Pertahankan Mutu dan Rasa


Jumat, 19 Juni 2015 - 17:16:56 WIB
Pertahankan Mutu dan Rasa

Kerupuk kulit atau untuk daerah Sumbar lebih dikenal dengan nama kerupuk jangek, adalah penganan khas yang banyak dijumpai pada banyak pu­sat kuliner di daerah ini. Mulai dari penjual sate, bakso, ketupat gulai,  rumah makan dan bahkan di warung biasa, penganan satu ini selalu ada. Ukurannya pun bera­gam, mulai dari seukuran ruas ibu jari hingga selebar telapak tangan orang dewasa.

Baca Juga : Jakarta Masuk dalam Daftar Kota Termahal Dunia, Ini Penyebabnya

Selain gurih dan renyah, keru­puk jangek juga terasa nikmat disantap sebagai camilan. Bagi penikmat kuliner, penganan yang satu ini adalah pelengkap utama dalam memanjakan lidah dengan makanan yang sedang dinik­mati­nya. Bahkan bagi sebagian orang, rasanya belum makan belum leng­kap tanpa mengunyah keru­puk jangek yang dipercaya kaya man­faat dan dapat mengobati penyakit maag ini.

Mungkin bagi kebanyakan orang, kerupuk kulit atau keru­puk jangek menjadi bagian dari menu penikmat makanannya. Tetapi bagi  Meri Dahana Putra (49) dan istrinya Lisa Novela (43), warga Jorong Panyalai Nagari Cupak Kecamatan Gu­nung Talang, keru­puk jangek merupakan sum­ber pendapatan keluarga yang mampu meng­hasilkan omzet jutaan Rupiah perminggu.

Baca Juga : Kabar Baik! Jaringan di Wilayah Sumatera akan Ditingkatkan Selama Ramadan

Modal Awal Hanya Rp300 Ribu

Usaha yang digelutinya sejak tahun 1994 silam ini, berawal ketika Meri pulang dari peran­tauan. Selama setahun hidup di kampung, peluang usaha kerupuk jangek yang sudah digeluti oleh beberapa orang masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, mena­rik minat keluarga muda ini.

Baca Juga : Maksimalkan Pengalaman Aktivitas Digital di Momen Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah

“Awalnya hanya coba-coba saja. Namun melihat peluang pasar yang ada, kemudian kami tertarik untuk menekuni lebih jauh,” kenang Meri yang biasa disapa warga sekitar dengan panggilan “Mak Aji” ini.

Ilmu mengolah kulit ini di­per­­oleh Meri, dengan belajar kepada salah seorang pengusaha kerupuk jangek di Kota Pe­kan­baru, Riau. Berbekal kete­ram­pilan itu  dan uang Rp300.­000, Mery kemudian memulai usahanya.

Baca Juga : Resep Kolak Pisang Tanpa Santan, Cocok untuk Berbuka Puasa

“Waktu itu, uang sebesar Rp300.­000 itu nilainya banyak,” kenang Meri.

Seiring berjalannya waktu, maka pada 1998, saat terjadi gejo­lak ekonomi dan krisis moneter, usaha kerupuk jangek Meri pun mengalami pasang surut. Harga barang yang melonjak tinggi ka­rena bangsa ini mengalami resesi ekonomi, memaksa Meri meng­hentikan usahanya. Tetapi dia tak menyerah. Dengan modal uang sekitar Rp7 jutaan, pada tahun 1999 Meri kembali memulai usa­ha­nya dengan dibantu Yosmar (39), kerabat dekatnya yang kini telah menjadi orang keperca­yaan­nya dalam mengembangkan usaha kerupuk jangek.

Sejak saat itu, usaha kerupuk jangek yang pada tahun  2000 diberi nama Shelyn itu mulai berkembang pesat, dengan merambah pasar di sejumlah daerah di Sumbar seperti Solok, Solok Selatan, Tanah Datar dan Sijunjung.  Pemberian nama Shelyn itu sendiri diambil dari nama putri ketiga pasangan ini yang lahir pada tahun itu.

