Kebudayaan dan Arus Marjinalisasi


Jumat, 12 Juni 2015 - 16:44:16 WIB
Kebudayaan dan Arus Marjinalisasi

 

Sejauh itu masih ada yang perlu di pertanyakan ter­hadap kesadaran akan wa­wasan Nusantara yang ka­dang masih diselimuti oleh chauvinis kedaerahan dan kebudayaan yang pada akhir-akhir ini akan kembali be­rona sejarah seperti ketika berkecamuknya masa renai­sance dan aufklarung di benua barat tiga abad yang lalu. Apabila dengan kian terasanya arus globalisasi peradaban masyarakat in­dus­tri maju, yang me­ngan­dalkan materialisme dan membawa wabah konsu­merisme, pengusuran mau tak mau pasti terjadi. Banyak sendi budaya yang diting­galkan.

Impor, Asing dan Modern

Baca Juga : Akhirnya Larissa Chou dan Alvin Faiz Resmi Cerai

Diantara masalah itu, antara lain mengenai pema­haman kita tentang kebu­dayaan secara umum, khu­susnya kebudayaan Indo­nesia atau Nasional, kebu­dayaan -kebudayaan daerah dan asing peranan agama, ilmu pengetahuan budaya, bahkan, sampai pada masa­lah yang lebih kecil seperti, masalah minat baca dan sebagainya. Drs HM. Idham Samawi mengatakan, bahwa apa yang kita rasakan saat ini adalah sebuah kondisi di mana bangsa dan negara saat ini berada dalam suatu arus yang sangat besar yang mem­batasi (marjinalisasi).

Kita dapat melihat secara langsung bagaimana petani terpuruk, buah lokal digusur oleh buah impor, kebu­daya­an kita tersingkir oleh kebudayaan asing, dalam kasus kebudayaan, kita me­lihat dengan jelas bagai­mana anak-anak disihir oleh film-film asing ditengah keti­dakmampuan kita melihat film bagi anak-anak kita. Dalam peta kehidupan ma­syarakat modern yang men­junjung tinggi budaya prag­matis, nilai- nilai kebu­dayaan yang menjunjung tinggi ke­sela­rasan (har­mo­ni), cenderung tersingkir. Sebab, nilai- nilai kebu­dayaan itu di pandang kurang relevan dengan kehi­dupan ma­sya­rakat modern.

Masalah merampingnya kebudayaan Indonesia akhir-akhir ini menjadi per­bin­cangan di kalangan seniman dan budayawan. Hal itu berarti bahwa sebe­narnya kalangan seniman dan bu­dayawan bukan be­rea­ksi menghadapi realitas dan masalah yang timbul, me­lainkan mereka sekedar bereaksi me­nang­gapi ma­salah dan realitas itu.

Pejabat pemerintah yang punya kompetisi dengan kesenian tradisional supaya citra negara terangkat dim­ata dunia dan pencaturan International, masih berdiri dengan perjanjian (konvensi) lama, negara dan pejabat negera hanya memfungsikan kesenian Indonesia untuk kepentingan praktis, karena titik tolak pandangan dan sikapnya masih pada batas bahwa kesenian tradisional dan modern adalah ins­tru­men kegiatan ritual. Hal itu tidak membutuhkan per­hatian dalam porsi yang besar, yang sama dengan sektor-sektor kehidupan lain tidakkah jatah untuk kebudayaan hanya 2,7 per­sen dari ranangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) pada berita terakhir.

Kebudayaan masih dianggap instrumen yang berfungsi praktis, umpa­manya untuk tujuan pelan­congan (turisme) bagi pe­ningkatan sumber devisa negara, para seniman yang mengembangkan etos kebu­dayaan masih bergulat de­ngan banyak pihak kearah perbaikan kesenian Indo­nesia di masa depan. Raudal Tanjung Banua mengatakan, bahwa tataran kebudayaan dengan kemungkinan nasio­nalisme kebudayaan tidak terlalu digali, bahkan cen­drung dinibsikan.

Akan tetapi dari proyek nasionalisme yang me­ngo­tamakan arus negara itu, bangsa-bangsa diringkus menjadi sekedar suku bang­sa. Disusun sebuah ruang kebudayaan yang lebih la­pang telah dihilangkan, demi kemauan politis. Perlu di pahami kita mem­perbin­cangkan tergusurnya kedu­dukan kebudayaan sebagai suatu pranata sosial itu tidak membicarakan budaya se­cara detail, bukan juga nilai budaya masyarakat.

Ini perlu ditekankan ka­re­na perbincangan tentang tergusurnya peran sosial budaya sering di pahami secara keliru sebagai kritik atau tuduhan terhadap sosial budaya. Seakan- akan gejala ini saya kira merupakan kesalahan pihak budayawan.

Kesalahpahaman seperti itu, merupakan akibat domi­nasi tradisi romantisme yang terlalu menekankan aspek individual budayawan dan nilainya. Mengabaikan ke­bu­­dayaan sebagai pranata sosial. menyebut nasib pra­nata kebudayaan dianggap sebagai serangan pribadi terhadap para budayawan. Akibatnya, budayawan yang berwawasan sempit me­nyangkal terjadinya gejala pengerdilan dan peng­gusu­ran kebudayaan dalam pem­bangunan.

Karena merasa di se­rang, mereka membela diri dan membela status quo dengan mengatakan kebu­dayaan sekarang baik- baik saja, kalau ada penilaian yang negatif atas per­kem­bangan budaya, maka itu di anggap sebagai kegagalan atau keto­lolan para kritikus budaya yang kurang paham kepada kebudayaan.

Model hubungan inilah, kita menampilkan cara-cara pemahaman yang baru seba­gai paradigama postru­ktura­lisme, dengan melibatkan sebagai disiplin yang lain, yang kemudian melahirkan pemahaman kebudayaan-kebudayaan yang bernuansa Islami dan berpegang teguh pada agama itu sendiri.

Kondisi masyarakat In­do­nesia yang dinamis se­bagai akibat hubungan an­tara agama dan kebu­dayaan. Penelitian dan studi kultural perlu dite­kankan untuk da­pat mem­berikan sum­bangan yang positif dalam rangka me­ngungkapkan latar bela­kang sosial khususnya yang ada di Indonesia, sehingga agama dan kebudayaan be­nar-be­nar memiliki arti bagi ma­syarakat luas. (**)

 

Oleh: THERESA FEBRYSTA FUAD, M.SN

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]