Bukittinggi Bukan untuk Dijual


Jumat, 12 Juni 2015 - 19:19:32 WIB
Bukittinggi  Bukan untuk Dijual

Kita sebagai masyarakat Bukittinggi tentu selalu me­nga­gungkan nama besar Mu­ham­mad Hatta sebagai sang proklamator. Dedikasinya mendirikan dan membangun Negara yang sudah teruji oleh waktu sampai akhirnya me­mu­tuskan dengan bijak un­tuk tidak bersama lagi dipe­me­rintahan dengan Soe­karno.  Tentu banyak pertim­bangan dan pikiran-pikiran beliau yang jernih, tidak hanya seke­dar meng­harap­kan nama, fasilitas dari Ne­ga­ra, kun­jungan kerja keluar negeri, atau mendatangi per­te­muan-pertemuan dengan kalangan superclass di se­bu­ah yacht.

Baca Juga : Bertemu Gatot Nurmantyo dan Rizal Ramli, Ketua DPD RI: Pemerintah Harus Dikoreksi

Menjadi Walikota tentu­nya paling tidak akan me­nge­cap hal seperti diatas, walau­pun dengan standar yang relative berbeda. Kalau saya, atau anda berada dipo­sisi Bung Hatta tersebut, tentu akan tetap  bertahan diposisi tersebut.  Walaupun dengan sadar tidak bisa menuliskan satu paragraph pikiranpun yang nantinya bisa membuat semua rakyat bisa makan, apalagi memi­kirkan kebi­jakan – kebi­jakan yang mem­pengaruhi kehidupan masya­rakat ba­nyak.

Jika ditanyakan apakah mereka siap menjadi wali­kota, dengan sopan dan  pe­nuh percaya diri dengan berbagai pengantar mereka akan menjawab, siap!!!. Na­mun menjadi Walikota di kota yang punya sejarah be­sar ini tentu tidaklah semu­dah mengucapkan kata “act­ion atau “cut” yang diteriak­kan sutradara pada produksi sebuah film. Apa beliau beliau  tersebut sudah per­nah berpikir sendiri dan menampar pipinya dan ber­kata, “apakah benar niat saya untuk mengabdikan diri untuk kota ini?”.  “Apakah nanti saya hanya terbelenggu dengan kepentingan para donator kampanye saya yang tentu ingin bisnisnya di Bu­kit­­tingi makin besar , sekali­pun mesti menginjak hara­pan ribuan semut yang berji­baku memapah sisa roti untuk keluarganya kecil­nya?. “Apakah saya cuma akan sibuk menandatangai tum­pu­kan surat-surat yang saya sendiri tidak tau isinya apa? Tentulah lima tahun kede­pan adalah waktu yang sia-sia jika hanya “memerankan peran” sebagai Walikota. Mungkin setelah setahun warga Bukittinggi akan ber­sama-sama membuat akun di media sosial untuk me­ngung­kapkan rasa prihatin dan belasungkawa mereka terhadap Walikota, tidak usah bicara tidak puas akan kinerja, karena tentu Wali­kota yang tak punya misi yang “berisi” untuk kota ini tidak akan bisa keluar kotak yang sudah begitu adanya. Warga akan ber­bela­sung­kawa atas keterkungkungan sang Walikota dengan peran yang dijalaninya, perlawanan dari batin yang setiap pagi jujur mengatakan bahwa dia tidak bisa mengispirasi para pegawai dilingkungan kota yang dipimpinya, tidak bisa menulis gagasan-gagasan untuk pembangunan mental dan pola pikir warga kota­nya. Pagi yang tidak begitu nikmat karena protokoler telah mengatur semua jadwal di hari itu, tapi paling tidak sang Walikota bisa untuk update status di Facebook tentang koleksi batu akik terbaru “hadiah” dari kole­ga. Atau sedikit berkicau di twiter mengambil kata-kata bijak dari tokoh-tokoh yang semoga bisa membuat orang disekitar terinspirasi.  Tapi lagi-lagi hati kecil tidak akan bisa bohong, karena semua­nya itu semu. Ingin rasanya empat tahun kedepan berla­lu dengan cepat. Seperti para mahasiswa yang ingin se­wak­tu kecil punya cita-cita setinggi langit, ketika jadi mahasiswa hanya bercita-cita ingin cepat tamat.

Baca Juga : Menko Perekonomian-Mentan Salurkan 20 Ribu DOC Ayam Petelur ke Rumah Tangga Miskin

Buya Hamka pernah ber­kata “ Kalau hidup sekedar hidup, kera di hutan juga hidup, kalau kerja sekedar kerja, Kera juga kerja”. Jadi kalau jadi Walikota sekedar ingin tinggal di rumah dinas, dikawal mobil pakai sirene yang bisa membuat “para remaja senja” bisa jantungan. Membuka acara rapat pe­gawai. Memberi sambutan dalam acara peringatan hari besar nasional di lapangan kota. Bepergian untuk per­jalanan dinas, dan pulang ketika sore hari membawa sejumlah kebingungan. Se­mua akan mengaku bisa dan mau jadi Walikota. Bukit­tinggi tidak semurah itu terjual pada sosok yang “ti­dak Bagak” untuk mengu­bah Bukittinggi jadi makin baik. Pekerjaan rumah di Ko­ta ini gampang-gampang su­sah, jadi tidak bisa untuk ca­lon pemimpin yang “nyali po­sitif­nya” setengah-sete­ngah.

