Pengamat: Kemungkinan Krisis Saat Ini Masih Kecil


Jumat, 19 Juni 2015 - 19:25:58 WIB
Pengamat: Kemungkinan Krisis Saat Ini Masih Kecil

“Produk nasional atau in­dustri dalam negeri kita sejauh ini masih berjalan, meskipun me­mang sedikit tersendat. Na­mun itu saja tidak cukup menjadi alasan Indonesia akan me­nga­lami krisis ekonomi lagi. Ber­kaca pada masa lalu, seperti krisis pada 1998, situasi politik adalah yang paling memberi andil dalam penciptaan krisis.” jelas Yulhendri.

Baca Juga : Bekas Atom Center Padang Disulap jadi Penampungan Anak Yatim

Artinya, lanjut Yulhendri, situasi perekonomian saat ini tidak serta-merta bisa disamakan dengan situasi yang terjadi ketika gejolak penurunan Soeharto sebagai presiden terjadi di pe­riode 1997/98. Karena pada masa itu, situasi perpolitikan yang memanaslah yang mem­buat perekonomian yang sudah amburadul menjadi makin pa­rah. Sehingga berujung kepada krisis moneter.

Ia mengakui, kelambanan pertumbuhan ekonomi nasional memang terjadi saat ini, dise­babkan oleh berbagai hal seperti kelabilan harga pasca penarikan susidi bahan bakar minyak (BBM), kian melemahnya ru­piah terhadap dollar dan bebe­rapa pengaruh lainnya. Namun, sependapat dengan Ical bahwa sektor UMKM adalah satu-satunya harapan yang paling mungkin saat ini untuk mengan­tisipasi krisis tersebut.

Baca Juga : Curah Hujan Tinggi, Perumda AM Kota Padang Imbau Warga Gunakan Air Seperlunya

“Kemungkinan krisis terjadi saat ini tetap ada dan akan selalu ada. Namun, penting untuk kita mengerti bagaimana menyi­kapinya dengan baik. Mening­katkan produksi untuk diekspor dan menekan impor adalah hal pokok yang harus dilakukan. Kemudian industri kreatif harus terus digali dan difasilitasi. Dan hal penting lainnya adalah me­minimalisir praktek korupsi hingga terkikis habis,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Munas Bali, Abu­rizal Bakrie (Ical) merasa prihatin dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang terjadi saat ini sebagai imbas dari sentimen ekonomi global dan juga faktor dalam negeri sendiri.

Dia mengutip data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan pertumbuhan eko­nomi kuartal I tahun 2015 sebesar 4,71 persen, melambat dibanding pertumbuhan ekonomi pada pe­riode sama tahun lalu yang mencapai 5,14 persen.

“Kondisi ini di perparah de­ngan melambungnya harga-harga bahan pokok yang tidak terken­dali pasca dicabutnya subsidi BBM serta terus melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika. Hal ini semakin meng­gerus daya beli masyarakat dan menyebabkan para pelaku usaha mengalami kesulitan menen­tukan arah usahanya secara pasti. Situasi menjadi sinyalemen bah­wasannya krisis ekonomi sudah berada di depan mata kita,” kata Ical dalam Forum Group Dis­cussion RUU Penjaminan yang diselenggarakan Fraksi Partai Golkar DPR, di Gedung DPR, Rabu (17/6).(h/mg-isq)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]