilang

Selama ini mungkin ter­lanjur, pemahaman-pe­ma­haman nilai budaya kita cenderung mentabukan pe­rut. Orang yang hidupnya ter­lalu profesional dan hanya mencari uang, kita sebut “diperbudak oleh perut”. Para koruptor kita gelari “hamba perut” yang mengor­bankan kepentingan negara dan rakyat demi perutnya sendiri. Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, ke­butuhan perut amat se­der­hana dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang diperlukan untuk memelihara ke­se­hatan tubuh.

Perut tak pernah mem­persoalkan, apakah kita me­milih ubi abuih atau pizza, maco sapek atau masakan Japang. Yang menuntut ber­lebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga se­ribu rupiah. Tetapi, lidah mendorong kita harus me­nge­luarkan sepuluh ribu, seratus ribu, atau terkadang sejuta rupiah.

Baca Juga : JK-Surya Paloh Bisa Berkolaborasi untuk Anies Baswedan di Pilpres 2024

Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan rohani. Satu kaki lidah berpijak di kos­mos jasmani, kaki lainnya berpijak di semesta rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul kompleks tentang rasa dan selera; tak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia mem­butuhkan variasi dan keme­wahan. Semestinya cukup di warung pojok pasar, tapi bagian lidah yang ini mem­perkuda manusia untuk men­cari berbagai jenis ma­kanan, inovasi dan para­digma teknologi makanan, yang dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat. Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia misterius, yang bernama mentalitas, nafsu, serta kecenderungan-ke­cenderungan aneh yang men­­sifati budaya manusia.

Makan, yang dalam kon­teks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki lidah itu diperluas menjadi bagian dari kompleks kultur, status sosial, gengsi, feo­dalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan komunitas manusia lainnya. Kecenderungan ini mem­buat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir atau diartifisialkan menjadi uru­san-urusan kultur dan peradaban, yang biayanya menjadi amat, sangat mahal.

Baca Juga : Reshuffle Kabinet Jokowi, Nadiem Makarim Layak Diganti?

Budaya artifisialisasi makan ini dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkan oleh kepercayaan budaya, bahwa harus senantiasa ada proses kreatif: orang menye­lenggarakan modifikasi bu­daya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tem­pat makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pe­war­naan meja kursi din­dingnya hingga karaokenya.

Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya juga menciptakan berbagai keter­gantunan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran keter­gan­tu­ngan itu, manusia ber­nego­siasi di bursa efek, menyunat uang proyek, memborong gunung-gunung dan hutan-hutan, bahkan berperang dan membunuh satu sama lain. Padahal perut hanya membutuhkan “makan keti­ka lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”.

Maka yang bernama ‘ma­kan sejati’ ialah makan yang sungguh-sungguh untuk pe­rut. Adapun yang pada umum­­­nya kita lakukan se­la­ma ini adalah “memberi makan kepada nafsu”. Perut amat sangat terbatas dan Allah SWT mengajarinya untuk tahu membatasi diri.

Sementara nafsu adalah api yang tak terhingga skala perbesaran atau pemuai­annya. Jika filosofi makan diro­bek dan dibocorkan me­nuju banjir bandang nafsu tak terbatas, jika ia diarti­fisialkan dan dipalsukan dan tam­paknya itulah salah satu saham utama beribu konflik dan ketidakadilan dalam sejarah umat manusia maka sesungguhnya itulah contoh paling konkret dari ter­bu­nuhnya efisiensi dan ke­efek­tifan oleh hedonisme atau kesenangan hidup du­nia.

Memang sulit bakal me­nahan diri dari nafsu hedo­nisme dan hidup sederhana di era postmodern sekarang ini, sebagaimana yang per­nah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW: “Akan datang suatu zaman yang dihadapi oleh manusia, di­mana perhatian mereka ada­lah perut-perut mereka; uku­ran kemuliaan mereka adalah harta-harta atau me­teri; kiblat mereka adalah seks, dan agama mereka (yang disanjung-sanjung dan diutamakan mereka) adalah kekayaan harta, emas, dan perak. Mereka itu adalah sejelek-jelek  makhluk dan mereka tidak akan mem­peroleh keuntungan dan kebahagiaan di sisi Allah SWT.”

Namun jika kita per­sisten, proses pengen­dalian diri sebagai inti dari Puasa Ramadhan akan menem­patkan kita kembali pada posisi fitrah manusia. Mele­paskan semua belenggu-belenggu fisik, emosi, dan pikiran yang kerap mengon­taminasi spiritualitas kita selama ini. Karena, sesung­guhnya saat manusia mampu melepaskan diri dari keter­pasungan fisik, emosi, dan pikir, maka ia seolah terlahir kembali dalam rahim ibu­nya. Bersih tanpa noda sedi­kit­pun, dalam sebuah hadist riwayat Bukhari dan Mus­lim: “Barang siapa yang melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan penuh harap kepada Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu.”

Memindai Ramadhan dapatlah kita angsur-angsur di Bulan Sya’ban ini. Dalam bulan ini, Rasulullah SAW memperbanyak puasa su­nah. Bahkan beliau hampir ber­puasa satu bulan penuh, kecuali satu atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan de­ngan satu atau dua hari puasa sunah. Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa Bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa su­nah me­lebihi (puasa sunah) di Bu­lan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1969 dan Mus­lim No. 1156). ***

 

ALEK KARCI KURNIAWAN
(Pengurus International Law Students Association (ILSA)–FH Unand)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]