Ramadan dan Kegembiraan Politisi


Kamis, 18 Juni 2015 - 19:24:32 WIB
Ramadan dan Kegembiraan Politisi

Sosialisasi tersebut bisa berupa pemasangan baliho yang kemudian menjadi sam­pah visual, berkunjung ke pasar-pasar tradisional sem­bari berdialog dengan pe­dagang, melihat dan mem­­­bantu orang miskin yang sakit, mengunjungi mas­jid dan memberikan se­di­kit bantuan untuk pem­ba­­ngu­nan masjid, dan se­ba­gai­nya.

Baca Juga : Yang Lain Menolak, Dedi Mulyadi Malah Mendukung: Saya Siap Disuntik Vaksin Nusantara

Adalah rahasia umum bahwa politisi meng­gu­nakan segala cara untuk meraih dukungan. Rama­dan adalah salah satu mo­men­tum yang ditunggu-tunggu politisi. Berdalih mengunjungi mas­jid untuk salat Tarawih ber­sama ma­syarakat atau mem­berikan ceramah, mereka meman­faatkan kunjungan tersebut untuk berkampanye terselu­bung, bahkan terang-te­ra­ngan.

Ada politisi yang me­makai pakaian partai saat berkunjung ke masjid, bagi yang bermain politik secara kasar. Namun lebih banyak yang memakai pakaian tan­pa identitas partai atau berbau politik. Serangan politik mereka lakukan me­lalui kata-kata. Masyarakat yang sudah mulai cerdas, dari awal mengetahui mak­sud kedatangan para politisi ini.

Baca Juga : Siap Siaga! 9 Provinsi Ini Diprediksi Bakal Diterjang Topan Surigae

Para politisi, pada awal berbicara kepada jemaah, menyampaikan hal-hal yang umum. Misalnya, ceramah perihal agama, kondisi kehi­dupan masyarakat secara umum, dan sebagainya. Di tengah pembicaraan, me­reka akan memerlihatkan diri sebagai seorang yang peduli dan simpatik ter­hadap kesulitan ekonomi masyarakat, bahwa ma­sya­rakat membutuhkan sosok yang dapat mengubah kea­daan. Kemudian, mereka memberikan bantuan ter­hadap kondisi masjid yang perlu direhabilitiasi atau yang pembangunannya se­dang terbengkalai. Meski bantuan yang diberikan jumlahnya tergolong kecil untuk pembangunan masjid itu, tapi bantuan itu cukup memancing simpati jemaah. Saat memberikan bantuan, para wartawan akan memo­tret momen saat si politisi menyerahkan bantuan ke­pada pengurus masjid. Ke­eso­kan harinya, berita me­reka akan tersebar di koran-koran. Apakah hal tersebut tergolong riya atau tidak, itu lain soal.

Menjelang akhir pe­nyam­­­­paian, mereka akan memberitahu siapa mereka dan kapan jadwal pe­mi­li­han. Pada tahap ini, si po­litisi menyebutkan de­ngan terang-terangan apa partai yang mengusungnya, siapa pasangannya, dan me­ngi­ngatkan masyarkat untuk tidak melupakan wa­jah­nya saat berada di bilik suara.

Baca Juga : Tenaga Ahli Menkes Kritik Vaksin Nusantara, Ungkap 95 Persen Bahan Bakunya Impor

Ada juga yang me­nyam­paikan dengan cara yang halus. Contohnya, si politisi tidak menyebutkan bahwa ia akan mencalonkan diri se­bagai pemimpin, tidak me­nyebutkan dari partai ma­na dan identitas politik lain­nya. Yang jelas, mereka te­tap menyosialisasikan diri.

Para politisi seperti ini ti­dak mau disebut ber­kam­panye di masjid karena me­reka tahu hal itu tidak di­bo­lehkan. Tapi mereka tetap melakukannya dengan cara yang orang tidak bisa me­nuduh mereka ber­kam­pa­nye. Mereka akan bilang bah­wa kedatangan mereka ke sana untuk ber­sila­tu­rah­mi dan beribadah bersama ma­sya­rakat tanpa mem­bawa misi politik.

Baca Juga : Istrinya Positif Covid-19, Ridwan Kamil Ingatkan Masyarakat Tetap Jaga Kesehatan

Kita harus menghagai niat baik orang yang da­tang ke masjid untuk ber­sila­turahmi dan beri­badah. Jika niatnya memang un­tuk itu, kita harus meng­hargainya. Apakah dia bohong atau tidak, apakah dia membawa misi politik atau tidak, ia yang me­nanggung dosanya sendiri. Sementara kita, cukup ta­hu siapa yang akan kita pilih pada Pilkada nan­ti, politisi yang datang ke masjid untuk ber­kam­pa­nye atau yang tulus untuk ber­­silaturahmi dan ber­ibadah.

Mulai malam nanti, bila Anda pergi tarawih, pe­r­hatikan siapa penceramah di masjid itu dan apa yang disampaikannya. Curigai, apakah ia seorang calon ke­pala daerah atau simpatisan kepala daerah. ***

 

HOLY ADIB
(Wartawan Haluan)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]