Bisnis Kreatif Minim Kompetitor


Jumat, 12 Juni 2015 - 16:45:13 WIB
Bisnis Kreatif Minim Kompetitor

Kalau mengedepankan untung dan laba usaha, menurut pria yang sempat berkuliah di Universitas Al Azhar Mesir tersebut, jauh lebih menguntungkan ber­investasi di tanah Jawa.

Baca Juga : Jakarta Masuk dalam Daftar Kota Termahal Dunia, Ini Penyebabnya

Sebab, usaha di tanah Jawa dapat didukung upah pekerja yang jauh lebih mu­rah di bandingkan de­ngan upah pekerja di pulau Su­matera. Perban­dinga­nnya pun, bisa hingga empat kali lipat.

Usaha kreatif pengo­lahan bambu ini belum la­ma digelutinya, terhitung sejak Februari 2015 lalu di bawah bendera PT. Bio Nature Internastional. Se­belumnya, perusahaannya itu berkonsentrasi me­ngem­­bangkan obat-obat herbal.

Baca Juga : Kabar Baik! Jaringan di Wilayah Sumatera akan Ditingkatkan Selama Ramadan

“Kalau orientasinya ha­nya untung, jauh lebih baik berinvestasi di tanah Jawa. Selain bahan baku yang melimpah, upah pekerja pun sangat jauh lebih ren­dah dari pada di Sumatera ini,” ungkap Romi Alghifari kepada Haluan.

Produk yang diha­sil­kannya, mulai dari tusuk sate, tusuk gigi, dan lidi sangkar burung diker­jakan­nya pada salah satu bekas workshop milik PT. Bukit Asam – Unit Penambangan Ombilin. Romi menyewa tempat itu sebagai tempat usaha.

Baca Juga : Maksimalkan Pengalaman Aktivitas Digital di Momen Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah

Dengan investasi awal sebesar Rp600 juta dan melibatkan belasan pekerja, kini pabrik pengolahan bam­bu itu mulai meng­hasilkan produk olahannya, dengan bahan baku yang berasal dari seluruh kabu­paten dan kota di Sumatera Barat.

Saat ini, ungkap pria yang akrab disapa Buya itu, perusahaannya masih meng­andalkan satu set mesin pengolah bambu. Meski satu set, pekerja yang dili­batkan sudah terbilang banyak. Setidaknya 22 pe­kerja tetap terserap untuk mengoperasikan satu set mesin tersebut.

Baca Juga : Resep Kolak Pisang Tanpa Santan, Cocok untuk Berbuka Puasa

Seiring dengan men­dapatkan bahan baku ter­baik, Buya mengatakan perusahaannya sedang me­nambah mesin, yang ten­tunya akan menambah jum­lah pekerja.

Ayah Omar Farouq Alghifari itu melihat, sela­ma ini masyarakat masih melihat bambu sebagai gul­ma yang mengganggu dan tidak memiliki nilai ekono­mis sedikit pun. Kalau pun dimanfaatkan, be­lum dilakukan maksimal.

Padahal, lanjutnya, bambu filosifinya tidak ada yang terbuang. Bahkan, akarnya pun bisa diman­faatkan untuk produk kera­ji­nan. Sedangkan serbuk hasil gergajinya dapat di­man­faatkan untuk kompo­sit ataupun briket.

Anggapan bambu seba­gai gulma atau tanaman peng­ganggu itu, dapat dili­hat dari keinginan masyara­kat untuk memberikan bam­bu yang mereka miliki secara cuma-cuma.

Namun, sebagai anak Nagari Kubang Kota Sawahlunto, Buya tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Setiap batang bambu yang akan diolah, musti memiliki nilai rupiah tersendiri.

Secara bertahap, menu­rut Buya pihaknya mencoba memanfaatkan setiap jengkal maupun butir ser­buk yang dihasilkan dari bambu, untuk produk kreatif yang bernilai eko­nomi.

Apalagi bapak satu anak kelahiran 25 Maret 1979 itu melihat, bisnis kreatif olahan bambu, minim kom­petitor. Peluang pasarnya pun sangat besar. Sebab, beragam produk kuliner dan jajanan membutuhkan produk olahan dari bambu tersebut.

Kompetitor yang ada saat ini, lanjutnya, hanyalah produk asal Cina yang tidak alami, sehingga tidak bagus untuk kesehatan. Sedang­kan PT. Bio Nature Interna­tional, menge­depan­kan kea­la­mian.

“Kita tidak mengolah bambu dengan bahan pe­nga­­wet ataupun bahan kimia. Sebab, produk yang kita hasilkan akan bersen­tuhan langsung dengan or­gan tubuh manusia,” terangnya. (h/***)

 

Laporan:
FADILLA JUSMAN

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]