Ziarah Makam Hingga Tradisi Potang Balimau


Jumat, 12 Juni 2015 - 16:51:13 WIB
Ziarah Makam Hingga Tradisi Potang Balimau

Balimau adalah satu kegiatan tradisi (bukan ritual agama) yang berkaitan dengan dengan kedatangan moment religius di Minangkabu, yaitu sebelum pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. Tradisi itu sudah berlangsung dari masa dahulu hingga sekarang. Bahkan sejumlah daerah di Sumbar, telah mempersiapkan berbagai ke­perluan untuk pelaksanaan balimau di daerah masing-masing.

Dalam pengertian yang dikon­truk­si oleh be­berapa subkultur di wilayah Mi­nangkabau, tradisi balimau bertujuan untuk ke­bersihan hati dan tubuh manusia dalam rangka mempersiapkan diri untuk me­laksanakan ibadah puasa. Masyarakat tradisional Mi­nangkabau pada zaman dahulu, me­nga­pli­kasikan wujud dari kebersihan hati dan jiwa dengan cara mengguyur seluruh anggota tubuh atau keramas disertai dengan ritual yang memberikan kenyamanan dan efek bathin.

Baca Juga : PPN Sembako dalam Pusaran Polemik

Namun, tempatnya tidak dilakukan di tempat pemandian umum, tapi di tempat pemandian masing-masing. Kemudian, men­sucikan diri sejalan dengan ajaran agama Islam. Islam itu sangat suka kebersihan. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman. Jadi jika ada ulama yang mengharamkan, sebaiknya gunakan bahasa yang pas, yaitu haram mandi bersama di pemandian umum yang mem­per­cam­pur­baur­kan laki-laki dan per­empuan yang tidak muh­rim.

Sebagian masyarakat Minangkabau dalam bulan balimau ini, juga kerap menziarahi makam orangtua dan sanak keluarganya. Biasanya, anggota keluarga mendatangi kuburan pendahulunya, sekaligus membersihkan ma­kam orangtuanya, nenek atau kakeknya. Prosesi ini dimulai dengan gotong royong mem­bersihkan kuburan sanak keluarga di pandam perkuburan keluarga atau kaum.

Selain itu, salah satu tradisi yang hingga kini juga masih berlangsung di kalangan anggota tarikat Syatariah di daerah Padang Pariaman dalam menyambut bulan suci Ramadan, adalah ziarah makam para aulia (syekh), atau guru pengajian tarekat tersebut. Selain makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, juga akan ramai dikunjungi makam Angku Saliah, Tuanku Kiambang, Tuanku Koto Tuo dan beberapa lainnya.

Terkhusus balimau, sebagai sebuah tradisi yang bernilai baik (hasanah), banyak juga pihak-pihak yang menyarankan agar tradisi ini tetap dipelihara dan dilestarikan. Meski tak dapat dipungkiri, jika  bulan balimau kerap disalah artikan sebagai ajang hura-hura, mandi bersama-sama ke tempat-tempat pemandian umum dan terbuka, yang kebanyakan dilakukan oleh anak-anak muda yang tak terikat status hubungan status. Inilah inti masalah yang kerap diresahkan media massa, di samping status hukumnya secara agama.

Yang terpenting kini, adalah bagaimana keluarga, ninik-mamak, alim ulama, cerdik pandai dan tentunya pemerintah daerah, dapat mengurangi ekses negatif dari pelaksanaan tradisi tersebut. Selama tidak mengabaikan ketentuan agama yang mengikis setiap perbuatan bid’ah di kalangan masyarakat, maka tentunya tidak perlu khawatir pula jika tradisi balimau akan berefek terhadap pedangkalan agama.

Melainkan hanyalah semata sebagai per­wu­judan pelesatrian khazanah budaya Minangkabau yang sifatnya sementara belaka. Toh, sakali aie gadang, sakali tapian barubah. Apalagi jika berbicara soal adat dan kebudayaan, yang se­sungguhnya tak ada yang abadi. Karena jelas dan pasti, ia akan berhadapan dengan perubahan dan tantangan zaman. (ryansyair)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]