Pertahankan Mutu dan Rasa

Bertahan dengan kwalitas/mutu dan rasa berkat bumbu racikan  yang telah dieksplorasi dari pengalaman, menjadikan kerupuk jangek Shelyn tetap bertahan dan berkembang hingga kini. Bahkan jaringan pema­saran­nya telah merambah hingga ke provinsi tetangga, Jambi dan Pekanbaru. Sedangkan untuk daerah Sumbar, selain dipasarkan pada daerah yang sudah menjadi langganan, Meri juga membuka jaringan baru ke beberapa daerah lainnya, seperti Pesisir Selatan, Pasaman dan  Dharmasraya.

Menjaga ciri khas rasa dan citarasa yang tetap gurih dan renyah menjadi visi yang wajib dijaga. Khusus untuk kuliner (makanan) tentunya rasa adalah hal yang utama. Rasa enak, akan menjadikan daya tarik tersendiri bagi pembeli untuk berta­han. Rasa yang dimiliki oleh kerupuk jangek Shelyn pun berbeda dari kerupuk kulit kebanyakan yang terkadang masih menyisakan rasa amis/tengik khas kulit sapi/kerbau.

Semuanya tergantung kepada proses, mulai dari merebus kulit hingga menggoreng. Inilah yang membuat kerupuk Shelyn bisa tahan lama hingga 1 bulan, bah­kan untuk kerupuk latua (belum digoreng kembang), mampu ber­tahan hingga enam bulan bahkan lebih asalkan tetap dijaga dengan suhu tertentu.

“Inilah salah satu yang mem­buat pelanggan kita masih berta­han hingga kini,” terang Mak Aji.

Untuk proses itu, terang Meri, pihaknya mempercayakan kepa­da Yosmar untuk mengolah kulit mentah hingga selesai digoreng. Sementara untuk pro­ses pem­bungkusan hingga pen­jualan dan distribusi kepada pelanggan, pihaknya mem­berda­yakan kepada masyarakat sekitar.

Sementara dari segi kwalitas bahan baku, pihaknya menye­butkan, kwalitas kulit sapi dari segi rasa dan tekstur tetap yang terbaik. Sementara kulit kerbau lebih unggul dari segi kwantitas. Kini dengan bahan baku yang berasal dari sejumlah rumah potong hewan yang ada di Sum­bar,  usaha keru­puk kulit Shelyn telah mampu menghabiskan se­dikitnya 300 hingga 350 kg kulit mentah setiap minggunya, dengan omzet yang mencapai puluhan juta ru­piah per minggu.

Meri juga menjelaskan, keru­puk jangek yang biasa dipasarkan ke warung-warung biasanya  ada­lah ukuran kecil. Satu bungkus kecil itu berisi 6-7 biji kerupuk dengan harga Rp1.000 per bung­kus. Dalam 1 bungkus kecil itu, kata Meri, ada jatah ‘anak ngam­pas’ (pengecer) Rp200 dan untuk penjual di warung Rp200,.

“Dari harga Rp1000 per bung­­­kus itu, hanya Rp600,- untuk kita sebagai pemilik atau sekitar 60 persen, sisanya Rp400 adalah untuk petugas kampas dan penjual di warung,” bebernya.

Sedangkan untuk keru­puk jangek latua dijual Rp140.000 per kilogram. Untuk ukuran bung­kusnya, tergantung pesanan kon­sumen. Namun umumnya yang banyak peminat adalah ukuran kecil untuk konsumsi rumah tang­ga. Sementara ukuran bungkus, juga tergantung per­mintaan, ada yang isi ¼ kg , ½ kg dan ada juga yang isi 1 kg.

Dari segi penjualan, menjual kerupuk jangek latua lebih meng­un­tungkan ketimbang menjual kerupuk jadi. Karena selain he­mat waktu, dari segi biaya bahan baku seperti minyak goreng dan plastik pembungkus serta upah, juga lebih hemat.

“Namun karena pesanan le­bih banyak kerupuk yang siap saji, makanya lebih kita utamakan kerupuk jangek yang sudah digo­reng. Sedangkan kerupuk ja­ngek latua biasanya permintaan me­ningkat ketika bulan Ramadhan hingga  habis lebaran. Karena sering dijadikan sebagai oleh-oleh untuk teman atau kerabat ketika mudik balik,” terang bapak lima anak ini. (h/*)

 

Laporan:
YUTIS WANDI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]