Partisipasi positif pemu­da adalah salah satu jawaban untuk Bukittinggi lebih baik. Saat ini generasi muda Bukit­tinggi  secara tidak sengaja terarahkan untuk tidak begi­tu tertarik bahkan apatis soal siapa yang akan memimpin kota mereka. Menganggap pembicaraan tentang siapa calon Walikota adalah pem­bi­caraan, hanya pentas trik-trik politisi kacangan yang sudah bisa ditebak. Tin­dakan apa­tis ini membuat par­tisi­pasi aktif dan kristis kita ti­dak terutarakan dengan baik.

Ketika perhatian pemu­da teralihkan, maka secara tidak langsung kita sudah memudahkan jalan para calon pemimpin yang “tidak siap” melanggeng dengan santai tanpa ada komentar, bahkan kritik dari pemuda. Sebaliknya jika para pemuda duduk bersama membi­cara­kan, membolak balik sejarah kota, track record para calon pemimpin kota ini, bahkan jika perlu membuat ruang diskusi publik (terlalu elit jika disebut debat) untuk para calon-calon Walikota. Bisa jadi dipertemukan di satu stage yang sama, atau dihadirkan secara terpisah untuk lebih menyelami ka­rak­ter, tekad, dan “siapa” beliau-beliau  tersebut.

Partisipasi dan diskusi yang aktif yang digerakkan para kaum pemuda dengan berbagai model bentuk dan rancangan diskusi tersebut setidaknya bisa jadi pang­gung postitif. Kasihan para calon Walikota hanya dito­dong dengan proposal-pro­posal kegiatan saja. Keber­pihakan pada rakyat hanya diuji dengan indikator der­ma­wan, pemurah, aktif men­dukung acara masyarakat. Lucu dan ironis, pastilah terkadang mereka merasa terzalimi, karena uang dona­si tersebut seakan menjadi tiket untuk mereka bicara di panggung dalam beberapa menit. Kalimat-kalimatnya disambutan tersebut juga sudah bisa ditebak, dan ten­tu­nya sang calonpun sadar bahwa semua yang men­dengar sambutannya itu sudah bosan dengan bebe­rapa kali sengaja bertepuk tangan isyarat agar sang calon mengakhiri sambutannya. Ada juga yang sibuk menulis kelemahan si calon di salah satu akun media sosial yang kemudian direspon bertubi-tubi oleh teman di dunia maya. Coba bayangkan, beta­pa menyedihkan nasib sang calon Walikota.

Bukittinggi butuh pe­mim­pin yang peran dan akh­lak sederhananya menjadi teladan bagi masyarakat. Sadar kalau kita sampai saat ini cuma bisa membangga bang­ga­kan kebesaran masa lalu yang tentunya tidak bisa di rewind, tapi mesti dicipta­kan lagi. Sadar saat ujian murid-murid kita masih dibantu kunci jawaban oleh “oknum”, sadar kalau yang berkuliah cuma ingin seke­dar takut ditertawakan te­man-teman sejawatnya, pa­da­­hal mereka sebenarnya belum tau bakat dan kom­petensinya di bidang apa.  Sadar bahwa sebagai kota yang “katanya” kota Pendi­dikan,  namun belum ada Universitas. Sadar bahwa sebagai kota wisata, sebagian mental masyarakatnya be­lum siap kota mereka men­jadi kota tujuan wisata dunia. Pertama, menganggap se­mua wisatawan membawa pundi-pundi uang yang le­bih, jadi jika harus mem­bayar mahal setelah makan, tidak akan masalah. Kedua, berpikir kalau setiap orang yang memarkirkan mobil tidak akan keberatan mem­bayar parkir dengan harga yang fantastis, karena toh mereka sanggup beli mobil. Bagi para calon, mungkin hal-hal tersebut perlu dipi­kirkan, daripada memi­kir­kan koleksi batu akik yang mana yang harus dipakai saat kampanye nanti.

Masih ada waktu untuk ber­siap-siap. Masih banyak wak­tu untuk duduk beberapa orang, meneguk teh manis, kacang abuih, atau kopi hitam untuk mendiskusikan atau bahkan mencari sosok-sosok calon pemimpin Bu­kit­tinggi. Masih ada waktu un­tuk me­ngetuk pintu para ca­lon yang sudah ada untuk di­ajak duduk sama rata ber­dis­kusi sehat tentang catatan-ca­ta­tan ke­cilnya untuk kota kita. Ma­syarakat masih ber­ha­rap dan berprasangka baik se­moga para calon  yang sudah mem­beranikan diri berdiri di baris depan sudah mempunyai per­timbangan yang matang. Se­telah Juli kita baru tau siapa calon-calon tersebut. Dan tidak tertutup kemungkinan di detik-detik ter­akhir akan muncul nama yang mungkin tidak dipre­dik­si para politisi dan war­tawan po­li­tik.

Semoga Bukittinggi tetap jadi negeri yang bermartabat, karena Bukittinggi terlalu “mahal” untuk dijual  bagi kepada kepentingan-kepen­tingan remeh temeh seke­lompok orang. ***

 

MUHAMMAD ARIEF
(Sutradara Film/ Mahasiswa Pascasarjana Penciptaan Film
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]