Dibayar Seikhlas Saja, Semoga Jadi Ibadah


Senin, 15 Juni 2015 - 19:37:48 WIB
Dibayar Seikhlas Saja, Semoga Jadi Ibadah

Setelah di tahun-tahun sebelumnya hanya menjadi penonton, Rosi, seorang warga Tunggul Hitam me­mutuskan ikut serta men­jadi penjual bunga ziarah di TPU Tunggul Hitam jelang Ramadan tahun ini. Saat Haluan mengunjungi lapak­nya pada Minggu (14/6), Rosi tengah tekun mengiris daun pandan sebagai cam­puran dalam paket bunga ziarah yang ia jajakan.

Baca Juga : Iedul Fithri: Geliat Ekonomi, Momentum Keluar Resesi

“Sudah lebih seminggu ini saya ikut menjual bunga. Hasilnya lumayan mes­ki­pun harga bunga bisa dita­war sesuka hati pembeli,” ujar Rosi.

Karena sifatnya musi­man, Rosi mengaku tak ikut menjual bunga di hari-hari biasa, praktis hanya jelang Ramadan tahun ini ia mencobanya, be­gitupun dengan beberapa warga setempat lainnya. Hanya saja, beberapa warga yang kebanyakan ibu-ibu memang berprofesi se­bagai penjual bunga di TPU meskipun tidak ada momen jelang Ramadan.

Baca Juga : Pembangunan dan Keadilan bagi Padagang Kaki Lima

Rosi mematok harga Rp3 ribu untuk setiap bungkus bunga ziarah yang ia jual. Di dalamnya sudah lengkap ramuan bunga ziarah yang terdiri dari beberapa jenis bunga dan dedaunan, se­perti mawar, kenanga, kanthil, melati, sedap malam, daun pan­dan dan lain sebagainya. Ramuan itu disatukan dalam kantong plastik kecil dan dijejerkan di atas lapaknya yang berada di tepi area TPU.

Sebagian besar bahan bunga didapatkan Rosi dari halaman rumah. Beberapa lain­nya dicari ke rumah tetangga atau ke taman-taman kecil di sekitar Kota Padang. Namun ada juga jenis bunga yang ia beli.

“Harganya memang Rp3 ribu saja. Itupun bisa ditawar. Saya tak masalah berapapun ditawar. Karena selain modalnya tak banyak, hitung-hitung sekalian ibadah membantu orang ziarah,” jelas Rosi.

Benar saja, di tengah perbin­cangan kami datang seorang pembeli bunga yang hendak berziarah. Setelah tahu harga tiap bungkus bunga Rp3 ribu, pembeli itu spontan menawar Rp5 ribu untuk tiga bungkusan bunga. Tanpa pikir panjang Rosi menganggukkan kepala. Jual beli pun terjadi.

Kata Rosi, kunjungan pezia­rah mulai ramai sejak dua ming­gu jelang Ramadan yang diper­kirakan jatuh pada Kamis (18/6) esok. Jumlah peziarah terus bertambah hari ke hari hingga H-1 Ramadan. Jika dua minggu sebelum Ramadan Rosi hanya menjual 20-25 bungkus bunga sehari. Dalam seminggu belaka­ngan ia malah menjual 50-80 bungkus dalam seharinya.

“Uang yang didapatkan luma­yan untuk menambah-nambah persediaan untuk kebutuhan puasa. Selain itu saya juga sedia­kan minuman dingin, siapa tahu ada yang haus dan tidak bawa minum,” terangnya lagi.

Selain bunga dan minuman, Rosi juga menjajakan batu koral yang biasa digunakan untuk menahan tanah makam agar tak terban. Tapi untuk batu, Rosi mengaku hanya dititipi oleh orang lain, dari penjualannya Rosi mendapatkan untung sesuai kesepakatan. “Satu karungnya Rp30 ribu. Dalam sehari jelang Ramadan bisa terjual 4 sampai 6 karung,” jelasnya lagi.

Selain Rosi dan puluhan penjual bunga serta batu makam lainnya, ada pula puluhan anak muda setempat yang ikut me­man­faatkan momentum ziarah makam di TPU Tunggul Hitam. Berbekal cangkul, sabit dan parang, anak muda itu mena­warkan jasa bersih-bersih ma­kam kepada warga  yang datang menziarahi makam anggota keluarga mereka.

Rendi, salah seorang pe­nyedia jasa bersih makam me­ngatakan, profesi tersebut dila­koninya hanya di musim jelang Ramadan. Selain itu, di hari biasa ia masih menempuh pendi­dikan di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Kota Padang.

Tiap satu kelompok penye­dia jasa bersih makam biasanya terdiri dari 3 sampai 4 anggota. Pantauan Haluan, puluhan ke­lompok saling berpencar ke makam-makam yang tengah di­zia­rahi keluarga. Jika ada makam yang terlihat sangat semak, ke­lompok penyedia jasa kemudian menawarkan jasanya, tanpa pak­saan dan tanpa mematok biaya jasa.

Biasanya, pada musim ziarah sebelum Ramadan, dalam sehari Rendi dan kawan-kawan mene­rima 5 sampai 10 permintaan untuk membersihkan makam. Seperti yang ia sampaikan, beda peziarah beda pula bayaran jasa yang diberikan, tapi Rendi tetap menerima berapapun jasanya dibayar peziarah. “Kadang ada yang memberi Rp20 ribu. Ada pula yang lebih dari itu, berapa dikasih kami terima asal peziarah ikhlas. Kalau ditanya berapa, kami jawab ala kadarnya saja,” tutup Rendi. ***

 

Oleh: JULI ISHAQ PUTRA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]