“Berharap Cabai Tetap Pedas”


Kamis, 18 Juni 2015 - 19:32:29 WIB
“Berharap Cabai Tetap Pedas”

Mes­ki hanya berla­dang di lahan sewaan milik warga lain, hal itu tidak menyurutkan niat­nya untuk terus bergelut de­ngan ko­mo­diti yang ter­kenal dengan rasanya yang pedas ini.

Baca Juga : Etika Politik Koalisi PKS dan PAN dalam Menentukan Wakil Walikota Padang

Dari bertanam cabai ini, berbagai harapan untuk masa depan keluarganya digan­tung­kan. Bukan tak ada pilihan untuk beralih kepada profesi lain yang lebih baik dan menjanjikan. Tapi bagi bapak dua anak ini, berta­nam dan merawat cabai sama halnya dengan merawat dan membesarkan keluarganya. De­ngan harapan “membalas guna” pula tentunya.

Berbagai suka dukapun telah dilaluinya, karena harga cabai memang tak selalu sepedas rasanya.  Kadang murah kadang mahal, dari panen bagus sampai panen gagal dengan kerugianpun telah dirasai.” Kita hanya ber­usaha, berikhtiar, hasilnya semua di tangan Allah,” kata Alfian sembari menceritakan kisahnya menjadi petani cabai kepada Haluan, Rabu (17/6) lalu.

Baca Juga : Politik dan Etika Berkelindan dalam Pengisian Jabatan Wawako Padang

Pihaknya menuturkan, nasib petani saat ini jauh berbeda dengan petani pada 20 tahun silam, ketika petani selalu disan­jung sebagai salah satu aktor utama dalam menggerakkan pembangunan bangsa melalui program swasembada pangan. Berbagai barang kebutuhan pe­r­tanian, waktu itu gampang di­dapat, bahkan difasilitasi oleh pemerintah.

Namun pada hari ini yang terjadi justru sebaliknya. Petani benar-benar sekarat, bahkan yang menyakitkan, ketika petani benar-benar bersemangat meng­garap sawah, berbagai jenis obat-obatan untuk pertanian justru harganya mahal, pupuk bersub­sidi jatahnya dikurangi, bahkan setelah sampai di tangan petani harga jualnya setinggi langit dan sulitnya mendapatkan barang-barang tersebut di pasaran.

Baca Juga : Jangan Terlalu Bersedih Jika Kamu Dihinakan

Belum lagi kualitas pupuk subsidi yang jauh lebih rendah dari pupuk non subsidi, sehingga panen petani seringkali tidak maksimal, tak hanya “pulang pokok” ancaman merugipun harus siap dihadapi . Dan di saat petani menjerit dengan segala kesuli­tannya itu, disongsong pula dengan rencana pemerintah yang ingin mengimpor cabe dan ba­wang merah dari luar negeri, hanya dengan dalih dan alasan ingin menstabilkan harga bagi masya­rakat, maka lengkaplah petani sebagai aktor pelengkap penderita.

Dan sakitnya tu di sini. Ba­gaimana tidak. Di saat mereka mengalami hantaman kanan-kiri, nyatanya pemerintah tidak segera turun tangan, malahan sibuk memperjuangkan nasib para pengusaha dan pemilik modal besar. Pemerintah berani melukai hati para petani dengan mengimpor cabai dikala petani sedang akan menikmati harga cabai yang merambat naik..

Baca Juga : Mengapa Isu Presiden 3 Periode Kembali Berhembus?

Hal ini tentu cukup berala­san tingginya biaya produksi pertanian, tentu juga searah dengan harapan harga komoditi ini sedikit naik, dengan demikian petani dapat menutupi modal yang telah dikeluarkan dan juga dengan sedikit keuntungan tentu­nya. Semestinya yang dilakukan pemerintah adalah menekan harga pupuk, racun, obat-obatan dan atau bagaimana cara jitu melawan berbagai hama perusak tanaman. “Kalau sempat diim­por, petani akan merugi karena harga dipastikan akan anjlok. Pemerintah harusnya memi­kirkan bagaimana panen petani lokal bisa meningkat,” keluhnya

Padahal, dengan kondisi saat ini modal beratanam cabai dari mulai tanam hingga panen berki­sar Rp. 3.000 sampai Rp. 5.000 perbatang, itupun dengan catatan si petani sudah punya sarana lain seperti tonggak, plastik dan tangki semprot. Sedangkan biaya paling tinggi itu adalah untuk pengadaan pestisida dan pupuk. Dengan estimasi, jika cabai mampu berbuah maksimal dapat dipanen 5-6 ons perbatang.

Namun kondisi dilapangan seringkali tak sebanding lurus dengan harapan nya. Berbagai resiko mesti dihadapai, kondisi cuaca yang kadang tak menentu seringkali berakibat kepada rusaknya tanaman cabai, bahkan buah juga kerap busuk sebelum dipanen. Kalaupun kondisi tana­man kurang baik, kadang harga yang bagus  cukup membantu petani dari resiko kerugian.

Idealnya dengan kondisi saat ini, kata Alfian, harga minimal adalah Rp.20.000 per kilo. Ka­rena dengan harga segitu, untung yang diraih oleh petani juga sa­ngat tipis. Bahkan jika harga dibawah itu hampir dipastikan akan merugi. “ Makanya kita berharap harga cabai tetap pedas, sepedas rasanya,” harap Alfian.

Dengan pola sistem tanam berjenjang yang diterapkannya selama ini, dalam arti, ketika lahan yang satu hampir panen, setidaknya sudah ada satu atau dua lahan lagi sebagai pengganti yang disiapkan untuk melan­jutkan rutinitasnya bertanam cabai. “ Dengan pola ini bisa dijadikan penyeimbang, kalau lahan yang satu merugi. Kadang di lahan berikutnya kita bertemu dengan harga dan kondisi panen yang bagus,” kata Alfian yang mulai belajar bertanam cabai di Sukabumi Jawa Barat ini. (*)

 

Laporan : YUTIS WANDI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]