Berharap Hama tak Ganggu Panen


Rabu, 17 Juni 2015 - 18:51:00 WIB
Berharap Hama tak Ganggu Panen

Untuk mengapai angan-angannya itu, ia telah me­nanam sebanyak seribu batang cabai di lahan bekas tanaman padi. Sebelum anak cabai disemai tanah harus digemburkan terlebih dulu, selanjutnya diberi plastik agar rumput tidak tumbuh di sekitar tanaman cabai.

Baca Juga : Investasi Tumbuh, Indonesia Maju

Ia memperkirakan bia­ya yang dibutuhkan mulai dari menyemai sampai masa panen sekitar Rp3 juta un­tuk seribu batang cabai dengan memperkerjakan dua orang tenaga kerja.” “Alhamdulillah sampai se­ka­rang tanaman cabai saya tumbuh subur, itu dapat dilihat dari hijau daunnya. Mudah-mudahan panen ini bisa berhasil sesuai yang diharapkan,” ujar Wirman St. Mudo ke­pada Haluan di lahan perkebunan Dusun Lurah Jorong III Kam­pung Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang Kab. Agam.

Wirman St. Mudo lebih dike­nal sebutan Tuan di daerahnya itu, memperkirakan harga jual cabai pada saat lebaran di tingkat petani bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp70 ribu perkilo. Me­nurutnya, jika tanaman ini tidak diserang oleh hama hasil panen bisa 200 kg setiap minggunya dengan masa panen mencapai 10 hingga 12 kali.

Baca Juga : Kenangan Bersama Bang Rusdi Lubis

Menurut Tuan, harga jual ideal bagi petani sekitar Rp50 ribu perkilo sedangkan harga jual  di tingkat petani saat ini berkisar Rp30 ribu perkilo, harga ini diperkirakannya akan terus naik menjelang lebaran nanti.

Terlebih di saat ini katanya, Gunung Sinabung di Sumatera Utara sedang mengeluarkan asap, diperkirakan petani cabai di sana gagal panen. Kondisi ini akan mempengaruhi harga cabai di Bukittinggi sebab selama ini cabai dari daerah tersebut cukup banyak beredar di Bukittinggi.

Namun di sisi lain, ada rasa kekhawatiran Tuan terhadap keberhasilan tanaman cabainya. Pasalnya mengeluti tanaman cabai itu tidak bisa seratus per­sen berhasil karena berbagai macam faktor penyebabnya. Sa­lah satunya Hama Pianggang, hama itu akan menyerang cabai yang sedang berbuah, ciri-ciri hama itu adalah buah cabai busuk sebagian atau sebelah.

Hama itu, tidak akan terlihat ketika cabai sedang masa per­tum­buhan, namun akan nampak pada saat cabai sudah mulai berbuah. Dan hama dari Piang­gang itu, sampai saat ini belum ada obatnya. Untuk mengatasi kerugian akibat diserang oleh hama Pianggang adalah dengan cara memanen lebih awal atau lebih dikenal di pasar dengan Cabai Hijau. Namun lagi-lagi harga jual cabai hijau di tingkat petani sangat rendah. Tidak ada cara lain memanen lebih awal untuk mengatasi kerugian yang lebih parah lagi.

“Kalau penyakit ini menye­rang tanaman cabai, kita sudah rugi karena sampai saat ini be­lum ada cara untuk menga­tasinya,” ulas Tuan yang didam­pingi rekannya sesama petani cabai Menan Ciat.

Selain dari faktor hama kata­nya, faktor cuaca sangat mem­pengaruhi pertumbuhan ta­naman cabai. Jika hari hujan terus menerus maka bisa dipas­tikan tanaman cabai gagal.

Melonjaknya harga cabai di pasaran tidak menjamin sepe­nuhnya kesejahteraan para petani cabai di daerah Agam Timur. Salah satu sebabnya adalah ulah para pedagang nakal dalam mem­­permainkan distribusi cabai.

Tak dapat dipungkiri setiap pedagang pasti ingin mem­peroleh keuntungan lebih banyak dengan cara menjual kepada pembeli yang menawar lebih tinggi atau di daerah kekurangan pasokan cabai. Provinsi Riau merupakan salah satu daerah potensial pemasaran berbagai macam komoniti tanaman ter­masuk cabai.

“Kalau harga cabai lebih bagus di Riau jika dibandingkan dengan di Bukittinggi, biasanya pedagang akan mendrop cabai-nya ke daerah itu. Akibatnya persediaan cabai di Bukittinggi berkurang maka harga pasti naik,” jelas Tuan.(*).

 

Laporan: YURSIL

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]