TUJUH HARI OPERASI PEKAT

Selama tujuh hari Operasi Pekat, Polresta Padang menangkap lima mucikari atau germo dengan sembilan ‘anak galeh’ mere­ka. Kelima germo itu dijerat dengan pa­sal 296 dan pasal 55 KUHP, tentang prostitusi.

PADANG, HALUAN  — Kepolisian Resor Kota (Pol­resta) Padang berhasil menangkap lima mucikari atau germo dengan sembilan orang ‘anak galeh’ mereka, selama tujuh hari digelar operasi Pekat Singgalang 2015. "> TUJUH HARI OPERASI PEKAT

Selama tujuh hari Operasi Pekat, Polresta Padang menangkap lima mucikari atau germo dengan sembilan ‘anak galeh’ mere­ka. Kelima germo itu dijerat dengan pa­sal 296 dan pasal 55 KUHP, tentang prostitusi.

PADANG, HALUAN  — Kepolisian Resor Kota (Pol­resta) Padang berhasil menangkap lima mucikari atau germo dengan sembilan orang ‘anak galeh’ mereka, selama tujuh hari digelar operasi Pekat Singgalang 2015. " /> TUJUH HARI OPERASI PEKAT

Selama tujuh hari Operasi Pekat, Polresta Padang menangkap lima mucikari atau germo dengan sembilan ‘anak galeh’ mere­ka. Kelima germo itu dijerat dengan pa­sal 296 dan pasal 55 KUHP, tentang prostitusi.

PADANG, HALUAN  — Kepolisian Resor Kota (Pol­resta) Padang berhasil menangkap lima mucikari atau germo dengan sembilan orang ‘anak galeh’ mereka, selama tujuh hari digelar operasi Pekat Singgalang 2015. " />

Lima Germo Ditangkap Polisi


Selasa, 16 Juni 2015 - 18:59:21 WIB

Tim Reskrim Polresta Padang awalnya menangkap seorang germo berinisial BA (42) plus dua ABG yang hendak “dijual” ke seorang pelanggan ke se­buah hotel di Padang ber­inisial FA (17) dan APS (17), Kamis (11/6).

Dalam operasi selan­jutnya, polisi menangkap seorang lagi seorang germo dengan dua anak asuhnya di salah satu penginapan di Kota Padang, Jumat (12/6) sekitar pukul 20.30 WIB. Pe­nangkapan ini berbeda, ka­rena seorang germo ber­ini­sial NML (25) masih ber­status mahasiswi, se­men­­tara dua anak asuhnya ber­inisial DR (20) dan TL (17).

Penangkapan terbesar terjadi pada hari Senin (15/6). Tim gabungan Polresta Padang kembali menang­kap tiga germo dengan lima anak asuhnya. Seluruhnya ditangkap di dua hotel yang ber­beda di Padang saat bertransaksi dengan calon pembeli.

Tiga germo tersebut, salah satunya merupakan sepasang kekasih berinisial AB (20) pelajar salah satu SLTA swasta di Kota Pa­dang dan kekasihnya RA (19), sementara seorang lagi berinisial DTT (23) merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Padang. Kini ketiga muci­kari tersebut telah diaman­kan di Mapolresta Padang untuk proses lebih lanjut.

Sementara kelima anak asuh germo tersebut masing-masing berinisial IJ (20), KN (19), WP (18), DD (23) dan FD (24). Dalam kasus tersebut, mereka dija­dikan saksi dalam per­ka­ra yang diduga dilanggar pelaku. Informasi yang di­peroleh menyebutkan, pe­nang­kapan berawal dari salah satu petugas me­nya­mar sebagai pembeli, tan­pa diketahui penjual jasa yakni DD di hotel sekitar pukul 17.00 WIB. Ke­mu­dian tawar-menawar pun terjadi antara DD dengan petugas. Setelah itu, petugas mengorek siapa muci­kari­nya dan meminta satu la­gi wa­­nita untuk bisa diha­dirkan dan dipakai jasanya.

Tanpa rasa curiga, DD pun menghubungi muci­karinya DTT. Kemudian DTT hadir ke penginapan tersebut dengan membawa satu anak asuhnya FD un­tuk ‘diperjualbelikan’. Se­telah dirasa cukup bukti praktik prostitusi yang di­duga pelaku, petugas lang­sung mengamankan mereka tan­pa ada perlawanan dan dibawa ke Mapolresta Padang.

