Randai, Seni dan Refleksi Kehidupan


Jumat, 19 Juni 2015 - 17:15:17 WIB
Randai, Seni dan Refleksi Kehidupan

Cerita dalam randai juga terdiri dari dua bagian, yaitu cerita yang didendangkan dan cerita yang diperankan, se­perti adegan-adegan da­lam drama modern. Cerita dalam randai adalah cerita dari kaba. Cerita kaba inilah yang akan dinyanyikan dan di­peran­kan. Cerita yang di­nyanyik­an biasanya me­rujuk pada peralihan waktu, pe­ralihan tempat, peristiwa, dan suasana. Sedangkan ce­ri­ta yang dilakonkan berisi aja­ran-ajaran, nasehat, kri­tik, dan humor. (Hadi: 13-18).

Baca Juga : Lirik Lagu Sofia yang Sedang Viral di TikTok

Festival Nan Jombang Tanggal 3 bulan Juni yang lalu, menampilkan Grup Benteng Ombak Nan Ba­dabua. Grup ini berdiri pada tahun 1973 dan beralamat di jalan Veteran Padang. Pada festival tersebut, Benteng Ombak Nan Badabua mem­bawakan cerita randai dari kaba “Magek Manandin”, sebuah kaba yang terkenal di daerah Saniangbaka, Kabu­paten Solok. Randai ini dibuka dengan masuknya sepuluh orang pemain dari belakang panggung. Musik dari gendang dan talempong mengiringi mereka. Ke­se­puluh pemain ini mem­ben­tuk lingkaran. Dari samping panggung terdengar suara tukang dendang yang sedang menyanyikan pantun pa­sam­bahan. Kemudian seorang pemain berdiri di tengah lingkaran dan membuka randai itu dengan perkenalan kelompok randai, penya­pa­an ke penonton, dan per­mintaan maaf. Pasambahan seperti ini menjadi ke­waji­ban bagi kelompok randai sebelum memulai per­tunju­kan. Hal ini bertujuan agar terjalinnya komunikasi yang baik antara pemain randai dengan penonton.

Setelah itu, para pemain randai kembali menari, bergerak sesuai irama per­mainan, membuat musik dari endong dan tepuk ta­ngan. Sementara di luar para tukang dendang sedang me­ngalih­kan waktu, suasana, dan peristiwa cerita. Adegan pun silih berganti.

Baca Juga : Geram dengan Sikap Aldi Taher, Deddy Corbuzier Bilang Ini

Kaba “Magek Ma­nan­din” berisi cerita tentang perjalanan Magek Manandin di galanggang Puti Nilam Cahayo di Solok. Dalam galanggang itu, Magek kalah beradu ayam dengan Rajo Duobaleh dan tertuduh se­bagai maling jawi. Adapun mamak Magek, Rajo Kuaso yang pergi mencari Magek, malah berusaha membunuh Magek karena malu. Magek pun tidak bisa dibunuh dan tetap selamat kembali ke kampungnya di Saniangbaka.

Permainan randai yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu cukup menarik untuk ditonton. Selain gerakan pemain ran­dai yang indah juga men­yim­pan pesan-pesan kehi­dupan yang mesti diper­hatikan. Pesan-pesan itu diantaranya, tentang lara­ngan perjudian, hubungan mamak dan kema­nakan, dan nilai kebenaran.

Perjudian memang su­dah menjadi tradisi dalam ma­syarakat Minangkabau, tidak hanya menyabung ay­am dan bermain kartu dan sejenisnya, tapi juga telah berkembang ke ranah mo­dern, seperti per­judian online.

Di tengah kehidupan mo­dern saat ini, penampilan randai dengan kaba “Magek Manandin” sepertinya kem­bali merefleksi ingatan ma­sya­rakat akan berbagai nor­ma, nilai, adat, dan budaya yang berlaku di tengah ma­sya­rakat, yang kadang ter­lupakan.

Seperti perihal larangan perjudian. Berjudi tidak hanya me­rugi­kan, bah­kan juga menyeng­sarakan. Pun hubungan mamak-ke­mana­kan. Di tengah ke­hidupan yang beragam saat ini, hu­bungan mamak-ke­menakan pun bisa saja renggang kare­na tidak lagi saling mem­bu­tuhkan satu sama lain.

Tapi tampaknya hal ini bukan hanya terjadi sekarang, melainkan telah terjadi pada masa lalu. Hal itu terlihat saat Rajo Kuaso sebagai mamak begitu jahat­nya hingga be­rusaha mem­bunuh Magek hanya karena malu ke­mena­kannya me­ncuri. Meski Rajo Kuaso kejam kepada Magek, Ma­gek tetap saja berlaku baik ke­pada mamaknya. Hu­bu­ngan seperti ini men­jadikan k­omu­nikasi mamak-ke­me­na­kan terjalin dengan baik.

Permainan randai di te­ngah maraknya seni modern hari ini, tampaknya tidak akan bisa dilupakan. Karena randai bukan sebuah ke­senian masa lalu yang akan tergiling zaman. Tapi randai terus hidup dan hadir ke tengah masyarakat. Tidak hanya karena nilai ke­inda­han seninya tetapi juga ka­rena pesan-pesan yang di­sampai­kannya yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat saat ini. (*)

 

KHAIRY RA’IF THAIB
(Aktif di Ranah Teater dan Labor Penulisan Kreatif Unand)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]