Membangun Agam Mulai dari Nagari


Jumat, 12 Juni 2015 - 16:48:00 WIB
Membangun Agam Mulai dari Nagari

Drs Feri Adrianto di­lahirkan keluarga sederhana di Kaki Gunung Marapi dari pasangan ibu Nazifah dan ayah Mahyulis Rasyid St Ban­daro. Pernikahan de­ngan Istrinya Ir Syamsiah, dika­runia lima orang anak, yaitu Dian Fatriah SSi, Ar­dilla Kemala Dewi S.Farm, Apt, Dina Refanda, Dinda Mu­tiara, Fakhri R Fadhu­lrahman.

Baca Juga : Blunder Jokowi Berulang

Ayahnya seorang petani dan ibunya seorang guru agama dan kakeknya H Nuk­man Dt Nan Sati seorang ulama dan tokoh Muha­ma­diyah Kecamatan Banu­ham­pu Sungai Pua. Feri mengaku mendapat pengalaman dan belajar berorganisasi dari pamannya H Surkati yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Agam selama tiga periode.

Menamatkan sekolah dasar di SD 05 Palembayan pada tahun 1977 dan me­lanjutkan pendidikan di SMP N 2 Palembayan Tahun 1980, kemudian melan­jut­kan ke SMA N 3 Bukittinggi tamat 1983. Selanjutnya  kuliah di Universitas Mu­lawarman Samarinda pada Fakultas Sosial dan Ilmu Politik dengan Jurusan Ilmu Administrasi Negara dan tamat tahun 1987/1988.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

Selama kuliah, ia aktif di berbagai organisasi di senat mahasiswa sebagai Ketua I dam Resimen Mahasiswa sebagai Ketua I dan sebagai tenaga peneliti di Pusat Penelitian Universitas Mu­lawarman. Setamat kuliah bekerja di PT BAP bergerak di bidang Perkebunan Co­klat Padang Tarok Bawan, Ke­ca­matan Palembayan da­ri tahun 1989 sampai dengan 1992 dengan jabatan te­ra­khir se­bagai ma­na­jer. Ke­mudian merantau ke Ja­karta mem­buka usaha kon­veksi secara kecil-kecilan dan terus ber­kem­bang sehingga mem­pu­nyai karyawan 200 orang.

Ketika merantau ia sem­pat diamanahi se­ba­gai Ke­tua RT07/06 Ke­lu­rahan Jo­glo Jakarta Barat. Selama men­jabat jadi Ketua RT disi­nilah awal inisitaif, inovasi dan kepedulian seorang  Feri Adrianto muncul. Segala urusan warga diselesaikan dengan cepat. Apapun ben­tuk urusan tidak dipungut biaya, lingkungan RT tertata dengan rapi dan bersih. Dia juga mampu men­cip­ta­kan ling­kungan tertib dan aman  sehingga dibe­rikan predikat dan penghargaan sebagai RT terbaik Jakarta Barat pada tahun 2006.

Selain itu,  Feri juga aktif mengurus warga Sungai Pua yang ada di Jakarta sebagai sekretaris Ikatan Keluarga Sungai Pua (IKSP) Jakarta Bogor Depok Tang­gerang dan Bekasi (Ja­bo­detabek). Ia mulai terjun serta bela­jar po­litik pada tahun 2000 dengan me­masuki Partai Amanat Na­sional (PAN) yang di­awali dengan jabatan se­bagai Se­kretaris Dewan Pimpinan Ra­nt­ing PAN Joglo. Ke­mudian secara bertahap ia mulai, menu­du­du­ki ke­tua Pembina Cabang PAN Ke­camatan Kembangan dan ja­­batan te­ra­khir sebagai Ke­tua Penelitian dan Pe­ngem­bangan Partai (Litbang) DPD PAN Jakarta Barat.

Berbekal ilmu peme­rintahan dan pengalaman yang dimiliki, ia diminta pulang kampung oleh ma­syarakat, dan menjadi Wali Nagari Sungai Pua, pada ta­hun 2008-2014. Feri me­mulai pemerintahan ke­cilnya dengan visi sederhana Terwujudnya Nagari Sungai Pua sebagai Nagari yang Mandiri, Maju dan Ber­prestasi untuk Ke­sejah­te­raan Masyarakat dengan moto  Malangkah Basamo Mam­bangun Nagari men­jadikan Nagari Sungai Pua sebagai Indonesia Mini.

Dalam kurun waktu sela­ma enam tahun, Feri mem­bawa perbaikan dalam ber­bagai bidang di nagari ter­sebut sehingga mendapatkan penghargaan pada tingkat kabupaten, provinsi hingga, pusat. Pada bidang pe­me­rintahan, Feri mampu me­ne­rapkan sistem kom­pu­te­risasi pada pemerintahan nagari untuk pelayanan ke­pada masyarakat. Ia juga menciptakan hubungan yang harmonis, baik antara Wali­nagari, Bamus dan lembaga nagari dan tokoh masyarakat baik di kampung maupun di pe­ran­tauan dalam pe­nye­lenggaraan pemerintahan.

Pada bidang pem­ba­ngu­nan, Feri bisa meng­himpun ma­syarakat kampung mau­pun di perantauan untuk membangun kantor wali­nagari dan memberikan pelayanan yang terbaik ke­pada masyarakat. Kemudian mendorong terlaksananya pembangunan di segala bi­dang. Dalam kurun waktu 6 tahun terserap dana sebesar Rp54,366 miliar, terdiri dari bantuan pemerintah sebesar Rp27,427 miliar, dan swadaya masyarakat Rp26,938 miliar.

Ekonomi bergerak se­hingga menurunkan angka kemiskinan dari 461 kepala keluarga di tahun 2008 se­karang tinggal 223 kepala keluarga atau turun 51,­85 pe­r­­­sen. Ti­dak lupa Feri juga memperhatikan ma­syarakatnya dengan pem­berian jaminan kesehatan ke­pada keluarga tidak mam­pu dan guru-guru MDA, lem­baga-lembaga nagari melalui Program Kesehatan Mandiri melalui bantuan perantau dan BAZ Nagari.

Feri meni­lai per­masa­lahan masyarakat di nagari seperti kemiskinan, pen­di­dikan, kesehatan, jalan, irigasi, agama dan adat isti­adat, apa­bila terurus dan terlayani dengan baik maka 50  persen permasalahan Agam dan Su­matera Barat dapat ter­se­lesai­kan. Semua­nya harus be­rawal dari yang kecil.

“Oleh sebab itu na­ga­ri ha­rus menjadi prioritas. Babaliak Kanagari yang men­­jadi perjuangan m­asy­a­rakat Sumbar melalui pe­rubahan Undang-undang no­mor 5 tahun 1979 tentang Pe­merintah Desa ke Un­dang-undang Nomor 22 ta­hun 1999 bisa berjalan. Apa­lagi sekrang ada Undang-un­dang No­mor 6 tahun 2014 tentang Desa. Jika diberikan amanah seba­gai orang nomor satu di Ka­bupaten Agam, saya akan be­nar-benar mem­per­ha­ti­kan pembangunan mulai dari nagari,” tutupnya. (***)

 

Laporan:
RAHMAT HIDAYAT

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]