Kemudian sekitar pukul 22.30 WIB, petugas melakukan pengembangan dan bertemu dengan sepasang mucikari AB dan RA di salah satu penginapan. Petugas yang menyamar sebagai pembeli melakukan transaksi dengan mucikari. Setelah dise­pakati, tak lama kemudian IJ, KN dan WP hadir di hotel dan lang­sung diamankan ke Polresta Padang.

Pengakuan IJ di Mapolresta Padang, dia menjalani profesi tersebut telah satu tahun lamanya dan ini pun dilakukan karena terpaksa. Sebab orangtuanya sudah bercerai, sehingga dia harus menafkahi adik satu-satu­nya dan ibunya.

“Kebanyakan saya bekerja menemani hidung belang pergi berkaraoke di kafe yang ada di Padang. Namun saat terjepit keuangan, saya terpaksa me­layani hidung belang,” ujar IJ.

Dilanjutkannya, tidak hanya di Padang ataupun Sumbar dia menjalani atau melayani para hidung belang. Wanita tinggi semampai ini, juga pernah ke provinsi lain untuk melayani atau menemani hidung belang yang dipesan melalui mucikari.

“Saya pernah ke Jakarta, Bali, Jakarta dan kota lainnya. Untuk melayani pria, saya hanya me­milih om-om,” katanya.

Dengan spontannya dara manis ini mengatakan, ternyata dirinya dulu pernah mela­ya­ni pejabat. Namun pejabat kota mana, dia tidak menge­ta­hui. ”Du­lu saya pernah melayani pejabat, namun pejabat kota mana saya sudah tidak ingat,” jelas IJ.

Sementara itu, Kapolresta Padang Kombes Pol Wisnu An­dayana mengatakan, penang­kapan terhadap germo dengan anak asuhnya tersebut berawal tim gabungan melakukan penye­lidikan di lapangan untuk me­ngung­kap prostitusi terselubung di Padang.

“Untuk mengungkap pros­titusi terselubung, kami harus bisa terjun dan berkecimpung dengan dunia malam. Untuk itu, petugas menyamar dan me­ngung­kap siapa saja mucikari yang ada di Padang,” kata Wisnu, Selasa (16/6).

Dikatakan Wisnu, untuk ke­li­ma anak asuh dari tiga mu­cikari tersebut dijadikan saksi dalam perkara yang diduga dilanggar kedua pelaku. “Saat ini petugas masih mengorek kete­rangan dari kelima wanita terse­but untuk melengkapi berkas pekara yang dilanggar pelaku,” ujarnya.

Kasat Reskrim Kompol Franky M. Monathen me­nga­takan, para mucikari tersebut akan dijerat dengan pasal 296 jo pasal 55 KUHP, tentang pros­titusi. Sebelumnya petugas te­lah mengamankan barang bukti dari mucikari berupa, satu unit hand­phone merk Black­berry Dakota, satu handphone jenis Iphone 5, satu handphone merek Smartfriend tipe C2 dan empat unit handphone jenis Samsung.

“Seluruh barang bukti dan ketiga mucikari telah kita aman­kan. Hingga saat ini pe­nyidik masih melengkapi berkas pekaranya,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelum­nya, Dinas Pendidikan dan Ke­budayaan (Disdikbud), Syam­sulrizal meminta agar kasus prostitusi pelajar yang saat ini terjadi agar diusut tuntas.

Dikatakan Syamsulrizal, pe­ran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal ini, mengingat anak lebih banyak kontak dengan keluarga seusai pendidikan di sekolah.

Ditambahkannya, selain orang tua, masyarakat juga tidak boleh antipati dengan kedaan lingkungan sekitar. Karena, se­suai denga adat di Minangkabau, toleransi itu juga harus di­opti­malkan lagi. ”Jangan hanya wacana adat semata tanpa rea­lisasi. Generasi muda perlu diselamatkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Habi­bul Fuadi justru mengancam korban perdagangan anak dike­luarkan dari sekolahnya.

Ketua MUI Kota Padang Duski Samad minta kepada setiap orang tua yang memiliki anak remaja supaya bisa mem­pertang­gungjawabkannya.

Menurutnya, prostitusi itu terjadi ketika gaya hidup remaja sudah berubah sementara orang tuanya tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. “Makanya, gaya hidup orang tua dan cara mendidik anak juga sangat di­perlukan,” tandasnya. (h/nas)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]