Seperempat Abad Abdikan Diri untuk Dunia Transportasi


Jumat, 12 Juni 2015 - 16:49:31 WIB
Seperempat Abad Abdikan Diri untuk Dunia Transportasi

Saat ditemui Haluan di ruang kerjanya pada Kamis (12/6) lalu, Bram sapaan akrab Amran, banyak bercerita soal lika-liku kehidupan yang di­jalani dan prinsip-prinsip yang ia pegang teguh dalam kehi­dupan sehari-hari. Tak lupa ia meng­ungkapkan kesan dan pesan selama mengabdi terha­dap dunia perhubungan Sum­bar.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

“Saya mulai berkarir di perhubungan dari tahun 1992. Awalnya di Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) sebagai staf lebih kurang 4 ta­hun. Kemudian menjadi Ke­pala Sub Ba­gian (Ka­su­bag) Keuangan selama 2 tahun mulai dari 1996 sampai 1998. Setelah itu berlanjut jadi Kepala Seksi (Kasi) Manajemen Jasa Lintas atau Pe­ram­buan hingga 2001,” ucap Amran mengawali sejarah perja­lanan karirnya.

Setelah Dinas Perhubungan bergabung di bawah Kantor Wila­yah Perhubungan dan menjadi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika pada 2001, Amran kembali memangku tanggung jawab sebagai Kasubag Keuangan hingga 2003. Sejak 29 Agustus 2013 men­jadi Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha hingga Oktober 2008 men­jadi Sekretaris Dinas. Dan barulah pada Juli 2014 Amran dilantik menjadi Kepala Dishubkominfo hingga hari ini.

Baca Juga : Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis

Alumni Strata 1 (S1) Jurusan Ekonomi Universitas Andalas (Unand) dan Strata 2 (S2) Jurusan Studi Pembangunan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AKBP dengan spesifik Ekonomi Regional itu mengaku banyak menimba ilmu selama menjadi mahasiswa. Ka­rena pada periode tersebut seringkali Amran terlibat dalam berbagai penelitian.

“Penelitian yang saya geluti semasa kuliah antara lain pem­bangkit tenaga listrik Rantau Panjang dan Ombilin dengan me­nyisiri daerah-daerah di sepanjang aliran Sungai Ombilin sampai Sijunjung untuk melihat apa efek pembangungan pembangkit listrik bagi warga di sepanjang aliran sungai. Selain itu juga pernah melakukan penelitian terkait ren­cana kebijakan pemerintah untuk pengembangan koperasi di Sumbar dan Riau. Waktu itu saya juga menyisiri sepanjang aliran Sungai Siak. Belum beberapa penelitian lainnya,” ucap lelaki kelahiran Sungai Jariang, Sianok, Agam 1958 tersebut.

Dari pengalaman da­lam berba­gai pene­litian yang ia lakoni, Amran banyak be­lajar mengenai pe­nge­lolaan data. Se­hingga penguasaan konsep pengelolaan data dan perumusan anggaran menjadi nilai lebih sen­diri yang ia miliki. Se­hingga ia beranggapan bahwa lulusan univer­sitas di masa lalu lebih unggul dari segi kualitas karena ditempa lang­sung dengan banyaknya kegiatan praktek di lapangan sebagai ajang aplikasi ilmu yang didapatkan di per­ku­liahan.

“Saya sangat suka sekali mela­kukan penelitian. Berpergian ke daerah-daerah yang jauh dari keramaian membuat kita dapat melihat langsung bagaimana kehi­dupan masyarakat di rusuk-rusuk daerah, di perkampungan dan jauh dari hingar bingar perkotaan. Selain itu kita juga dapat menyim­pulkan persoalan hidup yang mereka hadapi, dan melihat poten­si apa yang bisa dikembangkan pada suatu daerah tertentu untuk pembangunan,” jelasnya lagi.

Hampir seperempat abad me­ngabdi di dunia perhubungan atau transportasi Sum­bar, Amran tidak pernah me­nge­nal adanya kata kepuasan. Karena menurutnya masalah per­hu­­bu­ngan tidak berujung, selalu ada kebutu­han baru yang harus dipe­nuhi. Sesuai dengan dinamika kehidupan secara umum dimana selalu ada kebutuhan dan kebu­tuhan itu meningkat dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu ia ikut mene­gaskan. Karena kebutuhan yang semakin lama semakin bertambah, diperlukan kesiapsiagaan dalam menangani transportasi. Ia men­con­tohkan pada masalah infra­struktur yang menjadi nyawa dalam transportasi.

“Untuk infrastruktur harus dibangun saat harga lahan masih terjangkau. Karena jika lahan sudah mahal akan sangat menyu­litkan bagi pembangunan tersebut. Artinya, bangun secepat mungkin, oleh karena itu diperlukan peren­canaan matang untuk beberapa tahun ke depan yang sudah kita rangkum dalam Tata Rencana Wilayah (Tatra­wil) Provinsi untuk puluhan tahun ke depan,” jelasnya lagi.

Namun terkait anggaran yang tidak bisa seenaknya saja dalam melakukan pembangunan, diperlu­kan pula penentuan skala prioritas dalam pembangunan pertranspor­tasian. Artinya harus ada yang lebih diutamakan, Amran mencontoh­kan seperti pembukaan jalan bagi kepen­tingan umum yang merupa­kan skala prioritas yang selalu diutamakan.

“Terkait pekerjaan ini, saya pensiun sekira-kira 3 tahun lagi, tapi itu bukan persoalan. Sejauh ini apa yang sudah dipikirkan, dite­tapkan atau dikerjakan meru­pakan sebuah kepuasan dalam peng­abdian,” terangnya.

Berharap Perkeretaapian Sebagai Urat Nadi Perekonomian

Perkeretaapian dalam benak Amran adalah sesuatu hal yang akan mampu menjadi landasan perbaikan perekonomian di Sum­bar. Bukan asal bicara, Amran menilai akses rel yang telah ada di Sumbar hanya perlu ditunjang kesiapan pihak-pihak terkait untuk mempercepat pengoperasian per­ke­retaapian Sumbar yang lebih baik. Dimana hal ini sejalan de­ngan Nawacita milik pemerintahan.

“Coba bayangkan apabila ren­cana strategis perkeretaapian tersebut dapat terealisasi dengan baik. Akan banyak penghematan, terutama dalam hal angkutan barang. Teluk Bayur sebagai pela­bu­han akan menjadi primadona. Dengan kereta api, semuanya jadi lebih mudah, hemat dan cepat. Tentu urat nadi pertumbuhan ekonomi dapat disandarkan pada hal itu.  Belum lagi dengan ber­operasinya kereta api, juga me­nyum­bang pada proses pengu­raian kemacetan dan pemini­malisiran resiko kecelakaan yang akan menimbulkan kerugian,” harap bapak empat anak tersebut.

Harapan itupun telah mulai digarap dengan serius oleh peme­rintah. Meskipun masa kerjanya hanya 3 tahun lagi. Amran berha­rap penerusnya nanti sebagai Kadishub­kominfo menunjukkan komitmen yang lebih terhadap perkembangan dunia perhu­bung­an Sumbar. ***

 

Laporan: JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]